Malam Nisfu Syaban adalah salah satu momen istimewa dalam Islam yang dipenuhi berbagai keutamaan. Malam Nisfu Syaban jatuh pada pertengahan atau malam ke-15 bulan Syaban dan menjadi waktu yang dianjurkan untuk meningkatkan ibadah.
Melansir laman Kementerian Agama (Kemenag) RI Kabupaten Lampung Timur, malam Nisfu Syaban diyakini sebagai salah satu malam yang penuh keberkahan dan ampunan dari Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak doa kepada Sang Pencipta.
Lantas, kapan malam Nisfu Syaban 2026?
Untuk mengetahuinya, yuk cek konversi dan amalan yang dianjurkan di bawah ini!
Berdasarkan pada Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kemenag RI, tanggal 15 Syaban 1447 H jatuh pada Selasa, 3 Februari 2026. Karena pergantian hari dalam kalender Hijriah dimulai pada waktu Maghrib, maka tanggal 15 Syaban dimulai sejak Maghrib pada Senin, 2 Februari 2026.
Artinya, malam Nisfu Syaban 2026 dimulai pada hari Senin, 2 Februari 2026 setelah masuk waktu Maghrib.
Berikut rincian jadwal malam Nisfu Syaban 2026:
Berikut adalah beberapa doa yang dapat diamalkan pada malam Nisfu Syaban 2026 atau setelah waktu Maghrib pada Senin, 2 Februari 2026:
Disadur dari buku ‘Kalender Ibadah Sepanjang Tahun’ karya Ustaz Abdullah Faqih Ahmad Abdul Wahid, terdapat doa yang dianjurkan oleh para ulama yang bisa diamalkan oleh setiap muslim. Doa ini adalah doa yang dilafalkan Nabi Adam AS setelah melakukan tawaf sebanyak tujuh kali di Ka’bah dan menunaikan shalat dua rakaat di belakang maqam.
Adapun bacaan doanya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي فَاقْبَلْ مَعْذِرَتِي، وَتَعْلَمُ حَاجَتِيْ فَأَعْطِنِي سُؤَلِي، وَتَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيْمَانًا يُبَاشِرُ قَلْبِيْ وَيَقِيْنَا صَادِقًا حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لَا يُصِيبُنِي إِلَّا مَا كَتَبْتَ لِي وَرَبِّنِي بِقَضَائِكَ
Arab Latin: Allaahumma innaka ta’lamu sirrii wa ‘alaaniyati faqbal ma’dzirati, wata’lamu haajatii fa’thinii suaa-li, wata’lamu maa fii nafsii faghfir lii dzambii. Allaahumma innii as-aluka imaanan yubasyiru qalbii wa yaqiinan shaadiqan hattaa a’lamu annahu laa yushiibunii illaa maa katabta lii waraddani biqadhaa-ik.
Artinya: Ya Allah, sungguh Engkau tahu apa yang tersembunyi dan tampak dariku, karena itu terimalah penyesalanku. Engkau tahu kebutuhanku, maka kabulkanlah permintaanku. Engkau tahu apa yang ada dalam diriku, maka ampunilah dosaku. Ya Allah sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang menyentuh kalbuku dan keyakinan yang benar sehingga aku tahu bahwa tidak akan menimpaku kecuali telah Engkau tetapkan atasku. Ya Allah berikanlah rasa rela terhadap apa yang Engkau bagi untuk diriku.
Dilansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut doa yang dapat diamalkan pada malam Nisfu Syaban yang merujuk pada kitab Maslakul Akhyar karya Mufti Betawi, Syekh Sayyid Utsman bin Yahya:
اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ يَا ذَا الطَّوْلِ وَالْإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِينَ وَمَأْمَنَ الْخَائِفِينَ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِيْ عِنْدَكَ فِي أُمِّ الْكِتَابِ أَشْقِيَاءَ أَوْ مَحْرُومِيْنَ أَوْ مُقَتَرِيْنَ عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ في أُمِّ الْكِتَابِ شَقَاوَتِيْ وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سُعَدَاءَ مَرْزُوْقِيْنَ مُوَفَّقِيْنَ لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ فِي كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى لِسَانٍ نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ: يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ” وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Arab Latin: Allāhumma yā dzal manni wa lā yumannu ‘alaika yā dzal jalāli wal ikrām, yā dzat thauli wal in’ām, lā ilāha illā anta zhahral lājīna wa jāral mustajīrīna, wa ma’manal khā’ifīn. Allāhumma in kunta katabtanī ‘indaka fī ummil kitābi asyqiyā’a au mahrūmīna au muqattarīna ‘alayya fir rizqi, famhullāhumma fī ummil kitābi syaqāwatī, wa hirmānī waqtitāra rizqī, waktubnī ‘indaka su’adā’a marzūqīna muwaffaqīna lil khairāt. Fa innaka qulta wa qaulukal haqq fī kitābikal munzali ‘ala lisāni nabiyyikal mursali “Yamhullāhu mā yasyā’u wa yutsbitu wa ‘indahū ummul kitāb.” Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ‘alā ālihī wa shahbihī wa sallama, walhamdulillāḥi rabbil ‘ālamīn.
Artinya: “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, Engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemilik kekayaan dan pemberi nikmat. Tiada Tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut. Tuhanku, jika Kau mencatatku di sisi-Mu pada Lauh Mahfuzh sebagai orang celaka, sial, atau orang yang sempit rezeki, maka hapuskanlah di Lauh Mahfuzh kecelakaan, kesialan, dan kesempitan rezekiku. Catatlah aku di sisi-Mu sebagai orang yang mujur, murah rezeki, dan taufiq untuk berbuat kebaikan karena Engkau telah berkata-sementara perkataan-Mu adalah benar-di kitabmu yang diturunkan melalui ucapan Rasul utusan-Mu, ‘Allah menghapus dan menetapkan apa yang Ia kehendaki di sisi-Nya Lauh Mahfuzh.’ Semoga Allah memberikan shalawat kepada Sayyidina Muhammad, keluarga, beserta sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.” (Sayyid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, halaman 77-80)
Disebutkan sebelumnya bahwa malam Nisfu Syaban merupakan salah satu malam yang penuh dengan keutamaan, mulai dari dikabulkannya doa, waktu ditentukannya ajal manusia, hingga malam penuh pengampunan. Untuk mengetahui lebih lengkapnya, berikut penjelasan keutamaan malam Nisfu Syaban:
Disadur dari laman Kemenag RI, malam Nisfu Syaban termasuk malam yang mustajab, yakni waktu di mana doa tidak tertolak. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits riwayat al-Dailami, Imam ‘Asakir, dan al-Baihaqy, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Ada 5 malam di mana doa tidak tertolak pada malam-malam tersebut, yaitu: malam pertama bulan Rajab, malam Nisfu Sya’ban, malam jumat, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.”
Sementara dalam buku ‘Buku Hujjah Ilmiah Amalan di Bulan Syaban’ karya Buya Yahya, dijelaskan bahwa Allah SWT akan mengabulkan permohonan hamba-Nya di malam Nisfu Syaban. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits riwayat oleh Imam Ibnu Majah dan Imam Baihaqi:
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ : إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوا لَيْلَهَا وَ صُوْمُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ : أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ ! أَلا مُسْتَرْزِقُ فَأَرْزُقَهُ ! أَلا مُبْتَلَى فَأُعَافِيَهُ ! أَلَّا كَذَا … أَلا كَذَا … حَتَّى يَطْلُعَ الفَجْرُ
Artinya: Dari Sayyidina Ali bin Abu Thalib bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila tiba malam nishfu Sya’ban, shalatlah pada malam harinya dan puasalah di siang harinya karena Allah menyeru hamba-Nya di saat tenggelamnya matahari, lalu berfirman: ‘Adakah yang meminta ampun kepada-Ku? niscaya Aku akan mengampuninya, Adakah yang meminta rezeki kepada-Ku? niscaya akan memberinya rezeki. Adakah yang sakit? niscaya Aku akan menyembuhkannya, Adakah yang demikian (maksudnya Allah akan mengkabul hajat hamba-Nya yang memohon pada waktu itu)…. Adakah yang demikian…. sampai terbit fajar.”
Melansir buku ‘Menggapai Berkah di Bulan-bulan Hijriah’ oleh Siti Zumratus Sa’adah, malam Nisfu Syaban menjadi waktu ditetapkannya ajal manusia. Pada malam ini, malaikat maut akan mencatat nama-nama orang yang akan meninggal dunia hingga datang bulan Syaban berikutnya.
Hal ini diterangkan dalam kitab “Tuhfah Al-Ikhwan” yang diriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, ia berkata,
“Jika datang malam Nisfu Syaban Malaikat Maut mencatat siapa yang akan mendatangi ajalnya dari bulan Syaban itu hingga Syaban yang akan datang. Mungkin seorang laki-laki telah berbuat aniaya, berbuat maksiat, menikahi beberapa wanita, menanam pepohonan, sedang dia tidak tahu bahwa namanya telah tertulis di daftar orang-orang yang mati. Tiada satu malam pun setelah malam Lailatul Qadar lebih utama daripada malam Nisfu Syaban.”
Keutamaan lain dari malam Nisfu Syaban adalah turunnya ampunan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, kecuali orang yang termasuk golongan musyrik, kafir, dan yang memiliki kebencian dalam hatinya.
Keterangan ini sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Al-Baihaqi dan An-Nasa’i berikut:
Dari Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah SAW bersabda,
يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرَ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Artinya: “Allah melihat kepada semua hambanya di malam Nisfu Sya’ban, kemudian memberikan pengampunan kepada mereka semuanya kecuali kepada orang musyrik dan orang yang selalu mengajak kepada perselisihan.” (Al-Baihaqi dan An-Nasa’i)
Dari Abi Tsa’labah Al-Khasyani, dari Rasulullah SAW bersabda,
إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيُمْلِي لِلْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يدعوه.
Artinya: “Jika datang malam Nisfu Sya’ban, maka Allah akan melihat kepada makhluk-Nya, kemudian mengampuni orang-orang yang beriman serta membiarkan orang-orang kafir dan membiarkan orang pendengki dengan kedengkiannya sampai ia memanggil-Nya.” (Al-Baihaqi)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa golongan yang disebutkan sebelumnya tidak akan mendapatkan keutamaan di malam Nisfu Syaban berupa ampunan. Kecuali mereka telah meninggalkan perbuatan tersebut dan bertaubat kepada Allah SWT.
Demikianlah konversi tanggal malam Nisfu Syaban 2026 beserta amalan dan keutamaannya. Semoga bermanfaat!







