Densus 88 Ingatkan Sekolah di Ternate Waspadai Rekrutmen Teroris Lewat Medsos

Posted on

Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara (Malut) Densus 88 Anti Teror Polri menggelar sosialisasi terkait penyebaran paham radikalisme dan terorisme di Ternate. Pihaknya mengingatkan pihak sekolah untuk mewaspadai modus rekrutmen teroris lewat media sosial dan game online.

Sosialisasi tersebut digelar di SD Negeri 35 Kota Ternate, Maluku Utara, Sabtu (10/1/2026). Sosialisasi ini merupakan bagian dari roadshow kebangsaan yang dilakukan oleh Polri.

Kabid Humas Polda Maluku Utara Kombes Wahyu Istanto Bram W mengatakan, media sosial menjadi jalur yang saat ini dilakukan untuk menyebarkan paham terorisme dan radikalisme. Bahkan modus perekrutan pelaku juga dilakukan melalui game online dan media sosial.

“Modus aksi teror kini menempatkan perempuan dan anak sebagai pelaku. Jalur masuknya seringkali melalui media sosial dan game online,” ujar Kombes Wahyu Istanto Bran W dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).

Dia menjelaskan, modus rekrutmen pelaku terorisme itu menyasar anak-anak yang mempunyai latar belakang masalah. Masalah yang dimaksud seperti keluarga yang kurang harmonis, perundungan, yang menyebabkan emosi anak tidak stabil.

“Faktor kerentanan anak yang menjadi target, antara lain anak-anak dengan latar belakang keluarga yang kurang harmonis (broken home), korban perundungan (bullying) di sekolah, serta mereka yang memiliki kondisi emosional labil,” jelasnya.

Dia berharap, orang tua serta guru di sekolah bisa lebih berperan dalam mengawasi anak-anaknya di media sosial. Apalagi di era digital seperti saat ini di mana anak-anak bisa mengakses media sosial dengan mudah.

“Kunci utama pencegahan ada pada peran orang tua. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak dan membangun komunikasi yang terbuka adalah benteng pertahanan pertama,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri 35 Kota Ternate Nunung mengatakan, sosialisasi ini sangat bermanfaat bagi anak-anak. Hal ini untuk mencegah anak-anak dari paparan paham radikalisme dan terorisme.

“Materi ini sangat penting, terutama tentang bagaimana mencegah anak-anak terpapar radikalisme lewat media sosial, khususnya game online,” pungkas Nunung.