Sejarah Isra Miraj: Kisah Agung Perjalanan Spiritual Nabi Muhammad SAW

Posted on

Isra Miraj merupakan suatu peristiwa penting dalam Islam. Di balik peristiwa tersebut tersimpan sejarah dan hikmah yang dapat menjadi pembelajaran bagi umat Islam.

Banyak orang mengenal Isra Miraj sebagai perjalanan agung Nabi Muhammad SAW, namun tidak sedikit yang memahami rangkaian peristiwa dan konteks di baliknya. Padahal, memahami sejarah Isra Miraj secara runtut dapat membuka cara pandang baru tentang hubungan manusia, iman, dan ujian kehidupan.

Untuk menambah wawasan infoers, berikut ulasan mengenai sejarah Isra Miraj yang lengkap beserta dalilnya. Yuk baca selengkapnya di bawah ini!

Isra Miraj merupakan peristiwa agung dalam perjalanan risalah Nabi Muhammad SAW. Isra Miraj terdiri dari dua kata, yaitu “isra” yang berarti perjalanan di malam hari dan “miraj” yang artinya adalah anak tangga untuk naik.

Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah hingga ke Masjidil Aqsa di Palestina. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanannya ke langit sampai batas terjauh yang bisa dicapai makhluk, yaitu Sidratul Muntaha.

Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam Senin 27 Rajab tahun kesepuluh kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dalam sejarah Islam, tahun tersebut dikenal sebagai tahun duka cita bagi Nabi Muhammad SAW karena kesedihan beliau atas wafatnya dua orang terkasihnya, yakni paman dan istrinya.

Sejak ditinggal oleh istrinya, Khadijah, Nabi Muhammad SAW sering kali tidur di Masjidil Haram untuk menenangkan hati. Oleh karena itu, perjalanan Isra Miraj dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa.[1]

Perjalanan tersebut sangat jauh, tetapi Rasulullah SAW Bersama Malaikat Jibril mampu menempuhnya dalam waktu yang singkat. Hal ini bisa terjadi karena mereka menunggangi Buraq, makhluk sejenis burung yang digambarkan memiliki tubuh besar dan kecepatan yang luar biasa.

Selama perjalanan, Rasulullah SAW singgah di beberapa tempat bersejarah seperti Madinah, Bukit Thur Sina, dan Betlehem. Di tempat-tempat tersebut, Malaikat Jibril memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk melaksanakan sholat dua rakaat.

Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan malam sampai di Masjidil Aqsa. Pada saat itu, Allah SWT telah mengumpulkan seluruh roh para nabi, mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Isa untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Rasulullah SAW pun diminta untuk menjadi imam mereka. Peristiwa ini menunjukkan bahwa kemuliaan dan kedudukan Rasulullah SAW yang lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan nabi-nabi lainnya.

Setelah selesai di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW diangkat ke langit hingga Sidratul Muntaha untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT dan menyaksikan tanda-tanda kebesaran-Nya. Dalam peristiwa inilah, Allah SWT mewajibkan salat 50 waktu dalam sehari kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Lantas, Rasulullah SAW turun dari Sidratul Muntaha dan bertemu Nabi Musa AS. Nabi Musa AS pun berkata, “Berkenanlah kiranya engkau untuk kembali ke hadapan Allah dan mintalah keringanan untuk dirimu dan umatmu”. [2]

Dengan persetujuan Malaikat Jibril, Nabi SAW kembali ke hadapan Allah SWT kemudian sujud meminta agar diberi keringanan jumlah sholat kepada umatnya. Proses negosiasi itu terjadi beberapa kali, dari 50 waktu diturunkan menjadi 45, kemudian 40, diturunkan lagi menjadi 35, dan seterusnya.

Setiap meminta keringanan, Allah SWT menguranginya lima, hingga akhirnya, perintah sholat itu diringankan menjadi lima waktu sehari semalam. Allah SWT kemudian berkata: “Shalat itu kerjakanlah dalam waktu sehari-semalam. Adapun pahalanya setiap satu kali shalat adalah sepuluh kali lipat. Jadi, lima kali shalat itu sama halnya dengan pahala lima puluh kali shalat.”

Setelah itu, Rasulullah SAW Kembali menghadap Nabi Musa AS. Lalu, Nabi Musa berkata “Berkenanlah kiranya kamu ya Muhammad untuk kembali lagi ke hadapan Allah, Tuhanmu untuk meminta keringanan. Sesungguhnya umatmu masih belum sanggup untuk mengerjakannya”.

Namun, Rasulullah SAW merasa malu sehingga ikhlas dan ridha dengan keputusan Allah SWT. Ia pun turun ke Bumi untuk menyampaikan perintah tersebut kepada umatnya. [3]

Perintah inilah yang menjadi tujuan utama dari perjalanan Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, Rasulullah SAW mulai menyampaikan kewajiban sholat lima waktu kepada seluruh umatnya.

Perjalanan Nabi Muhammad SAW pada saat itu mungkin tidak dapat diterima oleh logika manusia. Namun, peristiwa tersebut memang benar-benar terjadi dan dialami oleh Rasulullah.

Melansir dari buku “Kisah Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW”, peristiwa Isra Miraj telah diterangkan dalam Al-Qur’an pada dua surat yang berbeda. Adapun kisah perjalanan Isra Nabi Muhammad SAW terdapat dalam Al-Qur’an pada surat al-Isra ayat 1, yaitu sebagai berikut:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan

hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidilharam ke Al Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguh-nya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Sementara itu, perjalanan Miraj Nabi Muhammad SAW ke langit disebutkan dalam surat al-Najm ayat 13-18 sebagai berikut:

وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَي (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18)

Artinya: “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (13) (yaitu) di Sidratul Muntaha. (14) Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (15) (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. (16) Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (17) Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (18).

Kisah yang disebutkan secara terpisah ini seakan memberikan isyarat bahwa kedua bentuk perjalanan tersebut memiliki tujuan yang berbeda. Kedua perjalanan tersebut memberikan isyarat bahwa terdapat dua mukjizat yang berbeda.

Isra adalah perjalanan dengan mukjizat bahwa tidak satupun penduduk Bumi mampu melakukannya. Sementara Miraj menunjukkan bahwa tidak satupun penduduk langit mampu melakukannya.

Bahkan, Malaikat Jibril pun hanya mampu menemani Nabi Muhammad SAW sampai ke sidratul Muntaha. Setelah itu, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalannya hingga bertemu langsung dengan Allah SWT di tempat yang hanya ia dan Allah yang tahu.

Nah, demikianlah sejarah Isra Miraj lengkap dengan dalilnya dalam Al-Qur’an yang dapat menambah wawasan infoers. Semoga bermanfaat!

Sumber

Sejarah Isra Miraj

Dalil tentang Isra Miraj