Beda Kondisi 2 Jenazah Korban Pesawat ATR 42-500 Saat Proses Identifikasi

Posted on

Tim Disaster Victim Identification (DVI) telah mengidentifikasi identitas dua jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 PK-THT di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel). Kondisi kedua jenazah berbeda saat proses identifikasi.

Dua jenazah yang telah diidentifikasi adalah pramugari Florencia Lolita Wibisono dan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Deden Maulana. Jenazah Deden menjadi yang pertama ditemukan oleh tim SAR gabungan sehari setelah insiden kecelakaan yakni pada Minggu (18/1), sementara jenazah Florencia alias Olen ditemukan sehari setelahnya, Senin (19/1).

Namun, jenazah Florencia tiba lebih dulu di RS Bhayangkara Makassar dan langsung menjalani identifikasi pada Selasa (20/1) malam. Sementara jenazah Deden baru tiba di RS Bayangkara ada Rabu (21/1) pagi.

Kapusident Bareskrim Polri Brigjen Mashudi mengatakan tim DVI mengidentifikasi jenazah Florencia melalui sidik jari. Dia menyebut kondisi jenazah masih bagus saat proses identifikasi sehingga mudah diketahui.

“Ya alhamdulillah jenazah kemarin masih dalam keadaan bagus sehingga untuk papiler yang ada di sidik jari masih bisa terbaca. Sehingga kami sudah bisa langsung mengambil sidik jarinya kemudian dengan alat, peralatan yang kami miliki bisa langsung membaca identitas yang bersangkutan,” kata Mashudi saat konferensi pers di Posko DVI Polda Sulsel, Rabu (21/1/2026).

Meski sudah terdeteksi menggunakan alat, Mashudi mengatakan pihaknya tetap melakukan pembuktian lanjutan. Hal ini untuk memastikan identitas korban terbaca akurat dengan data pembanding yang sebelumnya diambil pada postmortem.

“Tetapi untuk memastikan, untuk membuktikan secara sains, saintifik maka kami melakukan pembandingan dengan mengambil sidik jari jempol tangan kiri dan kami melakukan pembandingan dari data pembanding,” jelasnya.

Dia menuturkan pihaknya juga melakukan pembandingan secara manual. Dari serangkaian proses tersebut, pihaknya pun yakin bahwa kantong jenazah dengan kode jenazah PM 62V01 adalah Florencia Lolita Wibisono.

“Ini kami mengambil contoh, ini misalnya sidik jari (menunjuk foto) kami ambil pada post mortem kemudian kita melakukan pembandingan secara manual dengan data pembanding maka kami bisa meyakini secara ilmu, keilmuan bahwa yang bersangkutan adalah Florencia Lolita,” tegasnya.

Sebelum jenazah Deden teridentifikasi, Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris mengatakan kondisi jenazah Florencia dan korban laki-laki yang pertama ditemukan itu berbeda. Sehingga proses identifikasi juga membutuhkan waktu agar hasilnya tepat.

“Untuk alhamdulillah jenazah yang pertama kita periksa karena kondisi jenazahnya masih bagus, sidik jarinya bisa bisa diperiksa dengan baik, sehingga kita dengan cepat bisa merilis bahwa yang bersangkutan Florencia,” kata Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris dalam konferensi pers di Posko DVI Polda Sulsel, Rabu (21/1) petang.

Haris mengatakan ada beberapa faktor yang membuat kondisi jenazah menjadi sulit diidentifikasi. Di antaranya karena proses evakuasi yang berat serta cuaca yang ekstrem sehingga butuh waktu untuk bisa sampai ke tim DVI.

“(Kondisi jenazah) Ya berbeda. Karena ada yang jatuh di kedalaman 400 meter ada yang kemarin di temukan di 200 meter. Kondisi fisiknya sebenarnya apa yah. Ya masih utuh, tapi kita perlu ketepatan,” bebernya.

Belakangan, tim DVI berhasil mengidentifikasi jenazah Deden pada Rabu (21/1) malam. Jenazah kemudian langsung diserahkan kepada keluarga sekitar pukul 22.05 Wita.

Pantauan infoSulsel di Biddokkes Polda Sulsel, jenazah korban telah dimasukkan ke dalam peti dengan disaksikan dari pihak keluarga. Peti jenazah tersebut dilabeli dengan nomor postmortem 62.B.02 atas nama Deden Maulana.

Jenazah Deden diterima langsung oleh istrinya, Vera. Dia tampak mengenakan jilbab dan niqab warna krem.

Namun, tim Biddokkes Polda Sulsel sendiri belum memberi keterangan resmi. Rencananya, Polda Sulsel baru akan memberi penjelasan lebih rinci soal hasil identifikasi jenazah Deden ini pada Kamis (22/1).

“Besok aja yah,” singkat salah satu anggota Tim Biddokes Polda Sulsel.

Proses Identifikasi Jenazah Deden Maulana

Dia menuturkan pihaknya juga melakukan pembandingan secara manual. Dari serangkaian proses tersebut, pihaknya pun yakin bahwa kantong jenazah dengan kode jenazah PM 62V01 adalah Florencia Lolita Wibisono.

“Ini kami mengambil contoh, ini misalnya sidik jari (menunjuk foto) kami ambil pada post mortem kemudian kita melakukan pembandingan secara manual dengan data pembanding maka kami bisa meyakini secara ilmu, keilmuan bahwa yang bersangkutan adalah Florencia Lolita,” tegasnya.

Sebelum jenazah Deden teridentifikasi, Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris mengatakan kondisi jenazah Florencia dan korban laki-laki yang pertama ditemukan itu berbeda. Sehingga proses identifikasi juga membutuhkan waktu agar hasilnya tepat.

“Untuk alhamdulillah jenazah yang pertama kita periksa karena kondisi jenazahnya masih bagus, sidik jarinya bisa bisa diperiksa dengan baik, sehingga kita dengan cepat bisa merilis bahwa yang bersangkutan Florencia,” kata Kabiddokkes Polda Sulsel Kombes Muhammad Haris dalam konferensi pers di Posko DVI Polda Sulsel, Rabu (21/1) petang.

Haris mengatakan ada beberapa faktor yang membuat kondisi jenazah menjadi sulit diidentifikasi. Di antaranya karena proses evakuasi yang berat serta cuaca yang ekstrem sehingga butuh waktu untuk bisa sampai ke tim DVI.

“(Kondisi jenazah) Ya berbeda. Karena ada yang jatuh di kedalaman 400 meter ada yang kemarin di temukan di 200 meter. Kondisi fisiknya sebenarnya apa yah. Ya masih utuh, tapi kita perlu ketepatan,” bebernya.

Proses Identifikasi Jenazah Deden Maulana

Belakangan, tim DVI berhasil mengidentifikasi jenazah Deden pada Rabu (21/1) malam. Jenazah kemudian langsung diserahkan kepada keluarga sekitar pukul 22.05 Wita.

Pantauan infoSulsel di Biddokkes Polda Sulsel, jenazah korban telah dimasukkan ke dalam peti dengan disaksikan dari pihak keluarga. Peti jenazah tersebut dilabeli dengan nomor postmortem 62.B.02 atas nama Deden Maulana.

Jenazah Deden diterima langsung oleh istrinya, Vera. Dia tampak mengenakan jilbab dan niqab warna krem.

Namun, tim Biddokkes Polda Sulsel sendiri belum memberi keterangan resmi. Rencananya, Polda Sulsel baru akan memberi penjelasan lebih rinci soal hasil identifikasi jenazah Deden ini pada Kamis (22/1).

“Besok aja yah,” singkat salah satu anggota Tim Biddokes Polda Sulsel.