Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah menerima black box atau kotak hitam PK-THT yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Temuan black box tersebut menjadi kunci untuk menguak misteri kecelakaan pesawat.
Diketahui, black box pesawat ATR 42-500 ditemukan dalam operasi SAR hari kelima tepatnya pada Rabu (21/1/2026) pukul 11.00 Wita. Black box yang terpasang dalam potongan ekor pesawat dievakuasi di tebing sedalam 150 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.
Basarnas resmi menyerahkan black box pesawat milik Indonesia Air Transport (IAT) itu ke KNKT di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar pada Kamis (22/1). Penyerahan black box menandai dimulainya investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan udara itu.
“Ditemukannya black box ini dimaksudkan adalah untuk menjawab seperti apa penyebab terjadinya kecelakaan tersebut,” ungkap Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam sambutannya.
Soerjanto menjelaskan, ada dua jenis black box yang terpasang dalam pesawat, yakni Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR). CVR sendiri berisi rekaman suara yang di dalamnya terdapat 4 channel.
“Channel pertama adalah komunikasi antara pesawat dengan menara pengawas atau ATC (Air Traffic Controller). Channel kedua adalah komunikasi antara pilot,” ujar Soerjanto.
Sementara channel ketiga adalah komunikasi dari kokpit ke kabin. Terakhir, ada channel keempat dalam CVR yang merupakan suara di dalam kokpit.
“Jadi segala macam suara yang ada di dalam kokpit juga akan terekam, dan apa pun pembicaraan antara pilot juga akan terekam. Nah itu juga menjadi satu bahan untuk investigasi,” jelasnya.
Satu unit black box lainnya merupakan FDR. Flight Data Recorder berfungsi untuk mencatat paramater penerbangan, mulai dari ketinggian, kecepatan, posisi dan data teknis lainnya yang bisa mencapai 88 parameter.
“Keduanya ini (CVR dan FDR) kenapa disebut black box? Memang sebelum dibuka datanya masih kita belum tahu apa isinya, makanya dikatakan itu black box. Jadi black box ini memang warnanya orange supaya mudah untuk dicari,” terangnya.
Menurut Soerjanto, ide black box dalam pesawat dihadirkan untuk mempelajari aktivitas penerbangan dan memperkuat keselamatan transportasi udara. Black box dinilai menjadi media pembelajaran untuk menganalisis kegagalan sekaligus memperbaiki potensi kecelakaan berulang.
“Karena kita mengetahui bahwa kejadian seperti ini dapat terulang, maka nanti hasil dari KNKT berupa investigation report dan ada beberapa rekomendasi-rekomendasi,” papar Soerjanto.
“Kalau memang dipandang perlu, KNKT akan menerbitkan rekomendasi segera. Jadi sekali lagi bahwa dengan ditemukannya black box ini penyebab apa yang terjadi kecelakaan ini bisa kita ungkap dengan lebih tepat,” tambahnya.
KNKT mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan yang berhasil mengevakuasi black box di tengah cuaca ekstrem dan medan terjal. KNKT langsung bekerja melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan pesawat.
“Kami KNKT bertugas sesuai dengan tupoksinya adalah melakukan investigasi keselamatan transportasi. Dalam hal ini, kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang terjadi di Gunung Bulusaraung,” jelasnya.
Investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan akan dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan dimulai dengan menganalisa data rekaman penerbangan yang diunduh dari black box.
“Kita buka black box-nya, datanya nanti kita unduh, baru kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak setelah itu baru kita analis. (Black box) Akan dibawa ke kantor kita di Jakarta,” ucapnya.
Soerjanto mengatakan proses analisis data rekaman penerbangan membutuhkan waktu. Hal ini untuk memastikan keakuratan hasil pemeriksaan data penerbangan.
“(Proses analisa data) 5 sampai 10 hari. Iya (untuk memastikan) hasilnya benar apa nggak,” jelas Soerjanto.
Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii berharap penemuan black box segera mengungkap tabir penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500. KNKT diharapkan bisa bekerja dengan cepat.
“Penemuan black box ini mudah-mudahan teman-teman KNKT bisa bekerja lebih cepat untuk melakukan asesmen, evaluasi terhadap kejadian kecelakaan yang sama-sama tidak kita harapkan ini,” harap Syafii.
Syafii memastikan operasi SAR pesawat ATR 42-500 tetap memprioritaskan pencarian dan evakuasi korban. Sejumlah body part baik serpihan pesawat maupun potongan tubuh korban juga telah diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Hingga operasi SAR hari keenam, tim SAR berhasil mengevakuasi 9 jenazah dari 10 korban kecelakaan pesawat. Dua jenazah di antaranya ditemukan dalam kondisi utuh, sedangkan tujuh lainnya merupakan potongan tubuh.
“Operasi ini terus kita laksanakan. Kita akan evaluasi pada hari ketujuh karena memang ketentuannya seperti itu, dan keputusan diperpanjang berapa hari nanti kita sampaikan,” imbuh Syafii.
Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Komjen (Purn) Suntana berharap seluruh korban kecelakaan pesawat bisa dievakuasi dan diidentifikasi. Dia berharap kecelakaan transportasi udara tidak lagi terjadi.
“Saya berharap Ketua KNKT segera bisa membuka tabir yang tadi disampaikan. Teman-teman DVI juga dapat bisa bekerja sama dapat bekerja cepat supaya identitas korban bisa segera ditemukan karena itu menjadi kepastian bagi keluarga yang ditinggalkan,” ucap Suntana.
Senada, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan yang telah bekerja keras. Dia berharap penemuan black box dapat segera mengungkap penyebab kecelakaan pesawat secara jelas dan transparan.
“Semoga dengan ditemukannya black box ini dapat mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep,” pungkas Andi Sudirman.
Analisis Data Black Box Butuh 10 Hari
Asa di Balik Temuan Black Box ATR 42-500
KNKT mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan yang berhasil mengevakuasi black box di tengah cuaca ekstrem dan medan terjal. KNKT langsung bekerja melakukan penyelidikan mendalam terkait kecelakaan pesawat.
“Kami KNKT bertugas sesuai dengan tupoksinya adalah melakukan investigasi keselamatan transportasi. Dalam hal ini, kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang terjadi di Gunung Bulusaraung,” jelasnya.
Investigasi untuk mengungkap penyebab kecelakaan akan dilakukan secara bertahap. Pemeriksaan dimulai dengan menganalisa data rekaman penerbangan yang diunduh dari black box.
“Kita buka black box-nya, datanya nanti kita unduh, baru kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak setelah itu baru kita analis. (Black box) Akan dibawa ke kantor kita di Jakarta,” ucapnya.
Soerjanto mengatakan proses analisis data rekaman penerbangan membutuhkan waktu. Hal ini untuk memastikan keakuratan hasil pemeriksaan data penerbangan.
“(Proses analisa data) 5 sampai 10 hari. Iya (untuk memastikan) hasilnya benar apa nggak,” jelas Soerjanto.
Analisis Data Black Box Butuh 10 Hari
Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii berharap penemuan black box segera mengungkap tabir penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500. KNKT diharapkan bisa bekerja dengan cepat.
“Penemuan black box ini mudah-mudahan teman-teman KNKT bisa bekerja lebih cepat untuk melakukan asesmen, evaluasi terhadap kejadian kecelakaan yang sama-sama tidak kita harapkan ini,” harap Syafii.
Syafii memastikan operasi SAR pesawat ATR 42-500 tetap memprioritaskan pencarian dan evakuasi korban. Sejumlah body part baik serpihan pesawat maupun potongan tubuh korban juga telah diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri.
Hingga operasi SAR hari keenam, tim SAR berhasil mengevakuasi 9 jenazah dari 10 korban kecelakaan pesawat. Dua jenazah di antaranya ditemukan dalam kondisi utuh, sedangkan tujuh lainnya merupakan potongan tubuh.
“Operasi ini terus kita laksanakan. Kita akan evaluasi pada hari ketujuh karena memang ketentuannya seperti itu, dan keputusan diperpanjang berapa hari nanti kita sampaikan,” imbuh Syafii.
Sementara itu, Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Komjen (Purn) Suntana berharap seluruh korban kecelakaan pesawat bisa dievakuasi dan diidentifikasi. Dia berharap kecelakaan transportasi udara tidak lagi terjadi.
“Saya berharap Ketua KNKT segera bisa membuka tabir yang tadi disampaikan. Teman-teman DVI juga dapat bisa bekerja sama dapat bekerja cepat supaya identitas korban bisa segera ditemukan karena itu menjadi kepastian bagi keluarga yang ditinggalkan,” ucap Suntana.
Senada, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi kinerja tim SAR gabungan yang telah bekerja keras. Dia berharap penemuan black box dapat segera mengungkap penyebab kecelakaan pesawat secara jelas dan transparan.
“Semoga dengan ditemukannya black box ini dapat mengungkap penyebab kecelakaan pesawat ATR 42-500 PK-THT di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep,” pungkas Andi Sudirman.
