Banjir bandang menerjang empat kecamatan di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), Sulawesi Utara (Sulut). Bencana hidrometeorologi yang terjadi pada dini hari itu menewaskan 17 orang dan 2 lainnya masih dalam pencarian.
Bencana terjadi imbas hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut pada pada Senin (5/1) sekitar pukul 03.00 Wita. Wilayah terdampak banjir tersebut tersebar pada empat kecamatan meliputi Kecamatan Siau Timur, Siau Tengah, Siau Barat, dan Siau Barat Selatan.
“Selain korban jiwa, beberapa rumah hilang, warga yang belum ditemukan serta warga mengalami luka-luka,” kata Bupati Kepulauan Sitaro, Chyntia Ingrid Kalangit dalam keterangannya, Senin (5/1/2026).
Dirangkum infocom, hingga Kamis (8/1), berikut data dan fakta banjir bandang di Kepulauan Sitaro, Sulut:
Bupati Chyntia mengungkapkan hingga Rabu (7/1) malam, jumlah korban tewas menjadi 17 orang. Sementara korban hilang dua orang yakni ayah dan anak bernama Adris Pianaung dan Leonald Pianaung.
“Sudah 17 meninggal dunia, 2 hilang. Dua orang yang masih hilang adalah ayah dan anak,” ujar Chyntia Kalangit kepada infocom, Rabu (7/1).
Dia mengatakan jumlah korban bertambah setelah tim SAR gabungan menemukan balita bernama Clayton Tatambihe (2) di Kampung Peling, Rabu (7/1). Korban ditemukan dalam kondisi tertimbun material bangunan.
“Clayton Tatambihe umur 2 tahun, ditemukan tertimbun di rumah warga,” ungkapnya.
Dia menambahkan bahwa tim SAR gabungan dari unsur TNI, Polri dan relawan masih terus berupaya mencari kedua korban. Pihaknya juga masih berupaya melakukan perbaikan infrastruktur yang rusak.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan jumlah warga mengungsi akibat bencana tersebut sebanyak 682 jiwa. 22 orang di antaranya luka dan dirujuk ke puskesmas.
“Selain itu, 22 orang mengalami luka dan dirujuk ke Puskesmas setempat, serta dua orang dirujuk ke rumah sakit di Manado untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan. Jumlah pengungsi sementara tercatat sekitar 682 jiwa,” kata Abdul Muhari dalam keterangannya, Selasa (6/1).
Selain itu, terdapat tujuh rumah warga yang hanyut tersapu banjir bandang. Sementara yang mengalami rusak berat sebanyak 29 unit dan rusak ringan sebanyak 112 unit.
“Dari sisi kerusakan, banjir bandang mengakibatkan tujuh unit rumah hanyut, 29 unit rumah rusak berat, dan 112 unit rumah rusak ringan,” sambungnya.
Banjir bandang juga menyebabkan sejumlah akses jalan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan. Salah satunya, tiga bangunan di Mapolres Sitaro yang rusak parah terdampak banjir.
“Rata-rata tiga bangunan lantai 1 hancur, aula hancur parah. Bangunan kedua tempat tahanan, gedung reserse sabhara intel itu lantai 1 hancur,” ujar Kapolres Sitaro, AKBP Iwan Permadi kepada wartawan, Senin (5/1).
“Kalau untuk tahanan sudah dievakuasi duluan. Pada jam 2 subuh karena curah hujan begitu tinggi, tahanan dievakuasi duluan. Ada 5 tahanan yang kami evakuasi sebelum banjir bandang,” tambah Iwan.
Dia mengungkapkan gedung utama lantai 1 juga rusak parah dan listrik terputus. Kondisi tersebut membuat pelayanan di Mapolres Sitaro belum bisa dilakukan.
“Jadi untuk Polres sendiri lumpuh, tidak bisa operasional lagi karena terputus listriknya,” katanya.
Pemkab Sitaro sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Keputusan ini menyusul dampak banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa.
“Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro,” kata Bupati Kepulauan Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit dalam surat edarannya, Senin (5/1).
Status tanggap darurat ini berlaku 14 hari yang dimulai pada 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Selain korban jiwa, banyaknya kerusakan fasilitas umum turut menjadi dasar utama pemerintah setempat menetapkan status tanggap darurat tersebut.
“Penanganan status tanggap darurat Hidrometeorologi yang berlangsung selama 14 (hari), terhitung mulai tanggal 5 Januari 2026 sampai dengan tanggal 18 Januari 2026,” lanjutnya.
Dari data yang dihimpun infocom, korban tewas tersebar di sejumlah wilayah seperti Kelurahan Bahu, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, dan Kampung Peling. Di Kelurahan Bahu terdapat 10 korban tewas sementara di Kampung Peling ada 3 orang.
Berikut daftar korban meninggal dunia:
Kelurahan Bahu
1. Santi Diamanis
2. Yantje Tamalonggehe
3. Florensi Bawolce
4. Juanita Bangsa
5. Swingly Dalending
6. Kananta Kairi Kansil (balita)
7. EL Kamanang (balita 4 tahun)
8. Fardilin Tamalonggehe
9. Rakmon Bangsa
10. Yunita More
Kampung Laghaeng
11. Rafles Kobis
12. Hermina Maningide
Kampung Batusenggo
13. Alfian Anise
14. Priskila Saol
Kampung Peling
15. Alexus Olongsongke
16. Silvia Pamondolang
17. Clayton tatambihe, (balita 2 tahun)
1. 17 Korban Tewas-2 Hilang
2. 682 Orang Mengungsi-22 Luka
3. Mapolres Sitaro Rusak Parah
4. Tanggap Darurat hingga 18 Januari
5. Daftar 17 Korban Tewas

Banjir bandang juga menyebabkan sejumlah akses jalan terputus, serta beberapa bangunan kantor dan infrastruktur mengalami kerusakan. Salah satunya, tiga bangunan di Mapolres Sitaro yang rusak parah terdampak banjir.
“Rata-rata tiga bangunan lantai 1 hancur, aula hancur parah. Bangunan kedua tempat tahanan, gedung reserse sabhara intel itu lantai 1 hancur,” ujar Kapolres Sitaro, AKBP Iwan Permadi kepada wartawan, Senin (5/1).
“Kalau untuk tahanan sudah dievakuasi duluan. Pada jam 2 subuh karena curah hujan begitu tinggi, tahanan dievakuasi duluan. Ada 5 tahanan yang kami evakuasi sebelum banjir bandang,” tambah Iwan.
Dia mengungkapkan gedung utama lantai 1 juga rusak parah dan listrik terputus. Kondisi tersebut membuat pelayanan di Mapolres Sitaro belum bisa dilakukan.
“Jadi untuk Polres sendiri lumpuh, tidak bisa operasional lagi karena terputus listriknya,” katanya.
Pemkab Sitaro sendiri telah menetapkan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi. Keputusan ini menyusul dampak banjir bandang yang menelan banyak korban jiwa.
“Penetapan status tanggap darurat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro,” kata Bupati Kepulauan Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit dalam surat edarannya, Senin (5/1).
Status tanggap darurat ini berlaku 14 hari yang dimulai pada 5 Januari hingga 18 Januari 2026. Selain korban jiwa, banyaknya kerusakan fasilitas umum turut menjadi dasar utama pemerintah setempat menetapkan status tanggap darurat tersebut.
“Penanganan status tanggap darurat Hidrometeorologi yang berlangsung selama 14 (hari), terhitung mulai tanggal 5 Januari 2026 sampai dengan tanggal 18 Januari 2026,” lanjutnya.
3. Mapolres Sitaro Rusak Parah
4. Tanggap Darurat hingga 18 Januari
Dari data yang dihimpun infocom, korban tewas tersebar di sejumlah wilayah seperti Kelurahan Bahu, Kampung Laghaeng, Kampung Batusenggo, dan Kampung Peling. Di Kelurahan Bahu terdapat 10 korban tewas sementara di Kampung Peling ada 3 orang.
Berikut daftar korban meninggal dunia:
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Kelurahan Bahu
1. Santi Diamanis
2. Yantje Tamalonggehe
3. Florensi Bawolce
4. Juanita Bangsa
5. Swingly Dalending
6. Kananta Kairi Kansil (balita)
7. EL Kamanang (balita 4 tahun)
8. Fardilin Tamalonggehe
9. Rakmon Bangsa
10. Yunita More
Kampung Laghaeng
11. Rafles Kobis
12. Hermina Maningide
Kampung Batusenggo
13. Alfian Anise
14. Priskila Saol
Kampung Peling
15. Alexus Olongsongke
16. Silvia Pamondolang
17. Clayton tatambihe, (balita 2 tahun)







