Heboh di media sosial Ketua DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra) La Ode Tariala dicopot dari jabatannya karena isu kedekatan dengan Gubernur Andi Sumangerukka. DPW NasDem Sultra lantas buka suara menanggapi ramainya spekulasi tersebut.
“Kalau kita sebenarnya tidak ada soal hal begitu (kedeketan), tapi yang terpenting jangan melupakan identitas diri di parlemen,” kata Sekretaris DPW NasDem Sultra Muh. Tahir Lakimi kepada infocom, Sabtu (29/11/2025).
Ia menegaskan tugas utama kader yang ditempatkan di parlemen adalah memastikan fungsi legislasi dan pengawasan berjalan maksimal. Menurutnya, partai memberi amanah besar sehingga setiap kader dituntut memiliki kepemimpinan yang kuat dan cerdas.
“Tugas dari partai itu ke parlemen, kemudian juga menyerap aspirasi masyarakat yang berkembang. Kritik fraksi jadi pertimbangan karena yang memimpin provinsi adalah NasDem. Jangan sampai kader yang ditempatkan tidak memiliki kekuatan kepemimpinan yang cerdas,” tegasnya.
Tahir mengatakan ada aspirasi internal yang menyoroti lemahnya konsolidasi di DPRD, dan hal itu menjadi catatan penting bagi partai. Ia menilai dampaknya bisa memengaruhi citra NasDem di mata publik jika tidak segera dievaluasi.
“Ada protes konsolidasi di DPRD itu lemah. Yang kami jaga efek di publik, jangan sampai kader yang dikirim NasDem tidak mumpuni,” ujarnya.
Meski begitu, ia menyebut isu kedekatan dengan gubernur bukan faktor utama. Menurut Tahir, relasi personal bisa saja terjadi, namun yang terpenting adalah menjaga batas agar muruah lembaga tetap terjaga.
“Kita jaga mesin partai di parlemen. Kalau dekat boleh, tapi jangan terlalu dekat-dekat. Itu hanya bunga-bunga dalam perjalanan beliau dan kita memahami itu,” katanya.
Ia menambahkan eksekutif dan legislatif harus tetap berada pada posisi yang setara tanpa saling memengaruhi secara berlebihan. NasDem, kata dia, ingin menjaga wibawa parlemen tetap berdiri tegak dalam menjalankan fungsi kontrolnya.
“Marwah parlemen itu kita jaga. Eksekutif dan legislatif harus ada kesetaraan, jangan ada kedekatan. Kalau dekat (antara La Ode Tariala dan Gubernur Sultra) secara fisik kelihatan, itu tergantung perspektif masing-masing,” ungkapnya.
Tahir menegaskan pergantian pimpinan adalah hal lumrah dalam tubuh partai dan bisa terjadi kapan saja jika dianggap perlu. Ia menilai dinamika ini merupakan bagian dari evaluasi berkelanjutan yang selalu dilakukan NasDem.
“Poinnya, pergantian adalah hal yang wajar di tubuh partai,” katanya.
Terkait pelantikan Ketua DPRD yang baru, Tahir menyebut pihaknya masih menunggu proses resmi dari pemerintah provinsi. Menurutnya, pengukuhan harus melalui usulan gubernur sebelum ditetapkan secara administrasi.
“Tunggu usulan gubernur (pengukuhan) karena dia harus mengukuhkan. Paling lama itu di Januari,” pungkasnya.
Dari isu beredar, La Ode Tariala dicopot dari NasDem karena terlalu mesra dengan Gubernur Sultra. Bahkan, Tariala diklaim terlalu melekat di setiap kegiatan lembaga eksekutif.
