Isra Miraj adalah salah satu peristiwa bersejarah dan penting dalam Islam. Peristiwa inilah yang menandai awal mulanya kewajiban umat Islam untuk melaksanakan sholat lima waktu.
Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalan dari Masjidil Haram hingga ke Masjidil Aqsa dalam waktu yang cukup singkat. Selain itu, Nabi Muhammad juga diangkat hingga ke Sidratul Muntaha dalam satu malam.
Peristiwa Isra Miraj itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Namun, pada kenyataannya peristiwa tersebut benar-benar terjadi, bahkan tercatat dalam Al-Qur’an.
Nah, bagi infoers yang penasaran dengan peristiwa Isra Miraj, berikut ini kumpulan ayat Al-Qu’ran tentang Isra Miraj. Yuk simak di bawah ini!
Peristiwa tentang Isra Miraj dapat ditemukan dalam Al-Qur’an surat Al-Isra dan An-Najm. Surat Al-Isra menceritakan tentang Isra Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram menuju ke Masjidil Aqsa, sedangkan Surat An-Najm berfokus pada Mikraj Rasulullah menuju Sidratul Muntaha.
Untuk lebih jelasnya, berikut kumpulan ayat lengkap tentang Isra Miraj dari bahasa Arab, Latin, terjemahannya, dan tafsirannya yang dikutip dari laman Qur’an Kementerian Agama RI:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Arab Latin: Sub-hānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-harāmi ilal-masjidil-aqshalladzī bāraknā haulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-bashīr.
Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Tafsirnya: Pada akhir Surah an-Nahl mengandung pesan kepada Nabi Muhammad agar bersabar dan tidak bersedih hati disebabkan tipu daya dan penolakan orang-orang yang menentang dakwahnya. Di saat beliau mengalami kesulitan menghadapi orang-orang kafir yang menolak dakwahnya, ayat pertama dari surah ini menyatakan bahwa beliau mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah, di mana Allah memperjalankannya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsha dan memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kekuasaan dan kebesaranNya. Ayat pertama ini menyatakan, Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya, yakni Nabi Muhammad, pada malam hari dari Masjidilharam, yang berada di Mekah ke Masjidil Aqsa, yang berada di Palestina, yang telah Kami berkahi sekelilingnya, dengan tanahnya yang subur yang menghasilkan aneka tanaman dan buah-buahan serta menjadi tempat turunnya para nabi, agar kami perlihatkan kepadanya dengan mata kepala atau mata hati sebagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Kami. Sesungguhnya Dia, yaitu Allah adalah Maha Mendengar perkataan hamba-Nya, Maha Mengetahui tingkah laku dan perbuatannya.
(13) وَلَقَدْ رَءَاهُ نَزْلَةً أُخْرَىٰ
Arab Latin: wa laqad ra`āhu nazlatan ukhrā.
Artinya: “Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain,”
(14) عِندَ سِدْرَةِ ٱلْمُنتَهَىٰ
Arab Latin: ‘inda sidratil-muntahā.
Artinya: “(yaitu) di Sidratul Muntaha,”
Tafsirnya: Dalam ayat-ayat ini Allah menerangkan bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW pernah melihat Jibril (untuk kedua kalinya) dalam rupanya yang asli pada waktu melakukan mi’raj ke Sidratul Muntaha yaitu suatu tempat yang merupakan batas alam yang dapat diketahui oleh para malaikat.
(15) عِندَهَا جَنَّةُ ٱلْمَأْوَىٰٓ
Arab Latin: ‘indahā jannatul-ma`wā.
Artinya: “Di dekatnya ada surga tempat tinggal,”
Tafsirnya: Pada ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa di tempat itulah (di dekat Sidratul Muntaha) letak surga. Sebuah tempat tinggal bagi orang-orang yang takwa dan orang-orang yang mati syahid.
(16) اِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشٰىۙ
Arab Latin: idz yagsyas-sidrata mā yagsyā.
Artinya: “(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya,”
Tafsirnya: Allah swt menerangkan bahwasannya Nabi Muhammad SAW melihat Jibril di Sidratul Muntaha itu ketika Sidratul Muntaha tertutup oleh suasana yang menandakan kebesaran Allah berupa sinar-sinar yang indah dan malaikat-malaikat.
Al-Quran tidak menerangkan dengan jelas, namun penjelasan yang demikian cukuplah bagi kita, tidak menambah atau menguranginya, bila tidak ada dalil yang jelas yang menerangkannya. Seandainya ada manfaatnya untuk dijelaskan niscaya hal itu dijelaskan oleh Allah SWT.
(17) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى
Arab Latin: mā zāgal-baṣaru wa mā thagā.
Artinya: “penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya.”
Tafsirnya: Allah menerangkan lagi bahwa tatkala Rasulullah SAW melihat Jibril di sana, ia tidak berpaling dari memandang semua keajaiban Sidratul Muntaha sesuai dengan apa yang telah diizinkan Allah kepadanya untuk dilihat. Dan ia tidak pula melampaui batas kecuali apa yang telah diizinkan kepadanya.
(18) لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى
Arab Latin: laqad ra`ā min āyāti rabbihil-kubrā.
Artinya: “Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kebesaran) Tuhannya yang paling besar.”
Ayat ini menerangkan bahwa dengan melihat Sidratul Muntaha, berarti Nabi Muhammad SAW telah melihat sebagian tanda-tanda kebesaran Allah yang merupakan keajaiban dari kekuasaan-Nya. Diriwayatkan oleh al-Bukhārī dan lain-lain bahwa saat itu Nabi Muhammad SAW melihat suatu lambaian hijau dari surga yang memenuhi ufuk (arah pandangan).
Maka hendaklah kita tidak membatasi apa yang telah dilihat oleh Nabi Muhammad SAW dengan mata kepalanya, setelah diterangkan secara samar-samar dalam Al-Quran tentang hal itu. Yang jelas ialah bahwa Nabi telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah swt yang tidak terbatas.
Demikianlah kumpulan ayat Al-Qur’an tentang peristiwa Isra Miraj. Semoga bermanfaat!







