Jenazah pramugari Florencia Lolita Wibisono alias Olen telah diserahkan kepada keluarga. Meski berduka, keluarga tidak lupa mendoakan agar tujuh korban lainnya dari insiden pesawat ATR 42-500 segera ditemukan.
Serah terima jenazah Florencia alias Olen berlangsung di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Jalan Kumala, Makassar, Rabu (21/1/2026). Perwakilan keluarga Florencia, Felix mengapresiasi seluruh pihak yang terlibat dalam pencarian jenazah pramugari asal Sulawesi Utara itu.
“Terima kasih kepada Basarnas, TNI-Polri, Biddokkes Polda Sulsel, KKP, serta secara khusus kepada perusahaan tempat Florencia bekerja, yaitu IAT dan Angkasa Pura, serta seluruh pihak yang telah berusaha keras untuk menemukan adik kami,” ujar Felix.
Meski Florencia tidak selamat, pihak keluarga tetap bersyukur atas dedikasi tim SAR gabungan. Dia menyebut jenazah akan segera dibawa ke Jakarta.
“Mengucap syukur atas apa yang telah dikerjakan bagi kami, sehingga adik kami bisa ditemukan,” jelasnya.
Felix kemudian tidak lupa mendoakan sisa korban yang masih dalam pencarian. Dia mendoakan para korban tersebut bisa ikut ditemukan.
“Kami terus berdoa untuk yang lain juga, dikasih kekuatan juga sama seperti kami. Dan juga bisa segera ditemukan sehingga kita semua kembali ke tempat kami masing-masing membawa balik saudara dan kerabat kami yang ada,” jelasnya.
“Kami mohon dukungan doa dari semuanya agar seluruh proses dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta agar kita semua diberikan kekuatan oleh Tuhan untuk menghadapi semuanya,” sambungnya.
Tante Florencia, Suly Mandang menyebut korban sudah menjadi pramugari selama 14 tahun terakhir. Sebelum terbang, korban sempat meminta doa dari ibunya.
“Sebelum dia (Olen) berangkat dari Jogjakarta ke Makassar itu memberi tahu bahwa akan melakukan perjalanan dinas di situ dia minta doakan untuk perjalanannya,” ujar Suly Mandang kepada wartawan, Minggu (18/1).
Suly turut mendampingi ibu Florencia ke Makassar. Kehilangan Olen membuat keluarga terpukul.
“Kakaknya yang menghubungi kami bahwa Olen di pesawat itu. Komunikasi terakhir hari Jumat (16/1) sebelum berangkat,” tuturnya.
Olen dikenal aktif berkomunikasi dengan keluarga. Olen selalu berkabar setiap ada waktu luang dari pekerjaan.
“Ibunya belum lama keluar rumah sakit. Saat ibunya sakit Olen rutin telepon saat ada waktu luang,” ucap Suly.
Olen menghabiskan masa sekolah mulai dari SD hingga SMA di Tondano, Minahasa lalu melanjutkan SMA di Manado.
“Kami percaya sebagai orang beriman apa yang Tuhan buat itu baik adanya,” imbuh Suly.







