Perbaikan Jalan Perintis Makassar Dianggap Minim Perencanaan-Pengawasan

Posted on

Dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin (Unhas) Ardy Arsyad menyoroti minimnya perencanaan hingga pengawasan proyek rehabilitasi Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ardy menganggap faktor hujan tidak bisa dijadikan alasan yang memicu ruas jalan itu gampang rusak meski baru diaspal.

“Jadi memang tantangannya kalau kita melaksanakan pekerjaan jalan itu, khususnya pengaspalan di musim hujan itu kan memang kontrol kualitasnya harus maksimal,” kata Ardy kepada infoSulsel, Rabu (14/1/2026).

Ardy menyebut pengaspalan tetap memungkinkan dilakukan pada musim hujan. Namun, harus memperhatikan limpasan air agar tidak mempengaruhi kualitas lapisan aspal lama dengan baru.

“Tetapi harus dilaksanakan dengan betul-betul memperhatikan, pertama masalah limpasan air pada saat pengaspalan itu apakah di lapisan aspal yang lama itu kering atau tidak,” katanya.

Namun jika ruas jalan yang hendak diperbaiki sudah terlanjur basah, pengaspalan baiknya ditunda dan tidak dipaksakan. Ardy menegaskan Aspal tidak akan mengikat di lapisan jalan.

“Kalau misalnya kondisi basah yah, lawannya aspal itu kan air, jadi dia tidak bisa mengikat. Begitu ada air, aspal pecah,” ucap Ardy.

Faktor temperatur aspal juga menjadi penentu kualitas. Menurut Ardy, hujan yang turun saat proses penghamparan dapat menurunkan temperatur material secara drastis.

“Begitu hujan dia turun kemudian dipaksakan untuk mengaspalnya yah kualitasnya tidak tercapai lagi,” sambungnya.

Dia menegaskan, musim hujan tidak bisa dijadikan alasan utama atas kerusakan jalan. Jika pelaksanaan pekerjaan sudah diketahui berlangsung pada periode hujan, maka metode kerja dan pengendalian kualitas seharusnya disiapkan lebih matang.

“Justru kalau memang tahu bahwa pelaksanaannya itu pas di musim hujan ya harus dengan persiapan dan pengendalian. Pengendalian kualitas material di lapangan,” tutur Ardy.

Ardy juga menyoroti pengawasan proyek tersebut. Semestinya, kata Ardy, pengawas proyek harus tegas dengan melarang pengaspalan saat hujan.

“Pengawas (proyek) juga harus tegas, kalau hujan jangan dihampar. Tolak materialnya. Itu artinya metode pelaksanaannya tidak bagus, jadi kembali lagi ke kualitas pekerjaan. Saya juga kaget kok ini jalanan baru dikerja sudah lubang-lubang, terhambur,” terangnya.

Ardy menilai proyek rehabilitasi Jalan Perintis Kemerdekaan yang sepaket dengan Jalan Urip Sumoharjo Makassar itu terkesan dipaksakan untuk selesai dikerjakan akhir tahun. Padahal proyek bisa ditunda asal hasilnya maksimal.

“Sudah jadi rahasia umum anggaran turun akhir tahun, tapi kan tidak mesti dipaksakan dikejar pengerjaannya. Lebih baik lompat anggarannya dari pada begini, jangan karena mau habis waktu ditancap gas, tidak boleh begitu, ini uang rakyat kasihan,” imbuhnya.

Sebelumnya diberitakan, kontraktor dari PT Mareraya Multipratama Jaya mengaku Jalan Perintis Kemerdekaan yang baru diaspal mengalami kerusakan karena dipengaruhi hujan. Faktor cuaca itu ikut mempengaruhi masa kerja pelaksanaan proyek yang sepaket dengan rehabilitasi Jalan Urip Sumoharjo tersebut.

“Kerusakan itu banyak dipengaruhi faktor cuaca karena hujan. Karena kita terbatas waktu kerja hanya Jam 11.00 malam sampai pagi,” kata Koordinator Pelaksanaan dari PT Mareraya Multipratama Jaya Muhammad Arsyad kepada infoSulsel, Rabu (14/1).

Situasi tersebut membuat masa pengerjaan semakin terbatas hingga mempengaruhi kualitas proyek rehabilitasi jalan tersebut. Kontraktor juga tidak bisa melakukan pengerjaan saat pagi hari karena pertimbangan kondisi arus lalu lintas.

“Jadi kalau sudah ada hujan dalam kurun waktu itu, setengah mati, pasti berkurang kualitas. Karena pasti kadang kita paksakan karena tidak bisa mengaspal setelah pagi, macet. Waktunya terbatas,” jelasnya.