Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang curhat soal susahnya menangani warga miskin ekstrem di wilayahnya dalam 100 hari kerja. Persoalan kemiskinan ekstrem tersebut kini ditangani melalui program pembentukan orang tua asuh (OTA).
“Di 100 hari kerja pertama saya, saya ingin menyelesaikan persoalan kemiskinan Kabupaten Gowa by data, by name, by address,” kata Husniah saat diskusi publik dalam rangka peresmian lembaga kepemudaan Sun Squad Institute di Makassar, Senin (12/1/2026).
Husniah mengaku langsung meminta data warga miskin esktrem di Dinas Sosial (Dinsos) Gowa usai dilantik sebagai bupati. Dinsos mencatat warga miskin esktrem di Gowa sebanyak 1.106 jiwa.
“Saya minta sama dinas sosial, kasih saya datamu untuk saya selesaikan persoalan kemiskinan dan semuanya by data. 1.106 masyarakat miskin ekstrem yang ada di Gowa ini, kita harus selesaikan dalam jangka 100 hari,” katanya.
Dia mengaku langsung melakukan intervensi dengan melakukan pemetaan atau pengelompokan kepala Keluarga (kK). Akhirnya didapatkan warga miskin ekstrem itu terdiri dari 357 KK.
“Memang berat kalau kita menghitungnya orang per orang. Kita klasifikasikan ke dalam kelompok KK. Jadi dalam satu KK itu ada 3 bahkan ada 5 orang. Ini yang akan kita intervensi. Sehingga mengecil menjadi 371, dimana 14-nya sudah tidak aktif, sehingga menjadi 357 KK,” tambah Husniah.
Dia mengaku tak bisa menyelesaikan masalah ini sendiri tanpa melibatkan para pejabat di Gowa. Akhirnya dia berinisiatif membentuk orang tua asuh (OTA).
“357 KK ini, saya tidak akan mungkin bisa juga menyelesaikannya. 357 KK kurang dari 100 hari, tiap hari, berarti jalan berapa lama ya? Sendirinya lagi. Meskipun saya berdua sama Pak Wabup tidak akan selesai,” katanya.
Husniah menjelaskan program OTA ini melibatkan pejabat lingkup Pemkab Gowa. Seluruh unsur digerakkan untuk menangani kemiskinan ekstrem.
“Orang Tua Asuh itu adalah pejabat di Eselon 2, Eselon 3, sampai kepada camat. Jadi kepala dinas, kepala bagian, kepala badan, camat, semua dapat bagian keluarga miskin ekstrem yang wajib kita intervensi,” tuturnya.
OTA bertugas turun ke lapangan melakukan pendataan penyebab warga itu masuk kategori miskin ekstrem. Mereka melapor setiap bulan perkembangan intervensi yang dilakukannya.
“Turun ke lapangan, seminggu sekali melakukan pelaporan kepada bupati, wakil bupati, melalui rakor. Nah, ini terus berlanjut, berlanjut, berlanjut, sehingga intervensi ini berhasil menjadi 0,” jelasnya.
Di sisi lain, Husniah juga berharap lembaga Sun Squad Institute (SSI) yang baru diresmikan ini memberi dampak nyata bagi masyarakat. Lembaga ini juga menjadi ajang pemuda di Sulsel untuk berpartisipasi bagi pembangunan daerah.
“Sun Squad tempat nongkrong, kita mendengarkan apa yang menjadi keinginan seluruh masyarakat, bukan hanya Gowa tapi semuanya. Karena Sun Squad mencakup seluruh kabupaten/kota. Kita akan menampung anak-anak muda yang mau bergabung,” pungkasnya.
