Ada Ulat di Menu MBG Siswa SDN 166 Pinrang, Diduga dari Ikan Tuna

Posted on

Siswa SDN 166 Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan (Sulsel), menemukan ulat di menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Ulat tersebut diduga dari lauk ikan tuna yang diolah tidak dalam kondisi segar.

“Iya ada kemarin ulat ditemukan di menu MBG siswa (SDN 166 Pinrang),” ujar Ketua Komite SDN 166 Pinrang Baharuddin kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).

Peristiwa itu terjadi di SDN 166 Desa Pananrang, Kecamatan Mattiro Bulu, pada Rabu (21/1). Baharuddin yang menerima laporan dari kepala sekolah langsung memanggil pihak terkait di antaranya Kapolsek Mattiro Bulu dan Kepala Desa Pananrang.

“Jadi kepala sekolah yang panggil saya. Di situ ada kapolsek, ada Babinsa, Bhabinkamtibmas, ada juga pak desa, saya juga turun,” kata Baharuddin yang juga anggota DPRD Pinrang.

Dia mengungkapkan ulat tersebut berasal dari lauk ikan tuna. Dia pun menduga pihak penyedia makanan mengolah ikan tuna untuk para siswa bukan yang segar.

“Menunya ikan tuna. Saya curigai ini pihak dapur bukan ikan mentah dia masak. Mungkin di luar ikan masak dia terima,” ujarnya.

Dia sempat menanyakan langsung terkait persoalan tersebut ke pihak penyedia makanan. Namun pihak pengelola berdalih lauk ikan tuna itu dimasak pada malam sebelum paket MBG dibagikan.

“Saya tadi tanya pengelolanya, kapan di masak (ikan) dek? Katanya jam 10 malam. Saya tidak percaya kalau jam 10 malam dimasak baru berulat paginya,” tambah Baharuddin.

Baharuddin mendesak pihak pengelola dapur bertanggung jawab atas masalah ini. Dia khawatir kasus keracunan usai menyantap MBG juga terjadi di SDN 166 Pinrang.

“Tentu ini harus ada bentuk pertanggungjawaban agar jangan terulang lagi dan ada evaluasi,” ungkapnya.

Sementara Kepala SPPG Manarang, Muh Ali Fikri menanggapi terkait temuan ulat tersebut. Pihaknya telah melakukan penelusuran internal untuk memastikan sumber temuan tersebut.

“Kami menyampaikan klarifikasi terkait temuan ulat di menu MBG pada hari Rabu di SDN 166 Kariango. Setelah kami melakukan penelusuran internal, ulat tersebut berasal dari buah rambutan dan bukan dari ikan,” katanya.

Ia menjelaskan, ulat tersebut diduga berpindah ke menu ikan saat proses distribusi makanan. Meski demikian, pihak SPPG Manarang mengakui adanya kelalaian dalam proses pengawasan dan berkomitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

“Kejadian ini menjadi bahan evaluasi kami agar ke depan proses sortasi bahan makanan, terutama buah-buahan, dilakukan lebih ketat sebelum didistribusikan,” tambahnya.

Ia menegaskan, akan memperketat pengawasan terhadap seluruh proses pengolahan makanan, termasuk sterilisasi dapur dan distribusi, guna memastikan kualitas dan keamanan makanan.

“Kami akan melakukan evaluasi serta memperketat pengawasan dan sterilisasi dapur agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Adrian.