Guru honorer di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) menangis saat mengadu ke Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) karena gagal lolos seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Mereka mengeluhkan gaji yang tidak layak dibandingkan dengan sopir program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Keluhan ini disampaikan perwakilan honorer saat mengadu ke Kantor BKPSDM Gowa, Senin (5/1). Pendamping hukum honorer ini, Ari Paletteri mengungkapkan para honorer mempertanyakan statusnya usai datanya terhapus dalam databes di Badan Kepegawaian Negara (BKN).
“Mempertanyakan status honorer yang tidak terdata BKN, kesimpulannya Pak BKD akan memfasilitasi untuk membawa data-data teman honorer ke Menpan RB dan BKN untuk diusulkan paruh waktu,” kata Ari kepada infoSulsel, Rabu (7/1/2026).
Dalam video dilihat infoSulsel, tampak seorang perempuan guru honorer menangis dalam pertemuan tersebut. Dia mengaku miris dengan honor yang diterimanya selama ini jika dibandingkan dengan honor sopir MBG.
“Di sini saya luapkan aja, ternyata gaji driver MBG itu jauh lebih layak ketimbang tema-teman yang mencerdaskan anak bangsa. Miris hati saya, kalau teman-teman yang mungkin punya suami mapan atau mandiri mencari rupiah alhamdulilah. Tapi bagaimana, banyak saudara-saudara saya yang hanya berpatok dari situ,” katanya sambil tersedu-sedu.
Dia juga mengungkapkan para guru honorer selama ini merasa dikucilkan. Bahkan tidak percaya diri saat diminta memakai seragam seperti batik pada momen tertentu oleh pimpinan.
“Kami bangga pakai seragam ini meskipun di luar banyak yang mencibir kita kok banyak non ASN pakai seragam. Yang paling menyedihkan kalau tanggal-tanggal tertentu yang kita harusnya kita pakai batik itu, kita harus berdiri paling pojok meskipun pimpinan kita udah pakai saja sebagai bentuk penyetaraan tapi saya yakin dari lubuk hati teman-teman miris sebenarnya,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 480 guru honorer SD-SMP di Gowa gagal lolos seleksi PPPK Paruh Waktu usai datanya sebagai honorer dalam database BKN diduga hilang. Padahal guru yang tersebar di 18 kecamatan di Gowa ini sebelumnya terdata di BKN.
“Yang terhapus itu data pendataan non ASN 2022, itu pendataan bersifat umum karena semua tenaga honorer yang bekerja di pemerintahan di situ semua terdata. Terekam di sistemnya BKN melalui portal SSCASN, hilang data kami karena dihapus oleh oknum di dinas pendidikan,” ujar salah satu guru honorer yang enggan disebut namanya kepada infoSulsel.
Kadisdik Gowa Taufiq Mursad membantah jika data guru honorer tersebut sengaja dihapus oknum honorer di Disdik. Dia mengklaim sebanyak 1.500 guru honorer telah dilantik PPPK Paruh Waktu.
“Kalau pengangkatan PPPK paruh waktu prosesnya di BKPSDM . Tahun ini kami mengusulkan ke BKPSDM 1500 orang,” jelas Taufiq.
Dia menyebut data guru honorer terhapus itu disebabkan tidak memenuhi syarat saat pendataan BKN pada 2022. Pasalnya yang diloloskan sebagai PPPK Paruh Waktu adalah honorer yang telah mengabdi minimal 2 tahun saat pendataan.
“Terhapus datanya kalau tidak terpenuhi syaratnya pada saat pendataan BKN di tahun 2022. Yang bisa terangkat sebagai PPPK paruh waktu adalah yang sudah terdata di data base BKN 2022,” jelasnya.







