Warga Perumahan Green Kawangkoan Residence di Kabupaten (Minut), Sulawesi Utara (Sulsel), mengeluhkan aktivitas pabrik arang yang mencemari wilayah permukiman. Situasi itu mengakibatkan puluhan anak mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Peristiwa itu terjadi di kawasan perumahan yang berlokasi di Desa Kawangkoan, Kecamatan Kalawat, Minut. Lokasi pabrik arang tempurung itu berdekatan dengan wilayah permukiman hingga SD Inpres Kawangkoan.
“Anak saya baru keluar rumah sakit sejam yang lalu, masuk sejak tanggal 11 Januari setelah mengalami gangguan pernapasan akibat asap,” ucap salah satu warga, Jillystia Monoarfa kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).
Dia mengungkapkan, asap pabrik mengganggu aktivitas warga karena membuat rumah dipenuhi asap. Jillystia mengaku anaknya sampai harus mendapat bantuan oksigen saat dirawat di rumah sakit.
“Sudah puluhan anak dari ratusan warga yang tinggal disini terkena gangguan pernapasan,” bebernya.
Dia menegaskan, warga bukannya menolak keberadaan usaha tersebut. Warga hanya ingin ada solusi agar asap dari pabrik tidak sampai berdampak ke permukiman.
“Kami harap pemilik pabrik cari solusi, pindah lahan atau bagaimana agar tak lagi ada asap yang mencemari wilayah rumah kami,” harap Jillystia.
Warga lainnya, Feine Pongilatan juga mengaku anaknya sudah berkali-kali dirawat di rumah sakit karena gangguan pernapasan. Terakhir, anaknya sempat dirawat di rumah sakit selama dua hari.
“Anak saya selama kami tinggal di perumahan ini sudah 4 tahun, setiap tahun 2 kali masuk rumah sakit tetap diagnosa yang sama infeksi bakteri akut gangguan pernapasan, sampai muntah,” ujar Feine.
Sementara warga lain, Rahel Santosa mengaku anaknya pernah didiagnosa mengalami infeksi paru-paru pada November 2025 lalu. Anak-anak batuk-batuk karena gangguan asap pabrik.
“Kalau anak saya terdampak bulan November tahun lalu, masuk Rumah Sakit Tonsea, saat itu banyak kabut asap sedangkan saya sampai batuk-batuk,” kata Rahel.
Dia mengaku warga perumahan sudah berulang kali dimediasi dengan pihak pabrik namun tidak kunjung ada solusi. Terakhir, warga mendesak agar pabrik ditutup pada Rabu (14/1).
“Jadi kami di sini semua kalau ada yang sakit infeksi paru-paru. Tetap diagnosa sama semua infeksi di paru-paru,” imbuhnya.
