Renungan Harian Katolik Selasa 6 Januari 2026: Apa yang Ada Padamu?

Posted on

Renungan harian Katolik menjadi sarana bagi umat untuk merenungkan sabda uhan dan mengambil makna rohani yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Melalui bacaan Kitab Suci yang didengarkan dan direnungkan, umat diajak memperdalam iman, pemperteguh harapan, serta belajar meneladani sikap hidup para tokoh iman.

Dalam terang Sabda Tuhan hari ini, umat diajak untuk melihat kembali diri sendiri, apa yang telah kita terima dari Tuhan dan bagaimana kita menggunakannya untuk melayani sesama. Pertanyaan ini bukan sekadar tentang apa yang kita miliki secara lahiriah, melainkan tentang iman, kasih, dan talenta yang Tuhan titipkan dalam hidup kita.

Renungan Katolik 6 Januari 2026 mengangkat tema “Apa yang Ada Padamu?” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh F X Didiwiria Salim. Nah, artikel ini juga memuat informasi:

Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:

Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.

Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.

Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.

Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!

Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!

Kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!

Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!

Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!

Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.

Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”

Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”

Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.”

Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.

Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.

Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.

Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.

Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.

Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.

Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.”

(Mrk. 6:38)

Bersamaan dengan ziarah Porta Sancta di Vatikan, kami melanjutkan perjalanan ke beberapa kota di Italia bagian utara. Udara yang dingin dan kering membuat kulit terasa sangat kering, gatal, bahkan menimbulkan luka-luka kecil.

Luka di sekitar jari tengah kanan mengalami peradangan dan membengkak cukup besar. Di beberapa kota di Eropa, saya kesulitan mencari salep antibiotik, meskipun telah mendatangi beberapa apotek.

Dalam kondisi ketidakberdayaan untuk mengatasi persoalan jasmani tersebut, saya hanya bisa berdoa dan berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Syukur kepada-Nya, seorang teman seperjalanan menawarkan salep mata, yang sebenarnya bukan untuk kulit.

Namun perlahan, bengkak itu mengecil dan akhirnya sembuh. Perikop Injil hari ini menyingkapkan hati Yesus yang digerakkan oleh belas kasih Ilahi.

Injil mencatat bahwa ketika Yesus melihat orang banyak, “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala” (Mat. 6:34). Meskipun tubuh-Nya letih dan Ia sendiri membutuhkan waktu untuk menyendiri, belas kasih-Nya mengatasi keletihan itu.

Yesus tampil sebagai gembala sejati yang tidak membiarkan umat-Nya terlantar. Ia lebih dahulu memberi santapan rohani dengan mengajar mereka banyak hal, sebab sabda Allah adalah makanan pertama yang menghidupkan jiwa.

Belas kasih Yesus tidak berhenti pada pemenuhan rohani semata. Ketika hari mulai malam, Yesus memperhatikan kebutuhan jasmani mereka.

Dengan mukjizat penggandaan roti, Ia menyatakan bahwa Allah peduli akan hidup manusia. Tindakan Yesus ini mengingatkan kita pada pemeliharaan Allah di padang gurun, ketika Ia memberi manna kepada umat Israel.

Peristiwa ini juga menunjuk pada Ekaristi, di mana Yesus sendiri kelak menjadi Roti Hidup yang dibagikan bagi keselamatan banyak orang. Dengan demikian, mukjizat ini menjadi tanda kasih Allah yang nyata dan berlimpah, yang mengalir dari belas kasih-Nya yang tak pernah habis.

Ketika merefleksikan pengalaman pribadi tersebut, saya pun menyadari bahwa ketidakberdayaan saya justru mendorong sikap pasrah kepada Tuhan. Saya berbuat dengan apa yang ada pada saat itu, dan selebihnya membiarkan Dia yang berkarya dan menyempurnakannya bagi saya.

Doa Penutup:

Tuhan, bantulah kami agar berani memulai melakukan kebaikan dari apa yang kami miliki, dan dengan penuh iman membiarkan Engkau menyempurnakannya. Amin.

Peristiwa kelahiran Yesus dilukiskan dengan berbagai cerita manarik. Salah satu cerita itu adalah kisah kunjungan orang – orang Majus dari Timur ke Betlehem dalam Injil Mat2:1-18.

Mulanya istilah Majus (dari kata Magus) dikenakan pada sekelompok imam yang dikenal sebagai ahli – ahli perbintangan dan pada orang – orang bijak di kalangan suku bangsa Medes dan Persia. Pada zaman Yesus, istilah majus berarti ahli nujum dan ahli sihir yang terdapat di semua bangsa. Terdapat banyak cerita mengenai orang – orang itu, seperti cerita tentang tiga sarjana atau Raja Timur: Kaspar, Melkior dan Balthasar. Dalam tradisi Kristen, Kaspar, Melkior dan Balthasar dikenal sebagai sarjana – sarjana dari Timur yang datang ke Betlehem untuk menyembah Kanak – Kanak Yesus.

Nama ketiga orang ini tidak ada dalam naskah – naskah Kitab Suci. Injil Matius yang dipakai sebagai sumber cerita dalam tradisi Kristen tidak membeberkan nama ketiga orang itu. Matius hanya secara umum mengatakan: “Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang – orang Majus dari Timur Yerusalem dan bertanya – tanya: “Dimanakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.”(Mat2:1-2). Adanya nama tiga orang bijak dari Timur merupakan refleksi lebih lanjut dari orang – orang Kristen atas kisah Injil Matius tersebut. Dalam kaitannya perlu dicatat maksud Matius dengan kisah ini. Matius menulis Injilnya kepada orang – orang Yahudi yang telah berabad – abad mengharapkan datangnya sang Mesias Terjanji, figur raja yang akan memperbaharui kerajaan Israel dan menyemarakkan kembali kebanggaan nasional Israel atas bangsa – bangsa lain. Maksud Matius dengan kisah ini adalah, bahwa seperti orang – orang Majus, semua orang harus mencari dan menemukan Kristus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari segala bangsa dan jaman; Kristus datang tidak hanya untuk bangsa Yahudi/Israel saja tetapi juga untuk semua orang dari segala bangsa yang merindukan keselamatan dari Allah.

Biasanya pada tanggal 6 Januari, huruf pertama dari ketiga nama orang Majus itu bersama dengan tahun yang sedang berlangsung (“19 + K = M = B + 91”) dituliskan pada pintu – pintu rumah untuk mengenyahkan malapetaka dari rumah dan penghuninya.

Demikianlah renungan harian Katolik Selasa, 6 Januari 2026. Semoga bermanfaat infoers!

Renungan Harian Katolik Hari Ini 6 Januari 2026

Bacaan I: 1 Yoh 4;7-10

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2.3-4ab.7-8

Bacaan Injil: Mrk 6: 34-44

Renungan Hari Ini: Apa yang Ada Padamu?

Kisah Kaspar, Melkior dan Balthasar, Tiga Raja