Sembilan dari total 10 korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Tim SAR gabungan kini memfokuskan pencarian korban terakhir menjelang berakhirnya operasi SAR.
Tim SAR gabungan pertama kali menemukan dua jenazah, masing-masing seorang pria dan wanita, pada Minggu (18/1) dan Senin (19/1). Keduanya telah teridentifikasi sebagai pegawai KKP Deden Muliana dan pramugari ATR 42-500, Florencia Lolita Wibisono.
Selanjutnya, satu jenazah kembali ditemukan pada Rabu (21/1), disusul enam jenazah pada Kamis (22/1). Dengan demikian, total sembilan jenazah telah ditemukan, tujuh di antaranya masih menjalani proses identifikasi di RS Bhayangkara Makassar.
“Kita memastikan, kita dapatnya 9 (jenazah), tapi apabila besok dapat 1 berarti operasi SAR ditutup karena sudah mendapat semua korban,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Muhammad Arif Anwar kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).
Arif menjelaskan, jenazah Florencia dan Deden ditemukan dalam kondisi utuh, sementara tujuh jenazah lainnya ditemukan dalam kondisi tidak utuh.
“Saya tidak bisa membocorkan (lebih jauh), yang jelas 6 (jenazah ditemukan hari ini) itu tidak utuh. Pokoknya tidak utuh,” bebernya.
Lebih lanjut, Arif mengatakan operasi SAR dijadwalkan berlangsung hingga hari ketujuh pada Jumat (23/1). Namun, operasi SAR bisa ditutup lebih awal jika jenazah terakhir telah ditemukan.
“Namun apabila ada penemuan korban dari masyarakat atau dari mana, akan kita buka operasi SAR itu bukan pencarian lagi. Tapi operasi SAR evakuasi, seperti itu,” ucapnya.
Tim SAR gabungan juga telah menemukan black box pesawat ATR 42-500. Perangkat ini menjadi komponen penting bagi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam menyelidiki penyebab kecelakaan ini.
Black box atau kotak hitam pesawat ATR 42-500 PK-THT ditemukan pada hari kelima operasi SAR, Rabu (21/1). Perangkat itu berada di tebing, sekitar 150 meter dari puncak.
“Dari puncak kami sudah diplot, ukur, kurang lebih 150 dari puncak,” kata Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin Kolonel Inf Dody Triyo Hadi di Posko Operasi SAR gabungan, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Rabu (21/1).
Perangkat tersebut juga telah diserahkan kepada pihak KNKT pada Kamis (22/1). Kini butuh waktu sekitar 10 hari untuk menganalisis data black box tersebut.
“(Proses analisa data) 5 sampai 10 hari. Iya (untuk memastikan) hasilnya benar apa nggak,” kata Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono kepada wartawan di Kantor Basarnas Kelas 1A Makassar, Kamis (22/1/2026).
Soerjanto mengaku akan langsung membawa black box tersebut ke Jakarta usai serah terima dari Basarnas. Rekaman dalam black box akan dibuka untuk diunduh datanya.
“Kita buka black box-nya, datanya nanti kita unduh, baru kita verifikasi data-datanya apakah baik atau tidak, setelah itu baru kita analis. Akan dibawa ke kantor kita (KNKT) di Jakarta,” jelasnya.
Black box adalah perangkat penting yang menyimpan data penerbangan. Meskipun namanya ‘black box’, benda ini sebenarnya berwarna oranye mencolok agar mudah ditemukan.
Black box terdiri dari dua komponen utama: Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Masing-masing memiliki fungsi khusus yang dapat membantu mengungkap penyebab kecelakaan pesawat.
Flight Data Recorder (FDR): Menyimpan data penerbangan, seperti kecepatan, ketinggian, arah, dan kondisi pesawat.
Cockpit Voice Recorder (CVR): Merekam percakapan antara pilot, kru, dan menara pengawas selama beberapa waktu sebelum kecelakaan terjadi.
Black box umumnya terletak di ekor pesawat. Penempatan ini bertujuan agar perangkat tetap terlindungi jika terjadi kecelakaan.
Dalam kasus Pesawat ATR 42-500 PK-THT, black box ditemukan dalam kondisi utuh, masih menempel pada bagian ekor pesawat.
Selain FDR dan CVR, black box juga dilengkapi pemancar. Pemancar ini akan aktif saat black box terkena air.
Pemancar pada black box didesain mampu bertahan hingga kedalaman laut 4 kilometer. Begitu teraktivasi, pemancar tersebut akan terus menerus mengirimkan sinyal per satu info selama 30 hari penuh.
Meskipun waktunya terbatas, pemancar ini dapat dideteksi dengan alat khusus bernama towed pinger locator. Alat tersebut memungkinkan black box ditemukan meski pemancarnya sudah tak aktif.
Towed pinger locator sendiri diklaim bisa mengenali black box meski di kedalaman laut hingga 20 ribu meter.
Black Box Pesawat Ditemukan










