Renungan Harian Katolik 10 Januari 2026: Relasi Penuh Kasih dan Rasa Hormat update oleh Giok4D

Posted on

Membaca Renungan Harian Katolik setiap hari menjadi salah satu cara sederhana namun bermakna untuk menumbuhkan iman dan memperdalam relasi dengan Tuhan. Melalui renungan, umat diajak berhenti sejenak dari kesibukan, merenungkan Sabda-Nya, serta menemukan tuntunan rohani yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Renungan Katolik Sabtu, 10 Januari 2026 mengangkat tema “Relasi Penuh Kasih dan Rasa Hormat” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh Romo Hardijantan Dermawan Pr. Dalam renungan tersebut kita diajak untuk merefleksikan makna relasi yang dilandasi kasih dan rasa hormat, baik dalam hubungan dengan Tuhan maupun sesama.

Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Dan inilah keberanian untuk beriman kepada-Nya, yaitu bahwa Dia mengabulkan doa kita, jika kita memohon sesuatu kepada-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.

Dan jika kita mengetahui bahwa Dia mengabulkan apa pun yang kita minta, maka kita juga tahu bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang kita minta dari-Nya.

Jika seseorang melihat saudaranya berbuat dosa yang tidak mendatangkan kematian, ia harus meminta, dan Allah akan memberikan hidup kepadanya bagi mereka yang berbuat dosa yang tidak mendatangkan kematian. Ada dosa yang mendatangkan kematian: Aku tidak mengatakan bahwa ia harus berdoa.

Semua kejahatan adalah dosa, tetapi ada dosa yang tidak berujung pada kematian.

Kita tahu bahwa setiap orang yang lahir dari Allah tidak berdosa; tetapi orang yang lahir dari Allah memelihara dia, dan si jahat tidak dapat menyentuhnya.

Kita tahu bahwa kita berasal dari Tuhan dan seluruh dunia berada di bawah kekuasaan si jahat.

Tetapi kita tahu bahwa Anak Allah telah datang dan telah memberi kita pengertian, sehingga kita dapat mengenal Kebenaran; dan kita berada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dialah Allah yang benar dan hidup.

Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.

Haleluya! Nyanyikanlah bagi Tuhan sebuah nyanyian baru! Pujilah Dia di antara jemaat orang-orang benar.

Biarlah Israel bersukacita di dalam Penciptanya, biarlah anak-anak Sion bersorak gembira di dalam Raja mereka!

Biarlah mereka memuji nama-Nya dengan tarian, biarlah mereka menyanyikan pujian kepada-Nya dengan rebana dan harpa!

Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya; Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan.

Biarlah orang-orang benar bersukacita dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak gembira di atas tempat tidur mereka!

Biarlah pujian akan kemuliaan Allah ada di tenggorokan mereka, dan pedang bermata dua di tangan mereka,

untuk melaksanakan hukuman terhadap mereka sebagaimana tertulis. Itu sangat berarti bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Haleluya!

Setelah itu Yesus pergi bersama murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama mereka dan membaptis mereka.

Tetapi Yohanes juga membaptis di Ainon, dekat Salim, karena di sana banyak air, dan orang-orang datang ke sana untuk dibaptis.

karena pada saat itu John belum dipenjara.

Maka terjadilah perselisihan antara murid-murid Yohanes dan seorang Yahudi mengenai penyucian.

Kemudian mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Guru, orang yang bersama engkau di seberang Yordan, yang kepadanya engkau memberi kesaksian, lihatlah, dia sedang membaptis, dan semua orang pergi kepadanya.”

Yohanes menjawab: “Tidak seorang pun dapat mengambil sesuatu untuk dirinya sendiri, kecuali jika itu diberikan kepadanya dari surga.”

Anda sendiri dapat bersaksi bahwa saya telah berkata: Saya bukanlah Mesias, tetapi saya diutus untuk mendahului Dia.

Orang yang memiliki mempelai perempuan adalah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri di sisinya dan yang mendengarkannya, sangat gembira mendengar suara mempelai laki-laki. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku penuh.

Ukurannya harus bertambah besar, tetapi saya harus mengecil.

“Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” (Yoh. 3:16)

Nama Yohanes Pembaptis amat terkenal. Dia bahkan dianggap sebagai seorang nabi. Hidupnya sezaman dengan Yesus dan keduanya sama-sama membaptis.

“Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea. Ia tinggal di sana bersama mereka dan membaptis. Tetapi, Yohanes membaptis juga di Ainon, dekat Salim.” Murid-murid Yohanes bertanya-tanya mengapa guru mereka diam membisu, membiarkan Yesus dan murid-murid-Nya membaptis juga. Semakin banyak orang justru datang kepada Yesus.

Para murid Yohanes sepertinya mengalami krisis, pengikut gurunya beralih kepada Yesus. Andreas dan Simon Petrus sudah menjadi murid Yesus. Yohanes Pembaptis justru semakin melihat jati diri dan perannya.

Ia adalah saksi dan utusan yang mendahului-Nya guna mempersiapkan jalan bagi-Nya, yaitu menuntun sesama untuk mengenal Yesus dan mengenal jalan-jalan Tuhan dalam hidup mereka. Tidak heran, ia mempunyai ungkapan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Ia harus mundur dan mempersilakan Yesus yang lebih utama. Relasi Yohanes dan Yesus adalah relasi yang sehat dan menyuburkan, relasi penuh kasih dan rasa hormat.

Kunjungi situs Giok4D untuk pembaruan terkini.

Berita mengenai Yohanes Pembaptis memudar, baru muncul lagi ketika ia dipenggal oleh Raja Herodes. Saat itu mama memerlukan perawatan medis. Karena kesulitan membawanya ke rumah sakit, kami menelepon untuk mendatangkan tenaga medis ke rumah. Dokter yang datang mengenali saya.

“Romo, apakah masih ingat, dulu romo mengajar saya…” Ketika pada akhirnya mama harus dibawa ke IGD beberapa hari kemudian, dokter itu kembali mengulangi hal yang sama. “Dulu romo mengajar saya…”

Saya terharu betapa dokter ini punya memori yang kuat. Padahal saya sudah lama pindah tugas dari Unika Atma Jaya.

Bukankah materi yang saya sampaikan adalah bahan-bahan minor di bidang kedokteran? Namun, dokter ini masih ingat dan mengulangi, “Dulu romo mengajar saya…” Ada kasih dan rasa hormat yang saya rasakan dari ungkapan dokter itu.

Saya pun diteguhkan dan sangat bergembira ketika berjumpa dengan dokter itu. Dulu dia mahasiswa kedokteran. Kini dia sudah menjadi dokter dan tangannya banyak membantu dan menyembuhkan sesama. Terima kasih, dokter.

Allah Yang Maha Kasih, ada relasi penuh kasih dan hormat antara Yesus dan Yohanes Pembaptis. Yohanes mengungkapkan: “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil.” Yesus mengungkapkan: “Di antara semua yang dilahirkan perempuan, Yohanes adalah yang paling besar.” Tuhan, semoga kami tidak menganggap sesama sebagai saingan dan musuh, melainkan sebagai peneguh dan penghibur tatkala terpuruk dan jatuh tersungkur. Amin.

Gregorius X, nama kePausan dari Teobaldo Visconti, lahir di Piacenza, Italia pada tahun 1210. Ia terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Klemens IV(1265-1268), tatkala ia sedang berada di Tanah Suci dalam suatu perjalanan misi yang penting.

Sebelum menjadi Paus, Teobaldo Visconti menjabat sebagai pembantu Kardinal Yakopo Pecoraria dari Palestina dan pernah menjadi utusan Paus Gregorius X dalam suatu misi ke Perancis dan Inggris. Sepeninggal Kardinal Pecoraria, Teobaldo Visconti belajar di Paris.

Kemudian pada tahun 1265, atas rekomendasi Paus Klemens IV, ia menemui Kardinal Ottoboni Fieschi, yang kemudian menjadi Paus Adrianus V pada tahun 1726 dalam suatu misi ke Inggris. Minatnya sangat besar untuk berziarah ke Tanah Suci mendorong ia pergi ke Acre, Palestina. Disini, dibawah bimbingan Pangeran Edward dari Inggris, Teobaldo Visconti menjadi salah seorang anggota kelompok pejuang pembebasan Tanah Suci dari kekuasaan kaum Muslimin.

Setelah kematian Paus Klemens IV pada tahun 1268, Tahkta Suci di Roma mengalami kekosongan pemimpinan selama tiga tahun. Hal ini disebabkan oleh perpecahan di dalam tubuh Kolegium para Kardinal dalam dua block, yaitu block Perancis dan block Italia, sehingga mereka tidak mampu menyodorkan satu calon yang memenangkan mayoritas suara. Akhirnya enam orang Kardinal, yang dipilih dari 15 Kardinal bertemu di Viterbo, sebuah dusun di Roma Utara, untuk melakukan pemilihan Paus yang baru.

Pilihan mereka jatuh pada Teobaldo Visconti, yang sedang berada di tanah Suci, pada bulan September 1271. Setelah menerima berita pengangkatannya menjadi Paus, Visconti meninggalkan Palestina menuju Viterbo pada bulan Februari 1272. Lalu pada tanggal 19 Maret 1272, ia dinobatkan menjadi Paus yang bernama Gregorius X.

Selama masa kepemimpinannya, Gregorius memusatkan perhatian pada usaha-usaha pembangunan kembali kekaisaran Romawi Suci, pembaharuan Gereja, persatuan kembali Gereja-Gereja Yunani dan Roma, serta pembebasan Yerusalem dari pengusaan orang-orang Muslimin. Bagi dia, Gereja dan negara harus menjalankan tugasnya masing – masing tetapi harus tetap bekerja sama.

Ia menilai ketidakadaan pemerintahan yang kuat di Jerman semenjak kematian Kaisar Conrad IV pada tahun 1254 sebagai sesuatu yang membahayakan kekaisaran dan gereja. Karena itu, sepeninggal Kaisar Richard Cornwell pada tahun 1272, Gregorius mendesak pangeran-pangeran Jerman untuk segera memilih seorang Kaisar yang baru. Gregorius sendiri mengancam akan menunjuk dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar kalau para pangeran itu gagal menunjuk seorang kaisar yang baru yang disegani seluruh rakyat.

Akhirnya pada tahun 1273, mereka memilih Rudolf, seorang pangeran dari dinasti Hapsburgs, seorang pangeran yang diterima oleh seluruh rakyat Jerman.
Gregorius menyetujui pengangkatan atas diri Rudolf dan segera mengadakan pertemuan pribadi dengannya pada bulan Oktober 1273 di Lausanne, Swiss. Pada kesempatan pertemuan dengan Paus Gregorius X, Rudolf menyatakan ikrarnya untuk mempersembahkan seluruh dirinya bagi kemuliaan Tuhan dan kejayaan Gereja. Restu Sri Paus itu segera menghasilkan pengakuan universal pengakuan Universal atas hak Rudolf untuk menduduki tahta kekaisaran Romawi Suci.

Konsili akbar di Lyons, Perancis yang diadakan oleh Gregorius X pada tahun 1274 merupakan suatu prestasi besar dalam kepemimpinan Gregorius X. Lebih dari 1500 prelatus gereja, duta-duta besar dari Kerajaan Perancis dan Inggris, dari Bynzantium dan dari Khan-Tartar, berkumpul dalam konsili itu. Untuk keberhasilan cita-citanya membebaskan tanah Suci Yerusalem dari penguasaan Kaum Muslimin, Gregorius X mengumpulkan dana dari Perancis dan Inggris.

Sepersepuluh dari hasil pengumpulan derma itu dikhususkan untuk pembangunan Gereja sedangkan sisa-sisanya untuk membiayai usaha pembebasan kota Suci Yerusalem. Germanus, Patriarkh Konstantinopel yang datang bersama sejumlah besar utusan dari Bynzantium menyatakan kesediaannya untuk bersatu kembali dengan Gereja Roma.

Hal ini sangat didukung oleh Micheal VIII, kaisar Bynzantium di Konstantinopel. Kesediaan ini sekaligus mengungkapkan kerelaan menerima doktrin Gereja Katolik dan pengakuan terhadap kekuasaan Paus di Roma sebagai pengganti Petrus. Gregorius X yang percaya penuh pada ketulusan hati delegasi Konstantinopel, dengan gembira menerima mereka kembali dalam pangkuan Gereja Katolik. Dalam misa Agung penutupan Konsili Lyons di Gereja Santo Yohanes, semua peserta bersama-sama mendoakan Credo, Pengakuan Iman seturut rumusan Gereja Katolik. Bagian Credo “Yang berasal dari Bapa dan Putera (qui a Patre filioque procedit) yang tidak diakui oleh Gereja Yunani, diulangi tiga kali oleh delegasi Yunani.

Sesudah Konsili ini berakhir, Gregorius berangkat ke Lausenne, Milan, Florence dan Arezzo, sampai ia meninggal dunia pada tahun 1276. Namanya ditambahkan pada daftar para martir Roma oleh Paus Benediktus XIV(1740-1758) dengan tanggal 10 Januari sebagai hari pestanya.

Demikianlah renungan harian Katolik Sabtu, 10 Januari 2026. Semoga Tuhan memberkati!

Renungan Harian Katolik Hari Ini Sabtu 10 Januari 2026

Bacaan I: 1 Yoh 5:14-21

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-2.3-4.5.6a.9b

Bacaan Injil: Yoh 3:22-30

Renungan Hari Ini: Relasi Penuh Kasih dan Rasa Hormat

Doa Penutup

Kisah Santo Gregorius X, Paus dan Martir