Geger Wanita di Butung Makassar Ditemukan Tewas Tergantung

Posted on

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Warga Butung, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), dibuat geger usai wanita berinisial D (38) ditemukan tewas tergantung di rumahnya. Polisi telah mendatangi lokasi kejadian, namun keluarga korban menolak kasus ini diselidiki lebih lanjut.

Pantauan infoSulsel di rumah korban, Jalan Butung Lorong 200, Kelurahan Butung, Kecamatan Wajo, sekitar pukul 10.45 Wita, Senin (5/1/2026), tampak sejumlah warga berkumpul di ujung lorong rumah korban. Sementara kondisi rumah korban terlihat sepi.

Korban diketahui sudah dibawa oleh keluarganya untuk dimakamkan di kampung halamannya di Kabupaten Pinrang. Informasi yang dihimpun, keluarga telah menerima kejadian yang dialami korban.

Warga bernama Siti Faridah (46) mengatakan korban hanya tinggal berdua dengan adik laki-lakinya. Dia menyebut, suami korban sudah lebih setahun sakit dan saat ini tinggal di kampung.

Farida pun mengaku sempat menanyakan kronologi korban ditemukan tewas tergantung. Dia menyebut korban sebelum tewas masih sempat membangunkan adiknya untuk pergi bekerja sambil melilit sarung di lehernya.

“Na kasih bangun jaka karena sudah mi dia mandi. Sementara na kasih bangun ka sambil na lilit mi itu sarung. Sambil na lilit itu sarung sambil na bilang bangun mako dek pi mandi pi kerja,” ujar Faridah menirukan penjelasan adik korban kepada infoSulsel di lokasi.

Setelah sekitar 15 menit mandi, adik korban lalu naik ke lantai dua untuk pakaian. Saat kembali ke lantai satu, di situlah adik korban mendapati korban tergantung menggunakan sarung.

“Sudah ka pakaian turun ma ku lihat mi kakakku tergantung,” imbuh Faridah.

Sementara itu, Ketua RW 1 Kelurahan Butung, Lahamuddin (58) menjelaskan warga sempat merasakan denyut nadi korban masih berdetak. Sehingga, korban segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan.

“Teman-teman periksa nadinya menyatakan bahwa masih ada denyut nadi. Jadi kami usahakan bawa ke Rumah Sakit Akademis, mungkin bisa tertolong,” kata Lahamuddin.

Namun sesampainya di rumah sakit korban dinyatakan meninggal dunia. Menurut dokter, korban sudah meninggal saat di lokasi kejadian.

“Sampai di rumah sakit, korban sudah tidak tertolong. Menurut dokter mungkin korban sudah meninggal di tempat. Menurut dokter ini sudah sekian menit kematiannya.” imbuhnya.

Mayat korban lalu dibawa ke kampung halamannya di Pinrang. Lahamuddin mengatakan mayat korban tidak diautopsi sebab tidak ada keluarga yang keberatan.

“Tidak diautopsi karena tidak ada pihak keluarga yang menuntut. pihak polisi juga tidak mau autopsi karena tidak ada pihak keluarga yang menuntut,” katanya.