Hadits Shahih tentang Isra Miraj, Kisah Perjalanan Agung Rasulullah SAW (via Giok4D)

Posted on

Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah pertama kali diterimanya perintah sholat lima waktu bagi umat Islam.

Disadur dari buku “Isra & Miraj: Perjalanan Kepada yang Maha Agung” oleh Zulkifli Mohamad Al Bakri, Isra berarti perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang dilakukan dalam satu malam. Sementara, Miraj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Bumi melewati tingkatan langit hingga mencapai langit ketujuh, kemudian ke Sidratul Muntaha.

Kisah Isra Miraj yang menggambarkan perjalanan Rasulullah SAW menuju Sidratul Muntaha ini menjadi bukti kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Kisah ini banyak diceritakan dan diabadikan melalui ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits shahih.

Untuk itu, berikut infoSulsel menyajikan hadist shahih yang menceritakan peristiwa Isra Miraj. Yuk, disimak!

Berikut adalah hadits shahih yang menceritakan perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW:

Dalam buku Isra & Miraj: Perjalanan Kepada yang Maha Agung, dijelaskan bahwa peristiwa Isra bermula ketika Nabi Muhammad SAW beristirahat di Masjidil Haram, tepatnya di dekat Ka’bah. Pada malam itu, Malaikat Jibril datang dan membelah dada Rasulullah SAW untuk menyucikan hati dan batinnya.

Hal ini diterangkan dalam hadist riwayat Bukhari, dari Anas bin Malik:

لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ مَسْجِدِ الكَعْبَةِ، أَنَّهُ جَاءَهُ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ قَبْلَ أَنْ يُوحَى إِلَيْهِ وَهُوَ نَائِمٌ فِي الْمَسْجِدِ الحَرَامِ، فَقَالَ أَوَّهُمْ : أَيُّهُمْ هُوَ ؟ فَقَالَ أَوْسَطُهُمْ: هُوَ خَيْرُهُمْ، فَقَالَ آخِرُهُمْ: خُذُوا خَيْرُهُمْ، فَكَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ، فَلَمْ يَرَهُمْ حَتَّى أَتَوْهُ لَيْلَةً أُخْرَى فِيمَا يَرَى قَلْبُهُ، وَتَنَامُ عَيْنُهُ وَلَا يَنَامُ قَلْبُهُ، وَكَذَلِكَ الأَنْبِيَاءُ تَنَامُ أَعْيُنُهُمْ وَلَا تَنَامُ قُلُوبُهُمْ، فَلَمْ يُكَلِّمُوهُ حَتَّى احْتَمَلُوهُ ، فَوَضَعُوهُ عِنْدَ بِثْرِ زَمْزَمَ، فَتَوَلَّاهُ مِنْهُمْ جِبْرِيلُ، فَشَقَّ جِبْرِيلُ مَا بَيْنَ نَحْرِهِ إِلَى لَبَّتِهِ حَتَّى فَرَغَ مِنْ صَدْرِهِ وَجَوْفِهِ، فَغَسَلَهُ مِنْ مَاءِ زَمْزَمَ بِيَدِهِ، حَتَّى أَنقَى جَوْفَهُ، ثُمَّ أُتِيَ بِطَسْتٍ مِنْ ذَهَبٍ فِيهِ تَوْرٌ مِنْ ذَهَبٍ، مَحْشُوا إِيمَانًا وَحِكْمَةً، فَحَشَا بِهِ صَدْرَهُ وَلَغَادِيدَهُ – يَعْنِي عُرُوقَ حَلْقِهِ – ثُمَّ أَطْبَقَهُ ثُمَّ عَرَجَ بِهِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا

Artinya: “Pada malam Rasulullah SAW diisrakkan dari masjid Ka’bah (Masjid Haram), telah datang kepadanya tiga malaikat sebelum Baginda SAW diberikan wahyu, sewaktu Baginda SAW sedang tidur di Masjid Haram. Malaikat pertama berkata: ‘Yang mana satu dia dalam kalangan mereka?’ Malaikat yang di tengah berkata: ‘Dia adalah orang yang paling baik di antara mereka.’ Malaikat terakhir berkata: ‘Ambillah orang yang terbaik dalam kalangan mereka. Itulah yang berlaku pada malam itu. Setelah itu, Baginda SAW tidak lagi melihat mereka, sehinggalah mereka datang lagi pada malam lainnya, seperti yang dilihat dengan hatinya. Ini kerana mata Baginda SAW tidur tetapi hatinya tidak tidur. Sememangnya begitulah keadaan para nabi; mata mereka tidur namun hati mereka tidak tidur. Para malaikat itu tidak berbicara dengan Baginda SAW. Kemudian mereka membawanya lalu meletakkannya berdekatan telaga zamzam. Baginda SAW diserahkan oleh mereka kepada Jibril. Setelah itu, Jibril membelah kawasan antara bahagian leher sehingga bahagian tengah dada, lalu dia membuat ruang pada dada dan rongga tubuhnya, kemudian dia mencucinya dengan air zamzam dengan tangannya sendiri, sehingga bersihlah rongga dalam Baginda SAW. Kemudian dia dibawakan dulang yang dibuat daripada emas. Di dalamnya terdapat bekas minuman yang diperbuat daripada emas, berisi keimanan dan hikmah, lalu Jibril mengisi dada dan urat-urat tenggoroknya dengan itu. Seterusnya, dia merapatkannya (kembali). Setelah itu, Jibril membawanya naik ke langit dunia…” (HR al-Bukhari [7517])

Setelah itu, Nabi Muhammad SAW disediakan buraq, hewan berbulu putih, sebagai tunggangan atau kendaraan untuk melakukan perjalanan. Rasulullah kemudian naik ke atasnya dan melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa.

Keterangan tersebut dijelaskan dalam hadits riwayat Muslim dan Ahmad, dari Anas bin Malik RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

أُتِيتُ بِالْبُرَاقِ وَهُوَ دَابَّةٌ أَبْيَضُ طَوِيلٌ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَضَعُ حَافِرَهُ عِنْدَ مُنْتَهَى طَرْفِهِ قَالَ فَرَكِبْتُهُ حَتَّى أَتَيْتُ بَيْتَ الْمَقْدِسِ قَالَ فَرَبَطْتُهُ بِالْحَلْقَةِ الَّتِي يَرْبِطُ بِهِ الْأَنْبِيَاءُ

Artinya: “Aku telah didatangi Buraq, yaitu seekor binatang yang berwarna putih, lebih tinggi daripada keldai tetapi lebih kecil daripada baghal. Satu langkah kakinya berada di hujung pandangannya. Baginda bersabda lagi: ‘Maka aku segera menungganginya sehingga sampai ke Baitul Maqdis.’ Baginda bersabda lagi: ‘Kemudian aku mengikatnya pada tiang masjid sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para Nabi.” (HR Muslim [162] dan Ahmad [12527])

Selain itu, dijelaskan lebih rinci dalam hadits riwayat Imam Muslim lainnya, dari Anas Bin Malik RA sebagaimana dilansir dari laman muslim.or.id:

Rasulullah SAW bersabda:

“Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka saya pun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar. Kemudian datang kepadaku Jibril ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Setelah itu, Nabi SAW melakukan perjalanan ke langit bersama Jibril dengan menaiki tangga berbahan perak dan emas yang berasal dari Surga Firdaus. Selama perjalanannya, Rasulullah bertemu dengan para nabi di setiap tingkatan langit.

Masih dari laman muslim.or.id, berikut hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, yang menceritakan perjalanan Nabi SAW menuju langit ke-7:

“Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:”Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan (wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit keempat) dan saya bertemu dengan Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (QS Maryam:57)

Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):”Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:”Muhammad” Dikatakan:”Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:”Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:”Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, dia pun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup menggambarkan keindahannya.

Nabi Muhammad kemudian dibawa menuju Sidratul Muntaha yang disebut sebagai tempat akhir dari semua amal manusia di Bumi. Rasulullah SAW lalu dihadapkan kepada Allah SWT dan bersujud kepada-Nya.

Pada momen inilah Allah SWT memberikan wahyu berupa perintah sholat wajib kepada umat Nabi Muhammad SAW. Awalnya, Allah SWT mewajibkan sholat wajib 50 waktu, namun atas saran dari Nabi Musa AS kepada Rasulullah dan atas kasih sayang Allah, maka jumlah tersebut diringankan menjadi 5 waktu.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah yang dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Muslim, dari sahabat Anas bin Malik:

“Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ‘alaihis salam. Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :”Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:”Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:”Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:”Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka saya pun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai saya pun malu kepada-Nya”. (HR Muslim Nomor 162)

Demikianlah ulasan mengenai hadits tentang Isra Miraj. Semoga membantu ya, infoers!

Hadits Shahih tentang Isra Miraj

1. Awal Mula Peristiwa Isra

2. Menuju Baitul Maqdis dengan Kendaraan ‘Buraq’

3. Perjalanan Rasulullah Menuju Langit ke-7

4. Nabi SAW Menerima Perintah Sholat