Renungan harian penting dibaca setiap hari oleh umat Katolik karena menjadi sarana untuk menata hati, memperdalam iman, serta menuntun langkah hidup agar semakin selaras dengan kehendak Tuhan. Melalui renungan, umat diajak untuk tidak hanya mendengar Sabda Allah, tetapi juga merenungkan dan mewujudkannya dalam sikap serta tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Renungan Katolik Kamis, 8 Januari 2026 mengangkat tema “Menghadirkan Kerajaan Allah di Dunia” yang dikutip dari buku Renungan Tiga Titik oleh Evelyn Yovita. Melalui permenungan Sabda Tuhan hari ini, umat Katolik diajak untuk melihat kembali panggilan hidupnya: sejauh mana kehadiran kita membawa damai, harapan, dan kasih Allah bagi orang-orang di sekitar kita.
Renungan ini menjadi undangan untuk terus bertumbuh dalam iman dan menjadikan hidup sebagai kesaksian nyata tentang Kerajaan Allah yang hadir di tengah dunia. Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.
Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya.
Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
Ia akan menebus nyawa mereka dari penindasan dan kekerasan, darah mereka mahal di matanya.
Hiduplah ia! Kiranya dipersembahkan kepadanya emas Syeba! Kiranya ia didoakan senantiasa, dan diberkati sepanjang hari!
Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dikenal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia.
Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.
Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.
Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.
Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:
“Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku
untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.
Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”
Dan semua orang itu membenarkan Dia dan mereka heran akan kata-kata yang indah yang diucapkan-Nya, lalu kata mereka: “Bukankah Ia ini anak Yusuf?”
“Roh Tuhan ada pada-Ku, karena Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan.” (Luk. 4:18-19)
Sesudah dicobai iblis, dengan kuasa Roh, Yesus kembali ke Galilea. Yesus yang penuh dengan Roh Kudus memulai pelayanan-Nya dengan mengajar di rumah-rumah ibadat di Galilea. Perkataan Yesus bukan hanya pengajaran, melainkan pemberitaan yang melepaskan belenggu, membuka mata, dan memulai zaman baru.
Pemberitaan Yesus membawa pembebasan, pengampunan, penyembuhan, dan penyelamatan bagi orang-orang yang disingkirkan. Yesus hadir sebagai nabi yang diurapi Roh Tuhan dan diutus untuk membawa kabar baik kepada orang-orang miskin, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.
Beberapa waktu lalu di kelompok gereja kami mengadakan baksos. Kami yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil melakukan kunjungan ke lansia, orang kurang mampu, dan orang sakit yang ada di paroki kami. Sukacita kami penuh, baik yang dikunjungi maupun kami yang mengunjungi. Yang dikunjungi merasa tidak dilupakan, namun diperhatikan, karena kami mendengarkan; mendapat pertolongan karena rumahnya dibersihkan; dibelikan obat dan barang yang dibutuhkan. Tindakan ini semua memberikan semangat dan harapan bagi mereka.
Kami yang mengunjungi pun merasa terharu dengan sikap mereka yang mendoakan kami; menyiapkan makanan untuk makan siang bersama; memberi wejangan bagaimana menyikapi permasalahan dalam hidup, menjalani sakit yang diderita, hidup sendirian, tidak bisa ke gereja karena terkendala biaya; dan masih banyak lagi cerita yang mengharukan.
Kegiatan baksos ini selain membuat kami bersyukur karena menerima karunia untuk berbuat kebaikan dan bisa menanggapi panggilan sebagai rekan kerja Allah dalam melayani yang kekurangan, kehilangan dan tersisih; juga menyadarkan kami untuk lebih bersyukur dengan semua rahmat yang kami terima.
Di awal tahun ini, marilah kita melihat apa yang bisa kita perbuat bagi orang-orang miskin di sekitar kita. Tidak hanya miskin jasmani, tapi juga yang miskin rohani, yang buta tidak bisa melihat kehadiran dan kehendak Tuhan dalam hidupnya; yang mengalami penindasan dalam hidupnya; juga yang tertawan oleh siklus dosa.
Sehingga kita bisa menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini.
Allah Bapa Yang Maha Kasih, tolong berilah kami kepekaan supaya kami bisa melihat orang orang yang miskin, buta, tertindas, tertawan di sekitar kami. Karuniakan kesempatan bagi kami untuk bisa menjadi pembawa harapan bagi mereka semua sehingga mereka bisa melihat Engkau dalam diri kami. Terima kasih Bapa, semua doa ini kami panjatkan dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.
Severinus anak Abienus yang berasal dari Roma. Pada bulan Oktober 638, ia dipilih menjadi Paus. Tetapi peneguhan kePausannya di tunda selama 19 tahun, karena ia dituduh menganut aliran sesat Ecthesis, yang mempertahankan pendapat bahwa Kristus hanya memiliki satu kehendak Ilahi (Monothelitisme).
Perlawanan besar terhadap Severinus datang dari Ishak, pemimpin dari Ravenna. Tetapi Severinus tetap tegas melawan bidaah itu. Akhirnya pada bulan Mei 640 pilihan atas dirinya sebagai Paus diteguhkan dan Severinus naik tahta kePausan. Ia meninggal dunia kira – kira enam puluh hari kemudian pada bulan Agustus 640.
Lusianus adalah pewarta Injil yang terkenal di Gaul (sekarang Prancis), pada abad ketiga. Ia datang dari Roma dan kemungkinan beliau adalah seorang teman Santo Dionisius dari Paris atau teman Santo Quentinus. Keberhasilannya dalam mewartakan Injil menyebabkan dia dihukum mati bersama rekan – rekannya di Beauvais pada masa pemerintahan Kaisar Yulianus kira – kira tahun 290.
Peninggalannya berupa 3 buah tempat suci logam bertuliskan namanya ditemukan di sebuah biara pada abad ke 7. Menurut Rabanus Maurus, pada barang – barang peninggalannya itu terjadi banyak sekali mukzijat.
Serangan terhadap iman Kristen dan semua ajarannya merupakan sebuah kenyataan yang dihadapi gereja semenjak dulu. Banyak sekali Bapa Gereja yang masyur namanya karena membela mati – matian kebenaran iman Kristiani. Apolinaris, Uskup kota Hieropolis, Phyrigia termasuk salah satu pembela terkenal ajaran iman Kristen.
Dengan kegiatan pengajarannya dan tulisan-tulisan, ia berhasil membela kemurnian ajaran Kristen dari rongrongan para bidaah, terutama dari golongan Ecthesis dan Montanist. Ia bahkan berhasil membela ajaran iman dihadapan Kaisar Markus Aurelius. Konon pembelaannya sungguh meyakinkan Kaisar, berkat mukjizat yang dibuatnya di depan Kaisar tatkala pasukan Kaisar di kepung dan dipermalukan oleh Quadi di Moravia.
Ke-12 Legion tentaranya yang beragama Kristen diajaknya berdoa bersama-sama, sehingga musuh dapat dikalahkan dengan mudah. Hasilnya ialah pemerintah mengeluarkan sebuah pengumuman untuk menarik kembali larangan terhadap agama Kristen di seluruh daerah kekuasaannya.
Apollinaris adalah martir abad pertama dan uskup pertama Ravenna, Italia. Konon, ia lahir di Antiokia dan di tabhiskan menjadi Uskup Ravenna oleh Santo Petrus Rasul. Namun hal ini agak diragukan kebenarannya.
Sebagai Uskup Ravenna, Apollinaris menghadapi banyak masalah dalam karyanya. Empat kali dibuang dari keuskupan oleh orang-orang kafir dan mengalami berbagai siksaan. Kata orang ia disesah oleh rakyat banyak pada masa penganiayaan orang – orang Kristen oleh Kaisar Vespasianus (67-97).
Santo Petrus Chrysologus, Uskup Agung Ravenna adab ke lima, membenarkan penderitaan Apollinaris itu. Beliau mengatakan bahwa Apollinaris memang menderita penganiayaan hebat selama masa kepemimpinannya, namun ia tetap bertahan dalam berbagai siksaan itu. Oleh karena itu, ia menghormati Apollinaris sebagai martir bukan karena ia dibunuh secara keji oleh para penguasa kafir, melainkan karena ia menanggung penderitaan yang luar biasa demi Kristus selama masa kepemimpinannya itu.
Demikianlah renungan harian Katolik Kamis, 8 Januari 2026. Damai Tuhan beserta kita!







