Pemkab Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan (Sulsel), mengungkap adanya kelangkaan elpiji subsidi 3 kg pascalibur Natal dan tahun baru. Kelangkaan diduga dipicu meningkatnya pemakaian untuk acara adat hingga penyalahgunaan oleh pengusaha yang tidak berhak.
“Elpiji 3 kilogram untuk rakyat miskin tapi orang-orang yang beli itu memang tidak berhak, ada yang pengusaha warung dan ada yang beli untuk pesta (acara adat rambu solo’ dan rambu tuka’), dan acara sosial,” kata Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong kepada infoSulsel, Kamis (8/1/2026).
Frederik mengatakan kelangkaan tersebut terungkap setelah dilakukan inspeksi mendadak (sidak) oleh Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID). Tim saat itu menyasar sejumlah pasar di kecamatan, Tallunglipu, Tikala dan Sesean.
“Dari operasi lapangan TPID, harga agen ke pangkalan dan pangkalan ke pengecer itu sudah sesuai. Tapi karena kebutuhan masyarakat meningkat selama Natal dan tahun baru serta elpiji tidak digunakan sesuai peruntukannya, pengecer memanfaatkan moment itu menaikkan harga,” ujarnya.
Pemkab Toraja Utara telah bekerja sama dengan agen dan pangkalan menggelar pasar murah. Pemerintah juga tengah menyinkronkan data warga miskin yang berhak menerima elpiji subsidi.
“Selain kita menggelar operasi pengawasan, sisi pemerintah juga terus berupaya memastikan kecukupan pasokan di masyarakat,” ungkap Frederik.
Frederik juga mengimbau agar penggunaan elpiji subsidi sesuai peruntukannya. Dia menegaskan akan memberi sanksi apabila pengecer menjual di atas harga eceran tertinggi yang telah ditentukan.
“Kita mengimbau masyarakat yang tidak berhak, jangan memakai elpiji subsidi. Dan akan kita laporkan kalau ada pengecer yang menjual di atas harga eceran tertinggi,” pungkasnya.
