Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar turut menyesali aksi demonstrasi berujung ricuh di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), hingga menyebabkan 4 orang tewas. Menang meminta agar warga tidak melampaui batas dalam menyampaikan aspirasi dan tetap menaati peraturan perundang-undangan.
Hal itu disampaikan Nasaruddin saat mengunjungi keluarga almarhum Abay, korban tragedi kebakaran Gedung DPRD Makassar di Jalan Balang Baru, Makassar, Minggu (31/8/2025). Nasaruddin berharap tragedi yang menyebabkan Abay meninggal ini menjadi yang terakhir.
“Menyesal sekali kejadian ini terjadi, semoga Allah SWT memberi ketabahan buat keluarga yang ditinggal dan tentu bagi almarhum banyak yang sekali yang mendoakan. Satu negeri memberi belasungkawa dan duka cita. Ini menjadi pembelajaran bagi kita semuanya, mudah-mudahan inilah peristiwa terakhir yang terjadi di bangsa kita,” jelasnya.
Nasaruddin mengimbau masyarakat agar menjaga ketenangan serta tidak melampaui batas dalam menyampaikan pendapat. Dia juga mengajak tokoh agama agar menyampaikan pesan kesejukan.
“Pertama-tama saya mengimbau kepada rekan-rekan kami, tokoh-tokoh umat beragama mari kita ajak umat masing-masing untuk memberikan semacam bimbingan,” katanya.
“Demokrasi ini memberikan hak orang untuk melakukan kritikan termasuk demonstrasi juga, itu adalah hak dalam masyarakat demokrasi. Tapi kita mengimbau kepada masyarakat dalam rangka menyampaikan pendapat kiranya kita tidak melampaui batas, siapa pun juga. Mari kita berjalan di atas rel yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan kita,” tambah Nasaruddin.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kondusivitas di Sulsel pascatragedi terbakarnya kantor DPRD Kota Makassar dan DPRD Sulsel yang menyebabkan 4 korban jiwa. Dia mengajak semua pihak agar tidak menambah kesengsaraan masyarakat.
“Sekali lagi kepada masyarakat Sulawesi Selatan mari kita menjaga ketenangan, daerah kita sendiri. Saya kira sudah cukup yang terjadi kemarin, jangan menambah lagi kesengsaraan masyarakat,” katanya.
Menurutnya, aksi demonstrasi rusuh hanya akan merugikan warga. Apalagi jika aksi dilakukan di luar kendali bisa menyebabkan korban jiwa makin bertambah.
“Mari kita mengimbau keluarga kita semuanya karena kan apalagi yang kita cari sudah banyak korban seperti ini dan semuanya juga sudah banyak korban, jadi apalagi yang mau membuat kita melakukan hal-hal yang di luar dugaan. Mari kita mengendalikan diri semuanya. Saya kira ini harapan saya kepada semuanya,” pungkasnya.
Diketahui, aksi demonstrasi berujung kericuhan terjadi di Makassar pada Jumat (29/8). Gedung DPRD Makassar dibakar massa hingga mengakibatkan tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Ketiga korban meninggal, yakni Saiful Akbar (Plt Kasi Kesra Kecamatan Ujung Tanah), Sarinawati (staf pribadi anggota DPRD Makassar), dan Muhammad Akbar Basri alias Abay (staf Humas DPRD Makassar). Ketiga korban yang tewas terjebak sudah dimakamkan.
Sementara itu seorang driver ojek online (ojol), Rusdamdiansyah alias Dandi (26) meninggal dikeroyok usai dituduh sebagai anggota intelejen. Dandi sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tidak tertolong.