Pabrik Arang di Minahasa Utara Disetop Sementara Imbas Asap Cemari Permukiman

Posted on

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten , Sulawesi Utara (Sulut), menghentikan sementara aktivitas pabrik arang imbas asap pembakarannya mencemari permukiman. Asap pabrik itu sebelumnya menyelimuti Perumahan Green Kawangkoan Residen hingga sejumlah anak mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

“Kami dari DLH memantau langsung kegiatan yang ada di tempat pembakaran arang tempurung. Saya menegaskan tidak ada lagi proses pembakaran karena harus menunggu izin pengelolaan lingkungan,” ucap Kepala DLH Minut, Olfi Kalengkongan kepada wartawan, Jumat (16/1/2026).

Dia menegaskan pihaknya akan mengerahkan anggota Satpol PP untuk menjaga kawasan pabrik tersebut. Olfi menjelaskan, izin usaha yang dimiliki pelaku usaha saat ini belum sesuai dengan skala pengembangan produksi yang dilakukan.

“Izin sebenarnya ada, tapi dia masih dalam bentuk SPPL (Surat Pernyataan Kesanggupan Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan) harus ada peningkatan karena sudah ada pengembangan produksi,” tuturnya.

Olfi mengaku pengusaha pemilik pabrik telah mendatangi DLH Minut untuk mengurus perizinan lanjutan. Namun DLH mengambil langkah penutupan sementara karena banyaknya laporan dan keluhan dari masyarakat sekitar.

“Memang dari pelaku usaha sudah ke DLH untuk memproses izin pengelolaan tersebut, tapi dari kami karena ada banyak pengeluhan masyarakat untuk sementara ini kami tutup,” tegas Olfi.

“Dari pantauan kami hari ini masih ada asap. Pada dasarnya saya lihat bagaimana teknisnya agar asap ini tidak menyebar itu silakan dari pelaku usaha mencari konsultan agar bisa memberikan solusi seperti sesuai dengan aturan-aturan yang ada,” tambahnya.

Sebelumnya diberitakan, asap pabrik arang tempurung menyelimuti Perumahan Green Kawangkoan Residence di Desa Kawangkoan, Kecamatan Kalawat, Minut. Lokasi pabrik arang tempurung itu berdekatan dengan wilayah permukiman hingga SD Inpres Kawangkoan.

“Anak saya baru keluar rumah sakit sejam yang lalu, masuk sejak tanggal 11 Januari setelah mengalami gangguan pernapasan akibat asap,” ucap salah satu warga, Jillystia Monoarfa kepada wartawan, Jumat (16/1).

Dia mengungkapkan, asap pabrik mengganggu aktivitas warga karena membuat rumah dipenuhi asap. Jillystia mengaku anaknya sampai harus mendapat bantuan oksigen saat dirawat di rumah sakit.

“Sudah puluhan anak dari ratusan warga yang tinggal disini terkena gangguan pernapasan,” imbuhnya.