Mimpi Hawatiah (58) menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), akhirnya terwujud sekalipun singkat. Hawatiah memasuki masa pensiunnya sesaat setelah dilantik bupati.
Hawatiah adalah kader Sub Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (PPKBD) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Gowa. Dia dilantik bersama ribuan PPPK Paruh Waktu lainnya di Lapangan Sultan Hasanuddin, Gowa, Senin (5/1).
Namun, kebahagiaan Hawatiah hanya sekejap. Sebab, ia langsung pensiun usai menerima SK pengangkatan PPPK Paruh Waktu.
“Tetap sangat bahagia saya bisa dilantik, tapi setelah itu sedih karena tidak menikmati (karena pensiun),” kata Hawatiah kepada infoSulsel, Jumat (9/1/2026).
Hawatiah dinyatakan lolos sebagai PPPK Paruh Waktu usai namanya tercatat dalam database Badan Kepegawaian Negara (BKN). Dia sebenarnya sudah pensiun terhitung mulai 31 Desember 2025, namun tetap diundang untuk mengikuti pelantikan.
“Karena di undangan pelantikan, itu ada nama saya, jadi saya ikut,” ungkapnya.
Usai pelantikan, Pemkab Gowa memberikan uang senilai Rp 1 juta sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya hingga pensiun. Dia mengaku tidak mengetahui secara pasti bentuk penghargaan tersebut.
“Saya kurang tahu sebagai tanda terima kasih atau apa yang jelasnya saya diserahkan sama Pak Kadis saya yang senilai Rp 1 juta itu,” katanya.
Hawatiah bercerita sudah mengabdi sejak tahun 2000 sebagai kader BKKBN. Tugasnya mendata berbagai persoalan keluarga, mulai dari program KB, bayi dan balita, ibu hamil, hingga calon pengantin.
“Mendata masalah KB, bayi balita, orang hamil, calon pengantin. Pokoknya yang terkait keluarga,” ujarnya.
Dia menjalankan tugas di wilayah RW 10, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, dengan cakupan satu RW dan empat RT. Selama bekerja, Hawatiah mengaku tidak rutin ke kantor, pertemuan hanya dilakukan secara bulanan di rumah kader BKKBN secara bergiliran.
“Nanti ada pertemuan baru ke kantor,” tuturnya.
Pertemuan rutin para kader digelar sebulan sekali di tingkat kelurahan dan dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Selain rapat, kebersamaan mereka juga terjalin lewat arisan sederhana.
“Bergilir karena bentuk arisan teman-teman, jadi di mana naik arisannya di situ lagi ngumpul,” ujar dia.
Selama 25 tahun mengabdi, honor yang diterima Hawatiah terbilang sangat kecil. Terakhir, dia hanya menerima Rp 150 ribu per bulan, itupun dibayarkan secara rapel.
“Terakhir Rp 150 ribu. Biasa dirapel 3 bulan atau 2 bulan,” ujarnya.
Nominal honornya itu naik perlahan selama bertahun-tahun. Kendati demikian, dia sudah lupa nominal gaji pertamanya saat bekerja.
“Saya tidak ingat (gaji pertama), lama sekali. Sedangkan ini saja baru Rp 150 ribu. Sebelumnya pernah Rp 50 ribu, terus Rp 75 ribu, kemudian naik Rp 100 ribu. Ini yang Rp 150 baru sekitar 3 tahun,” katanya.
Meski menerima gaji honor kecil, Hawatiah tetap bersyukur. Baginya, menjadi kader BKKBN merupakan aktivitas yang berkesan.
Hawatiah kini tinggal bersama anak tertua dan anak bungsunya. Ia memiliki empat anak dan lima cucu. Suaminya telah meninggal dunia tiga tahun lalu.
“Sudah meninggal 3 tahun lalu, dia juga itu honor di (Dinas) Capil,” ujarnya.
Meski telah pensiun, Hawatiah tidak ingin berhenti dari aktivitasnya mendata masalah keluarga di sekitar lingkungannya. Dia kembali diminta membantu pendataan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Gowa.
“Sekarang menjaga cucu, tapi tetap masuk lagi jadi kader, kembali lagi mendata disuruh sama Pak Kadis kembali lagi mendata seperti biasa,” katanya.
Selain sebagai kader BKKBN, Hawatiah juga pernah menjabat sebagai ketua RT selama kurang lebih 20 tahun hingga 2024. Di usia senjanya, Hawatiah tetap memilih terus mengabdi melayani warga meski dengan honor kecil.
“Masalahnya bagus saya rasa kalau ngumpul. Masih semangat ingin bekerja di samping banyak teman dan pengamalan,” ujar Hawatiah.
Hawatiah bercerita sudah mengabdi sejak tahun 2000 sebagai kader BKKBN. Tugasnya mendata berbagai persoalan keluarga, mulai dari program KB, bayi dan balita, ibu hamil, hingga calon pengantin.
“Mendata masalah KB, bayi balita, orang hamil, calon pengantin. Pokoknya yang terkait keluarga,” ujarnya.
Dia menjalankan tugas di wilayah RW 10, Kelurahan Paccinongan, Kecamatan Somba Opu, dengan cakupan satu RW dan empat RT. Selama bekerja, Hawatiah mengaku tidak rutin ke kantor, pertemuan hanya dilakukan secara bulanan di rumah kader BKKBN secara bergiliran.
“Nanti ada pertemuan baru ke kantor,” tuturnya.
Pertemuan rutin para kader digelar sebulan sekali di tingkat kelurahan dan dilakukan secara bergilir dari rumah ke rumah. Selain rapat, kebersamaan mereka juga terjalin lewat arisan sederhana.
“Bergilir karena bentuk arisan teman-teman, jadi di mana naik arisannya di situ lagi ngumpul,” ujar dia.
Selama 25 tahun mengabdi, honor yang diterima Hawatiah terbilang sangat kecil. Terakhir, dia hanya menerima Rp 150 ribu per bulan, itupun dibayarkan secara rapel.
“Terakhir Rp 150 ribu. Biasa dirapel 3 bulan atau 2 bulan,” ujarnya.
Nominal honornya itu naik perlahan selama bertahun-tahun. Kendati demikian, dia sudah lupa nominal gaji pertamanya saat bekerja.
“Saya tidak ingat (gaji pertama), lama sekali. Sedangkan ini saja baru Rp 150 ribu. Sebelumnya pernah Rp 50 ribu, terus Rp 75 ribu, kemudian naik Rp 100 ribu. Ini yang Rp 150 baru sekitar 3 tahun,” katanya.
Meski menerima gaji honor kecil, Hawatiah tetap bersyukur. Baginya, menjadi kader BKKBN merupakan aktivitas yang berkesan.
Hawatiah kini tinggal bersama anak tertua dan anak bungsunya. Ia memiliki empat anak dan lima cucu. Suaminya telah meninggal dunia tiga tahun lalu.
“Sudah meninggal 3 tahun lalu, dia juga itu honor di (Dinas) Capil,” ujarnya.
Meski telah pensiun, Hawatiah tidak ingin berhenti dari aktivitasnya mendata masalah keluarga di sekitar lingkungannya. Dia kembali diminta membantu pendataan oleh Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Gowa.
“Sekarang menjaga cucu, tapi tetap masuk lagi jadi kader, kembali lagi mendata disuruh sama Pak Kadis kembali lagi mendata seperti biasa,” katanya.
Selain sebagai kader BKKBN, Hawatiah juga pernah menjabat sebagai ketua RT selama kurang lebih 20 tahun hingga 2024. Di usia senjanya, Hawatiah tetap memilih terus mengabdi melayani warga meski dengan honor kecil.
“Masalahnya bagus saya rasa kalau ngumpul. Masih semangat ingin bekerja di samping banyak teman dan pengamalan,” ujar Hawatiah.
