Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) diduga kuat jatuh di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kondisi cuaca disebut sedikit berawan saat pesawat tersebut hilang kontak.
“Informasi awal terkait kondisi cuaca pada saat kejadian menunjukkan jarak pandang (visibility) sekitar 8 kilometer dengan kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan sedikit berawan,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa dalam keterangannya, Sabtu (17/1/2026).
Berkaitan dengan antisipasi kondisi cuaca, Lukman mengimbau seluruh operator penerbangan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca. Mulai dari melakukan perencanaan penerbangan secara maksimal, serta mematuhi persyaratan cuaca minimum pada tahap dispatch, take off, dan landing sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP).
“Operator penerbangan diimbau untuk mengimplementasikan ALAR (Approach and Landing Accident Reduction) Toolkit sebagai langkah pencegahan terjadinya incident dan accident, khususnya pada fase pendekatan dan pendaratan di kondisi cuaca buruk maupun wilayah pegunungan,” jelasnya.
Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko mengatakan belum mengetahui persis kondisi cuaca saat kejadian. Namun dia menyebut jika terjadi hujan saat itu.
“Saya belum tahu persis ya. Tapi kalau di sini tadi kalau jam-jam segitu memang hujan dan hilang (reda). Hujan hilang (reda) seperti itu,” paparnya.
Sebelumnya diberitakan, pesawat ATR 42-500 tersebut hilang kontak pada Sabtu (17/1) pukul 13.17 Wita. Pesawat tersebut membawa total 11 orang yang terdiri dari 8 kru dan 3 penumpang.
Kodam XIV/Hasanuddin mengerahkan personel melakukan pencarian pesawat ATR 42-500. Personel yang diturunkan dilengkapi fasilitas Starlink lantaran jaringan telekomunikasi yang sulit di lokasi pencarian.
“Sekarang tim yang membawa alat komunikasi, mohon maaf saya sebutkan merk di sini, Starlink. Karena di sana komunikasinya cukup sulit,” ungkap Pangdam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko saat diwawancara di kantor Basarnas Makassar, Sabtu (17/1).
Mayjen Bangun mengaku akan mengadakan alat komunikasi satelit yang bisa memudahkan pengendalian operasi pencarian dan penyelamatan. Ambulans juga sudah disiagakan di kawasan Leang-leang Maros.
“Untuk Kodam kita sudah siapkan 5 SSK itu lengkap mulai dari tim kesehatan, komunikasi kemudian bahkan tim topografi. Kita nanti akan banyak menggerakkan drone-drone dalam rangka pencarian ini,” jelasnya.







