Jenazah pramugari korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, akhirnya tiba di RS Bhayangkara, Kota Makassar, malam ini. Jenazah tersebut langsung diserahkan ke tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulawesi Selatan (Sulsel).
Pantauan infoSulsel di lokasi, jenazah korban tiba di RS Bhayangkara, Jalan Kumala, Kota Makassar, sekitar pukul 22.28 Wita. Jenazah tersebut dibawa ke lokasi menggunakan ambulans milik TNI.
Setelah tiba, jenazah langsung diserahterimakan ke tim DVI. Proses penyerahan jenazah tersebut turut disaksikan oleh sejumlah keluarga dari para korban kecelakaan ATR 42-500.
Mereka tampak menangis kendati jenazah yang datang tersebut belum teridentifikasi. Sejumlah kerabat lainnya tampak menenangkan keluarga.
Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan jenazah wanita tersebut memang yang pertama tiba di Makassar. Sementara jenazah pria atau yang pertama ditemukan pada Minggu (18/1) lalu masih tertahan di Kabupaten Maros.
“Alhamdulillah lancar sampai info ini berkat kerja sama tim gabungan. Mudah-mudahan yang pertama segera juga nanti sampai sini,” jelas Bangun Nawoko di lokasi.
Jenazah pramugari pesawat ATR 42-500 tersebut mulanya ditemukan di lereng terjal Gunung Bulusaraung pada Senin (19/1) sekitar pukul 14.00 Wita. Evakuasi jenazah korban sempat tertahan di lereng gunung akibat cuaca ekstrem berupa hujan badai dan kabut tebal.
Situasi di lereng gunung sendiri masih tetap dilanda cuaca ekstrem sejak pagi tadi. Namun tim SAR tetap melakukan evakuasi agar jenazah bisa segera diidentifikasi.
“(Evakuasi hari ini) Dimulai dari pukul 11.00 Wita tadi, karena cuaca yang cukup berat karena hujan, angin, dan angin itu sekitar 20-25 not, itu bisa terselesaikan sampai dengan di puncak itu sampai pukul 17.15 Wita,” jelas Andre Rumbayan.
“Dari pukul 17.15 Wita, tim evakuasi langsung menurunkan jenazah sampai di Desa Tompobulu ini pada pukul 20.00 Wita,” jelasnya.
Jenazah sendiri sempat dibawa ke Posko DVI yang berdampingan dengan Posko Operasi SAR untuk identifikasi awal dan pelabelan jenazah. Namun prosesnya tidak memakan waktu.
“Langsung diterima tim DVI dari Polda Sulawesi Selatan. Kemudian kurang lebih 20 menit dilakukan pelabelan oleh tim, jam 20.30 Wita ini, jenazah langsung dibawa ke Rumah Sakit untuk dilakukan identifikasi,” jelasnya.
