Warga di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut), menghadapi situasi mencekam tatkala permukiman mereka diterjang banjir bandang saat dini hari. Akibat bencana tersebut, 16 orang dilaporkan meninggal dunia dan 141 rumah rusak parah.
Banjir bandang menerjang dua kelurahan dan enam desa pada Senin (5/1) sekitar pukul 03.00 Wita. Wilayah terdampak banjir tersebut tersebar pada empat kecamatan meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
“Sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia akibat banjir bandang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari dalam keterangannya, Selasa (6/1/2025).
Berdasarkan laporan sementara hingga Selasa (6/1) pukul 14.00 WIB, lima korban meninggal dunia telah diidentifikasi. Sementara data 11 korban meninggal lainnya masih dalam proses identifikasi.
“Selain itu, 22 orang mengalami luka dan dirujuk ke Puskesmas setempat, serta dua orang dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Jumlah pengungsi sementara tercatat sekitar 682 jiwa,” paparnya.
“Dari sisi kerusakan, banjir bandang mengakibatkan tujuh unit rumah hanyut, 29 unit rumah rusak berat, dan 112 unit rumah rusak ringan,” sambungnya.
Banjir bandang juga menyebabkan sejumlah akses jalan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan. Pendataan kerugian materiil masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.
Gedung Mapolres Sitaro turut rusak parah akibat diterjang banjir bandang. Kepolisian melaporkan sedikitnya ada tiga bangunan di Mapolres Sitaro yang rusak terdampak banjir.
“Rata-rata tiga bangunan lantai 1 hancur, aula hancur parah. Bangunan kedua tempat tahanan, gedung reserse sabhara intel itu lantai 1 hancur,” ujar Kapolres Sitaro, AKBP Iwan Permadi kepada wartawan, Senin (5/1/2025).
“Kalau untuk tahanan sudah dievakuasi duluan. Pada jam 2 subuh karena curah hujan begitu tinggi, tahanan dievakuasi duluan. Ada 5 tahanan yang kami evakuasi sebelum banjir bandang,” tambah Iwan.
Gedung utama lantai 1 juga rusak parah. Situasi ini mengakibatkan pelayanan Mapolres Sitaro belum bisa dilakukan.
“Jadi untuk Polres sendiri lumpuh, tidak bisa operasional lagi karena terputus listriknya,” katanya.
Pemkab Sitaro sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Keputusan ini menyusul dampak banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa.
“Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro,” kata Bupati Kepulauan Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit dalam surat edarannya, Senin (5/1).
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
Status tanggap darurat ini berlaku 14 hari yang dimulai pada 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Selain korban jiwa, banyaknya kerusakan fasilitas umum turut menjadi dasar utama pemerintah setempat menetapkan status tanggap darurat tersebut.
“Penanganan status tanggap darurat Hidrometeorologi yang berlangsung selama 14 (hari), terhitung mulai tanggal 5 Januari 2026 sampai dengan tanggal 18 Januari 2026,” lanjutnya.







