7 Fakta Operasi SAR ATR 42-500: Korban Meninggal Bertambah-Medan Kian Ekstrem | Giok4D

Posted on

Operasi SAR pencarian korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), masih terus berlangsung. Sejauh ini, baru dua korban yang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

Tim SAR gabungan menemukan dua korban pada waktu dan lokasi yang berbeda. Korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada hari kedua pencarian yakni Minggu (18/1) sekitar pukul 14.20 Wita, sementara korban kedua berjenis kelamin perempuan ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita.

Kedua jenazah korban hingga saat ini masih belum bisa dievakuasi. Tim SAR masih terkendala kondisi cuaca dan medan yang kian ekstrem.

Dirangkum infoSulsel, Selasa (20/1/2026), berikut 7 fakta operasi SAR pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung:

Korban pertama ditemukan sekitar pukul 14.20 Wita pada koordinat 04°54′ 44″S dan 119° 44′ 48″. Korban ditemukan di sekitar jurang dengan kedalaman kurang lebih 200 meter.

“Di kedalaman jurang sekitar kurang lebih 200 meter dan berada di sekitar serpihan pesawat,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Minggu (18/1).

Arif menyampaikan bahwa operasi berlangsung dalam kondisi medan ekstrem dan cuaca yang sangat menantang. Jarak pandang hanya mencapai lima meter di lokasi pencarian.

“Sejak pagi hari, tim SAR menghadapi cuaca hujan lebat dan kabut tebal dengan jarak pandang terbatas sekitar lima meter di puncak. Hal ini berdampak pada pergerakan tim, termasuk sempat terjadi pembatalan penurunan vertikal demi keselamatan personel,” jelas Arif.

Tim SAR gabungan belum bisa mengevakuasi korban setelah ditemukan sehingga membuat tim penyelamat mendirikan camp di dekat jenazah pada Minggu malam. Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor evakuasi tertunda.

“Saat ini belum bisa mengangkat korban. Kondisi cuaca, beberapa kali sudah dicoba untuk mengangkat tapi tidak berhasil. Kondisi cuaca di lapangan hujan lebat,” kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan kepada wartawan, Minggu (18/1).

Melihat situasi di lapangan, tim SAR gabungan pun memutuskan mendirikan camp. Andi Sultan mengatakan lokasi camp dekat dari jenazah korban.

“Malam ini tim SAR camp dekat jenazah,” ungkapnya.

Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal milik pesawat ATR 42-500 belakangan juga ditemukan. Benda berwarna oranye tersebut sempat dikira blackbox atau kotak hitam pesawat.

“Setelah dicek kembali dan diteliti, itu ternyata bukan blackbox walaupun warnanya sama (dengan blackbox),” ujar Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan kepada wartawan di Posko Tim SAR, Desa Tompobulu, Kecamata Balocci, Pangkep, Minggu (18/1) malam.

Andre mengakui pihaknya memang sempat keliru karena mengidentifikasi alat tersebut sebagai kotak hitam pesawat. Menurutnya, hal ini terjadi karena ciri-ciri yang mirip antara ELT dan kotak hitam.

“Bahwa itu bukan blackbox, warnanya sama, hanya namanya ELT yaitu alat pendeteksi radar. Karena kondisinya malam tadi,” jelasnya.

Sebagai informasi, ELT berfungsi untuk mengirim sinyal darurat jika pesawat mengalami kecelakaan. Alat tersebut sempat dicurigai rusak akibat pesawat menabrak lereng gunung.

Memasuki hari ketiga pencarian, pihak keluarga mengklaim smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan terdeteksi mencatatkan 13.647 langkah setelah pesawat ATR 42-500 jatuh. Temuan ini membuat keluarga percaya Farhan sedang bertahan hidup dan berharap tim SAR memperkuat pencarian.

Pihak keluarga, Pitri Keandedes Hasibuan (30), mengatakan ponsel kopilot Farhan sudah ditemukan pada hari pesawat tersebut jatuh, Sabtu (17/1). Menurut dia, ponsel tersebut diserahkan kepada pacar Farhan bernama Dian saat datang ke posko tim SAR di Desa Tompobulu, Pangkep, Minggu (18/1).

“Tanggal 18 adik saya di sana, terus ada yang manggil dari sana, yang di tempat itulah, posko itulah, tempat kejadian. Ini ada ditemukan HP, kayak gitu. Ya udah terus adik saya turun melihat HP-nya, terus diambil sama adik saya kayak gitu,” ujar Pitri saat dimintai konfirmasi infosulsel, Senin (19/1/2026).

Menurut Pitri, ponsel tersebut terhubung dengan smartwatch yang dikenakan oleh kopilot Farhan. Dia juga memperlihatkan tangkapan layar ponsel yang menerima data dari smartwatcht dengan keterangan hingga 13.647 langkah sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, Minggu (18/1).

“Intinya HP itu di tangan adik saya tadi malam, malam tadi. Terus udah dicek semuanya, ternyata ada pergerakan itu, ditemukan di handphone dia itu pergerakan langkah kaki Farhan jam 6 pagi, 10, sama malam kali ya,” jelasnya.

Basarnas kemudian berkoordinasi dengan Polda Sulsel terkait klaim keluarga yang menyebut smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan mencatatkan 13.647 langkah. Ini dilakukan demi bisa mengetahui posisi smartwatch tersebut.

“Kami sudah koordinasi bahwa pihak pacar (korban) ini sudah melaporkan ke Cyber Crime Polda untuk kami meminta supaya bisa dilacak koordinat terakhir untuk membantu kami,” ujar Staf Search Mission Coordinator (SMC) Basarnas Arman kepada infosulsel di Posko SAR, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Senin (19/1).

Arman mengakui ponsel kopilot Farhan sempat ditemukan lalu diserahkan ke pacar korban, namun ponsel tersebut sudah diserahkan ke Polda Sulsel. Dia juga mengakui adanya aktivitas smartwatch Kopilot Farhan seperti yang diklaim oleh keluarga korban.

“Koordinat on terakhir, karena di laporan yang dia kirim itu per jam 6.53 Wita hari Minggu itu ada terbaca sampai 9.000 langkah, terus sampai ke jam 10 (malam) itu 13.000 langkah. Untuk memastikan bahwa ini, karena yang beredar itu katanya ada langkah ini,” jelasnya.

“Kami belum bisa memastikan bahwa ini hidup atau gimana. Intinya, hape ini kami serahkan (ke Polda) memang kemarin untuk bisa dibuka kuncinya. Karena locknya nggak bisa dimenuhi. makanya kami buatkan surat pernyataan (pacar korban) supaya bisa dibawa ke Makassar untuk bisa dibuka,” sambungnya.

Pada hari ketiga, tim SAR gabungan juga menemukan korban kedua yang merupakan pramugari pesawat. Korban ditemukan meninggal dunia di jurang dengan kedalaman kurang lebih 500 meter.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita. Berdasarkan laporan dari tim di lapangan, korban kedua berjenis kelamin perempuan. Namun Safii menyebut identitas korban masih belum bisa dipastikan.

“Nanti mungkin (identitas korban) persisnya dari DVI, tapi dari informasi awal bahwa korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan berjenis kelamin perempuan,” beber Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Senin (19/1).

Dia menyampaikan korban ditemukan di area tebing yang sangat terjal dan curam. Korban kedua itu ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

“Lokasi kejadian berada pada kondisi tebing yang sangat terjal dan curam. Begitu juga dengan kedalaman korban diperkirakan ada di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung,” terang Syafii.

Lebih lanjut Syafii menegaskan identitas korban akan disampaikan oleh pihak berwenang. Dia hanya bisa memastikan bahwa proses evakuasi masih terus berlangsung.

“Untuk menentukan identitas dari korban tentunya bukan dari kita. Yang ingin saya sampaikan saat ini sedang dalam upaya proses evakuasi,” ucapnya.

Tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang pribadi milik korban pesawat ATR 42-500. Barang milik korban serta bagian dari pesawat ditemukan usai dilakukan penyisiran intensif tim darat di jalur ekstrem antara puncak dan Pos 9 jalur pendakian.

“Tim SAR gabungan menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik. Selain itu, juga ditemukan beberapa bagian dari pesawat seperti pelampung dan fire signal, di sekitar bagian kepala pesawat,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Senin (19/1).

Sejumlah barang milik korban dan bagian pesawat yang ditemukan telah diamankan, didata dan diberi titik koordinat sesuai prosedur. Temuan ini menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian serta menentukan langkah lanjutan dalam proses evakuasi.

“Medan di lokasi kejadian sangat curam dan berisiko tinggi. Proses pencarian dilakukan dengan teknik khusus, termasuk repling dan pembukaan jalur, sehingga membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat antarunsur,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii menilai penemuan barang milik korban tersebut merupakan titik terang dari operasi ini. Pihaknya mengapresiasi kerja keras, disiplin, dan kolaborasi semua unsur di lapangan.

“Penemuan barang-barang milik korban dan bagian dari pesawat menunjukkan bahwa tim SAR gabungan sudah berada sangat dekat dengan titik-titik krusial,” jelasnya.

1. Korban Pertama Ditemukan di Jurang 200 Meter

2. Tim SAR Dirikan Camp di Dekat Jenazah Korban

3. ELT Pesawat ATR 42-500 Ditemukan

4. Keluarga Klaim Smartwatch Kopilot Catat 13.647 Langkah

5. Basarnas Koordinasi Polda soal Smartwatch

6. Korban Kedua Ditemukan di Jurang 500 Meter

7. Tim SAR Temukan Barang Pribadi Korban

Berita lengkap dan cepat? Giok4D tempatnya.

Tim SAR gabungan belum bisa mengevakuasi korban setelah ditemukan sehingga membuat tim penyelamat mendirikan camp di dekat jenazah pada Minggu malam. Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor evakuasi tertunda.

“Saat ini belum bisa mengangkat korban. Kondisi cuaca, beberapa kali sudah dicoba untuk mengangkat tapi tidak berhasil. Kondisi cuaca di lapangan hujan lebat,” kata Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan kepada wartawan, Minggu (18/1).

Melihat situasi di lapangan, tim SAR gabungan pun memutuskan mendirikan camp. Andi Sultan mengatakan lokasi camp dekat dari jenazah korban.

“Malam ini tim SAR camp dekat jenazah,” ungkapnya.

2. Tim SAR Dirikan Camp di Dekat Jenazah Korban

Emergency Locator Transmitter (ELT) atau alat pemancar sinyal milik pesawat ATR 42-500 belakangan juga ditemukan. Benda berwarna oranye tersebut sempat dikira blackbox atau kotak hitam pesawat.

“Setelah dicek kembali dan diteliti, itu ternyata bukan blackbox walaupun warnanya sama (dengan blackbox),” ujar Danrem 141 Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan kepada wartawan di Posko Tim SAR, Desa Tompobulu, Kecamata Balocci, Pangkep, Minggu (18/1) malam.

Andre mengakui pihaknya memang sempat keliru karena mengidentifikasi alat tersebut sebagai kotak hitam pesawat. Menurutnya, hal ini terjadi karena ciri-ciri yang mirip antara ELT dan kotak hitam.

“Bahwa itu bukan blackbox, warnanya sama, hanya namanya ELT yaitu alat pendeteksi radar. Karena kondisinya malam tadi,” jelasnya.

Sebagai informasi, ELT berfungsi untuk mengirim sinyal darurat jika pesawat mengalami kecelakaan. Alat tersebut sempat dicurigai rusak akibat pesawat menabrak lereng gunung.

3. ELT Pesawat ATR 42-500 Ditemukan

Memasuki hari ketiga pencarian, pihak keluarga mengklaim smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan terdeteksi mencatatkan 13.647 langkah setelah pesawat ATR 42-500 jatuh. Temuan ini membuat keluarga percaya Farhan sedang bertahan hidup dan berharap tim SAR memperkuat pencarian.

Pihak keluarga, Pitri Keandedes Hasibuan (30), mengatakan ponsel kopilot Farhan sudah ditemukan pada hari pesawat tersebut jatuh, Sabtu (17/1). Menurut dia, ponsel tersebut diserahkan kepada pacar Farhan bernama Dian saat datang ke posko tim SAR di Desa Tompobulu, Pangkep, Minggu (18/1).

“Tanggal 18 adik saya di sana, terus ada yang manggil dari sana, yang di tempat itulah, posko itulah, tempat kejadian. Ini ada ditemukan HP, kayak gitu. Ya udah terus adik saya turun melihat HP-nya, terus diambil sama adik saya kayak gitu,” ujar Pitri saat dimintai konfirmasi infosulsel, Senin (19/1/2026).

Menurut Pitri, ponsel tersebut terhubung dengan smartwatch yang dikenakan oleh kopilot Farhan. Dia juga memperlihatkan tangkapan layar ponsel yang menerima data dari smartwatcht dengan keterangan hingga 13.647 langkah sejak pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita, Minggu (18/1).

“Intinya HP itu di tangan adik saya tadi malam, malam tadi. Terus udah dicek semuanya, ternyata ada pergerakan itu, ditemukan di handphone dia itu pergerakan langkah kaki Farhan jam 6 pagi, 10, sama malam kali ya,” jelasnya.

4. Keluarga Klaim Smartwatch Kopilot Catat 13.647 Langkah

Basarnas kemudian berkoordinasi dengan Polda Sulsel terkait klaim keluarga yang menyebut smartwatch milik kopilot Farhan Gunawan mencatatkan 13.647 langkah. Ini dilakukan demi bisa mengetahui posisi smartwatch tersebut.

“Kami sudah koordinasi bahwa pihak pacar (korban) ini sudah melaporkan ke Cyber Crime Polda untuk kami meminta supaya bisa dilacak koordinat terakhir untuk membantu kami,” ujar Staf Search Mission Coordinator (SMC) Basarnas Arman kepada infosulsel di Posko SAR, Desa Tompobulu, Kecamatan Balocci, Pangkep, Senin (19/1).

Arman mengakui ponsel kopilot Farhan sempat ditemukan lalu diserahkan ke pacar korban, namun ponsel tersebut sudah diserahkan ke Polda Sulsel. Dia juga mengakui adanya aktivitas smartwatch Kopilot Farhan seperti yang diklaim oleh keluarga korban.

“Koordinat on terakhir, karena di laporan yang dia kirim itu per jam 6.53 Wita hari Minggu itu ada terbaca sampai 9.000 langkah, terus sampai ke jam 10 (malam) itu 13.000 langkah. Untuk memastikan bahwa ini, karena yang beredar itu katanya ada langkah ini,” jelasnya.

“Kami belum bisa memastikan bahwa ini hidup atau gimana. Intinya, hape ini kami serahkan (ke Polda) memang kemarin untuk bisa dibuka kuncinya. Karena locknya nggak bisa dimenuhi. makanya kami buatkan surat pernyataan (pacar korban) supaya bisa dibawa ke Makassar untuk bisa dibuka,” sambungnya.

5. Basarnas Koordinasi Polda soal Smartwatch

Pada hari ketiga, tim SAR gabungan juga menemukan korban kedua yang merupakan pramugari pesawat. Korban ditemukan meninggal dunia di jurang dengan kedalaman kurang lebih 500 meter.

Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan korban ditemukan sekitar pukul 14.00 Wita. Berdasarkan laporan dari tim di lapangan, korban kedua berjenis kelamin perempuan. Namun Safii menyebut identitas korban masih belum bisa dipastikan.

“Nanti mungkin (identitas korban) persisnya dari DVI, tapi dari informasi awal bahwa korban pertama yang kita temukan berjenis kelamin laki-laki dan kedua informasi yang kita dapatkan berjenis kelamin perempuan,” beber Syafii kepada wartawan di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar, Senin (19/1).

Dia menyampaikan korban ditemukan di area tebing yang sangat terjal dan curam. Korban kedua itu ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung.

“Lokasi kejadian berada pada kondisi tebing yang sangat terjal dan curam. Begitu juga dengan kedalaman korban diperkirakan ada di kedalaman 500 meter dari puncak Gunung Bulusaraung,” terang Syafii.

Lebih lanjut Syafii menegaskan identitas korban akan disampaikan oleh pihak berwenang. Dia hanya bisa memastikan bahwa proses evakuasi masih terus berlangsung.

“Untuk menentukan identitas dari korban tentunya bukan dari kita. Yang ingin saya sampaikan saat ini sedang dalam upaya proses evakuasi,” ucapnya.

6. Korban Kedua Ditemukan di Jurang 500 Meter

Tim SAR gabungan juga menemukan sejumlah barang pribadi milik korban pesawat ATR 42-500. Barang milik korban serta bagian dari pesawat ditemukan usai dilakukan penyisiran intensif tim darat di jalur ekstrem antara puncak dan Pos 9 jalur pendakian.

“Tim SAR gabungan menemukan berbagai barang yang diduga milik korban, mulai dari dokumen pribadi, dompet, buku catatan, hingga barang elektronik. Selain itu, juga ditemukan beberapa bagian dari pesawat seperti pelampung dan fire signal, di sekitar bagian kepala pesawat,” ujar Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar Muhammad Arif Anwar dalam keterangannya, Senin (19/1).

Sejumlah barang milik korban dan bagian pesawat yang ditemukan telah diamankan, didata dan diberi titik koordinat sesuai prosedur. Temuan ini menjadi petunjuk penting untuk mempersempit area pencarian serta menentukan langkah lanjutan dalam proses evakuasi.

“Medan di lokasi kejadian sangat curam dan berisiko tinggi. Proses pencarian dilakukan dengan teknik khusus, termasuk repling dan pembukaan jalur, sehingga membutuhkan waktu, ketelitian, dan koordinasi yang kuat antarunsur,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii menilai penemuan barang milik korban tersebut merupakan titik terang dari operasi ini. Pihaknya mengapresiasi kerja keras, disiplin, dan kolaborasi semua unsur di lapangan.

“Penemuan barang-barang milik korban dan bagian dari pesawat menunjukkan bahwa tim SAR gabungan sudah berada sangat dekat dengan titik-titik krusial,” jelasnya.

7. Tim SAR Temukan Barang Pribadi Korban