Alumni Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Ayu Amanda Putri (26) yang namanya berubah dan digantikan orang lain di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), telah kembali dipulihkan. Namun persoalan tersebut masih menyisakan tanda tanya lantaran penyebab data alumni keliru dan oknum yang melakukan perubahan data belum jelas.
Persoalan ini bermula saat data alumni Teknik Sipil UHO Kendari angkatan 2017 tersebut berubah menjadi atas nama Basri di PDDikti pada 2022. Situasi ini mengakibatkan ijazah milik Ayu berstatus nonaktif alias tidak terbaca dalam sistem PDDikti.
“Basri itu sudah menikmati ijazah saya dengan namanya. Ijazah saya di rumah hanya selembar kertas yang sia-sia selama 4 tahun kuliah,” ungkap Ayu kepada infocom, Selasa (30/12/2025).
Ayu mengaku baru mengetahui datanya berubah berdasarkan informasi dari temannya yang mengalami kondisi serupa pada 2023. Dia pun mengurus berkas perbaikan data dan menitipkan kepada temannya untuk disetorkan ke kampus.
“Berkas sudah saya titip, tapi prosesnya mondar-mandir, dilempar ke sana-sini oleh rektorat,” ujar Ayu.
Menurut Ayu, data temannya saat itu berhasil diperbaiki usai menemukan orang yang menggantikan namanya di PDDikti. Sementara berkas Ayu terhambat karena sosok Basri yang menggantikannya di sistem tidak diketahui.
“Nama saya diganti dengan nama Basri. Saya tidak tahu harus cari ke mana, berbeda dengan teman lain yang tahu karena nama penggantinya tercantum lengkap,” sebut Ayu.
Akhirnya Ayu memutuskan memviralkan kejadian yang menimpanya setelah menunggu tanpa kepastian. Ayu mengaku kecewa karena merasa UHO Kendari lamban memproses pembenahan datanya.
“Katanya tinggal menunggu, (tetapi) dari tahun 2023 tapi sampai sekarang tidak ada perubahan. Saya kecewa dengan kampus, makanya saya viralkan,” imbuhnya.
Setelah persoalan tersebut viral di media sosial, UHO Kendari menyampaikan data milik Ayu di PDDikti sudah kembali pada Selasa (30/12/2025). Ayu telah melakukan pengecekan dan membenarkan namanya kembali tercantum di PDDikti.
“Semua kembali normal. Kemarin juga pak rektor sebelum magrib menelepon ke saya dan menyampaikan kalau nama saya sudah benar-benar terganti,” ucap Ayu saat dihubungi, Rabu (31/12).
Ayu pun mengapresiasi pihak kampus yang membantu pengurusan meski telah menunggu dua tahun terakhir sejak melapor. UHO Kendari juga mengkonfirmasi pemulihan data milik alumninya sudah selesai.
“Alhamdulillah di PDDikti sudah terdaftar kembali. Tanpa mengurangi rasa hormat, kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu meluruskan dan memperbaiki kesalahan data ini,” kata Plt Rektor UHO Kendari Herman kepada wartawan, Rabu (31/12).
Kekeliruan data milik Ayu memang sudah selesai, namun akar masalah belum sepenuhnya rampung. UHO Kendari mengaku tidak mengetahui penyebab pasti data alumninya bisa berubah dalam sistem.
“Kami sudah sampaikan ini bukan cuma persoalan Ayu saja, tapi kita sudah mitigasi. Bisa saja akun-akun kita ini, server kita diretas,” ungkap Herman.
Herman mengatakan, data alumni berubah pada 22 Juni 2022 atau setelah Ayu diwisuda. Dia menduga data Ayu berubah setelah ada aktivitas sejumlah akun yang mengakses sistem kampus dan PDDikti secara ilegal.
“Seharusnya pengajuan data mahasiswa itu hanya satu akun milik UHO, tapi ternyata ada 4 akun semua, 3 akun itu kami tidak tahu sama sekali,” tuturnya.
Herman tidak bisa memastikan oknum bertanggung mengubah data alumni di PDDikti. Dari hasil pemeriksaan internal, perubahan itu tidak dilakukan melalui akun resmi kampus.
“Kami mencoba melihat bahwa siapa yang usulkan perubahan itu ternyata menurut catatan kami yang merubah itu tidak melalui akun UHO Kendari, dan bukan juga dari akun PDDikti,” terangnya.
UHO Kendari juga belum memastikan sosok misterius bernama Basri yang sempat menggantikan nama Ayu di sistem PDDikti. Dari hasil penelusuran kampus, Basri bukan lulusan kampus atau alumni Teknik Sipil angkatan 2017.
“Si Basri ini setelah kita tracking dari data mahasiswa teknik angkatan 2017, tidak ada nama Basri,” tutur Basri.
Kendati begitu, dia mengimbau agar alumni bernama Basri bisa inisiatif melapor ke kampus. UHO Kendari sempat terkendala mengurus pembenahan data di PDDikti lantaran sosok Basri itu tidak diketahui.
“Jika ada nama Basri, lulusan Teknik Sipil angkatan 2017, kalau dia sudah bekerja di instansi pemerintah atau swasta, tolong disampaikan ke kita atau yang bersangkutan, dengan iktikad baik melapor ke kita,” terangnya.
Herman kembali mempertanyakan sosok Basri yang tidak jelas keberadaannya karena namanya tidak terdata dari hasil penelusuran internal kampus. Dia berharap kerja sama semua pihak agar persoalan ini bisa diusut tuntas.
“Supaya kita bisa klarifikasi apa motivasi dia untuk melakukan perubahan data itu atau bisa jadi siapa yang membantu atau memfasilitasi untuk mengubah datanya,” pungkas Herman.
Penyebab Data Alumni Berubah Belum Jelas
Herman tidak bisa memastikan oknum bertanggung mengubah data alumni di PDDikti. Dari hasil pemeriksaan internal, perubahan itu tidak dilakukan melalui akun resmi kampus.
“Kami mencoba melihat bahwa siapa yang usulkan perubahan itu ternyata menurut catatan kami yang merubah itu tidak melalui akun UHO Kendari, dan bukan juga dari akun PDDikti,” terangnya.
UHO Kendari juga belum memastikan sosok misterius bernama Basri yang sempat menggantikan nama Ayu di sistem PDDikti. Dari hasil penelusuran kampus, Basri bukan lulusan kampus atau alumni Teknik Sipil angkatan 2017.
“Si Basri ini setelah kita tracking dari data mahasiswa teknik angkatan 2017, tidak ada nama Basri,” tutur Basri.
Kendati begitu, dia mengimbau agar alumni bernama Basri bisa inisiatif melapor ke kampus. UHO Kendari sempat terkendala mengurus pembenahan data di PDDikti lantaran sosok Basri itu tidak diketahui.
“Jika ada nama Basri, lulusan Teknik Sipil angkatan 2017, kalau dia sudah bekerja di instansi pemerintah atau swasta, tolong disampaikan ke kita atau yang bersangkutan, dengan iktikad baik melapor ke kita,” terangnya.
Herman kembali mempertanyakan sosok Basri yang tidak jelas keberadaannya karena namanya tidak terdata dari hasil penelusuran internal kampus. Dia berharap kerja sama semua pihak agar persoalan ini bisa diusut tuntas.
“Supaya kita bisa klarifikasi apa motivasi dia untuk melakukan perubahan data itu atau bisa jadi siapa yang membantu atau memfasilitasi untuk mengubah datanya,” pungkas Herman.
