Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menutup ekspor minyak mentah Venezuela usai menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Hal ini dilakukan agar AS bisa menguasai infrastruktur minyak di Venezuela.
Dilansir dari infoFinance yang mengutip Reuters, Senin (5/1/2026), Trump mengungkap akan mengutus perusahaan raksasa minyak AS ke Venezuela. Dia ingin infrastruktur minyak di sana bisa diperbaiki.
“Kita akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia,” ujar Trump, Minggu (4/1/2026).
“Untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara ini (Venezuela),” sambungnya.
Direktur Program Energi Amerika Latin Baker Institute Rice University, Francisco Monaldi mengungkap tiga perusahaan yang beroperasi di ladang minyak Venezuela. Ketiga perusahaan tersebut yaitu Chevron Corporation, ExxonMobil, dan ConocoPhillips.
“Exxon, Conoco, dan Chevron, ketiganya tidak akan khawatir untuk berinvestasi dalam minyak berat, mengingat minyak tersebut sangat dibutuhkan di Amerika Serikat dan mereka kurang fokus pada dekarbonisasi,” kata Monaldi.
Monaldi menjelaskan Chevron Corporation merupakan perusahaan minyak AS yang tengah beroperasi di Venezuela. Perusahaan tersebut menghasilkan minyak mentah berat untuk sejumlah kilang di Pantai Teluk AS.
Sedangkan ExxonMobil dan ConocoPhillips perusahaan AS yang pernah menggarap proyek di Venezuela. Kedua perusahaan itu pernah beroperasi di era kepemimpinan Hugo Chavez selama hampir dua periode.
Namun, dari ketiga perusahaan yang memiliki potensi besar menguasai ladang minyak Venezuela adalah ConocoPhillips. Monaldi membeberkan ConocoPhillips memiliki piutang sebesar 10 miliar dollar AS atau sebesar Rp 167 triliun.
“Perusahaan yang kemungkinan besar akan sangat tertarik untuk kembali adalah Conoco, karena mereka memiliki piutang lebih dari US$ 10 miliar, dan kecil kemungkinan mereka akan dibayar tanpa kembali ke negara itu,” kata Monaldi.
Peneliti Senior di Program Keamanan Energi dan Perubahan Iklim di Pusat Studi Strategis dan Internasional, Clayton Seigle mengingatkan risiko bagi perusahaan AS jika menguasai minyak Venezuela. Dia menilai keputusan tersebut lebih mendatangkan kerugian daripada keuntungan.
Clayton mengatakan harga minyak mentah sedang tidak cukup tinggi. Mengingat mengekstraksi lebih banyak minyak dari Venezuela membutuhkan pembangunan infrastruktur minyak yang menelan biaya miliaran dolar AS.
“Dan harga minyak mentah saat ini tidak cukup tinggi untuk membuat investasi semacam ini menjadi mudah. Selain itu, penyulingan minyak mentah khas Venezuela sendiri merupakan usaha yang mahal,” ujar Clayton melansir infoFinance yang mengutip CNN, Senin (5/1/2026).
Clayton menekankan perusahaan yang hendak mengelola ladang minyak Venezuela mempertimbangkan peluang. Menurutnya, akan sulit menjual minyak mentah di negara yang sedang dilanda krisis politik setelah penggulingan presidennya.
“Hal itu akan menjadi perhatian utama para perencana perusahaan dan perencana industri yang ingin mempertimbangkan peluang bagus di sana,” pungkasnya.
Sebagai informasi, Maduro dan istrinya, Cilia Flores ditangkap pasukan AS pada Sabtu (3/1) dini hari. Dia ditangkap karena dinilai sebagai pemimpin yang tidak sah dan dianggap mendukung kartel narkoba.







