Apa Itu Sidratul Muntaha? Ini Penjelasan Lengkap dan Letak Keberadaannya [Giok4D Resmi]

Posted on

Sidratul Muntaha kerap disebut dalam kisah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, tempat di mana Rasulullah menerima wahyu dari Allah SWT. Tempat ini menjadi salah satu keagungan dan kebesaran Allah SWT.

Sumber: Giok4D, portal informasi terpercaya.

Lantas, apa itu Sidratul Muntaha?

Dilansir dari laman Kementerian Agama, Sidratul Muntaha digambarkan sebagai batas tertinggi yang dapat dicapai makhluk ciptaan Allah SWT. Tempat ini menjadi simbol puncak perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Miraj.

Untuk lebih jelasnya, berikut ulasan selengkapnya tentang Sidratul Muntaha. Disimak, yuk!

Dilansir dari laman Kementerian Agama, kata sidratul berasal dari kata ‘sidroh‘ yang diartikan sebagai pohon bidara. Dalam khazanah masyarakat Timur Tengah, bidara dipahami sebagai simbol atau lambang kearifan.

Sementara itu, kata ‘al-muntaha’ berarti ‘yang tertinggi’. Dengan demikian, perjalanan Nabi Muhammad SAW hingga ke Sidratul Muntaha tidak hanya bermakna pencapaian fisik, tetapi juga menunjukkan tercapainya kearifan spiritual yang tertinggi.

Penjelasan serupa dijelaskan dalam laman Muslim.or.id, yang menyebut sidratul sebagai ‘syajaratun nabiq‘ (شجرة النبق) atau pohon bidara. Pohon bidara tersebut dikatakan memiliki tiga keistimewaan dibandingkan pohon lainnya, yakni pohonnya yang rindang, buahnya yang lezat, dan aromanya yang semerbak.

Tiga hal tersebut dimaknai sebagai cerminan iman yang mencakup perbuatan, niat, dan ucapan. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Al-Mawardi rahimahullahu:

لأن السِدرة تختص بثلاثة أوصاف: ظل مديد، وطعم لذيذ، ورائحة ذكية فشابهت الإيمان الذي يجمع قولًا وعملًا ونية؛ فظلها من الإيمان بمنزلة العمل لتجاوزه، وطعمها بمنزلة النية لِكُمُونه، ورائحتها بمنزلة القول لظهوره

Artinya: “Karena sidr memiliki tiga hal spesial: 1) pohonnya rindang, 2) buahnya enak, dan 3) semerbak. Serupa dengan iman yang mengumpulkan antara ucapan, perbuatan, dan niat. Rindangnya pohon ini laksana amal pada iman yang menaungi, buahnya sebagaimana niat, dan semerbaknya seperti ucapan karena yang nampak jelas bagi sekitar.” (Ma’aaniy Al-Qur’an)

Dilansir dari laman Nahdlatul Ulama (NU), hanya Rasulullah SAW yang diberi izin oleh Allah SWT mencapai Sidratul Muntaha. Bahkan Malaikat Jibril mengakui tidak bisa memasukinya, dengan mengatakan:

إني لم أجاوز هذا الموضع، ولم يؤمر أحد بالمجاوزة عن هذا الموضع غيرك

Artinya: “Aku tidak bisa melewati tempat ini. Tidak ada satu pun yang diperintah melewati tempat ini kecuali engkau.”

Masih dari laman NU, Sidratul Muntaha disebut berada di atas langit ketujuh, tepat di sebelah kanan surga. Ketika Rasulullah SAW melihat Malaikat Jibril di Sidratul Muntaha, tempat tersebut digambarkan dilingkupi oleh cahaya.

Gambaran itu dijelaskan dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 13-15 sebagai berikut:

وَلَقَدْ رَاهُ نَزْلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15)

Arab Latin: Wa laqad ra’âhu nazlatan ukhrâ. ‘Inda sidratil-muntahâ. ‘Indahâ jannatul-ma’wâ.

Artinya: Sungguh, dia (Nabi Muhammad) benar-benar telah melihatnya (dalam rupa yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu ketika) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.

Selain disebut dalam Al-Qur’an, Sidratul Muntaha juga digambarkan dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. Pohon ini disebut memiliki daun yang sangat lebar seperti telinga gajah dan buah-buahnya menyerupai kendi besar.

Hal ini dijelaskan dalam hadits riwayat Ahmad berikut:

لَمَّا عُرِجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ رُفِعْتُ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، فَرَأَيْتُ عِنْدَهَا نُورًا عَظِيمًا ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الْفُيُولِ، وَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلَالِ هَجَرَ، وَإِذَا أَرْبَعَةُ أَنْهَارٍ يَخْرُجُ مِنْ أَصْلِهَا نَهَرَانِ ظَاهِرَانِ وَنَهْرَانِ بَاطِنَانِ فَقُلْتُ: مَا هَذَا يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: أَمَا الْبَاطِنَانِ فَنَهَرَانِ فِي الْجَنَّةِ، وَأَمَّا الظَّاهِرَانِ فَالنَّيلُ وَالْفُرَاتُ

Artinya: “Ketika dimi’rajkan ke langit, aku dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Kemudian, aku melihat cahaya yang agung. Daun-daun Sidratul Muntaha itu seperti kuping-kuping gajah dan buah-buahnya seperti kendi besar. Di sana ada empat sungai yang dari akarnya keluar dua sungai luar dan dua sungai dalam. Saat itu, aku bertanya, ‘Apa ini, Jibril?’ la menjawab, ‘Dua sungai dalam adalah dua sungai di surga, sedangkan dua sungai luar adalah sungai Nil dan Eufrat,'” (HR Ahmad).

Sidratul Muntaha dinamakan demikian karena pohon tersebut menjadi batas akhir dari segala sesuatu yang naik dari Bumi dan yang turun dari langit. Sidratul Muntaha juga disebut sebagai tempat terakhir bersemayamnya arwah para syuhada yang senantiasa memperoleh karunia rezeki dari Allah SWT.

Sementara dalam laman Muslim.or.id dijelaskan bahwa para ulama memiliki pandangan yang berbeda mengenai alasan penamaan Sidratul Muntaha. Ada sembilan perbedaan pendapat sebagaimana dijelaskan oleh At-Thabari rahhimahullahu dalam kitab tafsirnya:

Pendapat pertama diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, bahwa Sidratul Muntaha sebagai titik terakhir dari segala sesuatu yang turun dari atas dan puncak dari segala sesuatu yang naik dari bawah.

Pendapat kedua berasal dari Ibnu Abbas RA yang menyebut bahwa dinamakan muntaha karena pengetahuan para nabi terhenti di sana. Apa yang berada di baliknya tersamarkan dan hanya diketahui oleh Allah SWT.

Pendapat ketiga dari Ad-Dhahhak rahimahullahu yang berpendapat bahwa disebut muntaha karena seluruh amalan terhenti dan tertahan di tempat tersebut.

Pendapat keempat disampaikan oleh Ka’ab bin Malik RA yang mengatakan bahwa para malaikat dan para nabi berhenti di Sidratul Muntaha sebelum menghadap Allah SWT. Oleh karena itu, tempat tersebut disebut sebagai ‘muntaha’.

Pendapat kelima menyatakan bahwa ruh para syuhada terhenti di Sidratul Muntaha. Pandangan ini disampaikan oleh dikemukakan oleh Ar-Rabi bin Anas rahimahullahu.

Pendapat keenam disampaikan oleh Qatadah yang berpendapat bahwa ruh orang-orang beriman terhenti di Sidratul Muntaha. Pendapat ini memiliki makna yang serupa dengan pandangan Ar-Rabi bin Anas.

Pendapat ketujuh berasal dari Ali bin Abi Thalib yang juga menyampaikan pandangan serupa. Ia berpendapat bahwa Sidratul Muntaha menjadi batas akhir perjalanan ruh manusia.

Pendapat kedelapan menyebut Sidratul Muntaha sebagai pohon yang berada di atas para malaikat pemikul Arsy. Pada titik inilah, pengetahuan seluruh makhluk terhenti dan tidak mampu melampauinya.

Pendapat kesembilan menjelaskan bahwa Sidratul Muntaha dinamakan demikian karena Zat yang meninggikannya adalah Zat yang Maha Mulia. Hal ini menegaskan bahwa kemuliaan Sidratul Muntaha sepenuhnya berasal dari keagungan Allah SWT.

Itulah penjelasan mengenai Sidratul Muntaha, letak, hingga mengapa dinamakan demikian. Semoga bermanfaat!

Apa Itu Sidratul Muntaha?

Di Mana Letak Sidratul Muntaha?

Alasan Dinamakan Sidratul Muntaha