Isra Miraj bukan sekadar kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW, melainkan peristiwa agung yang sarat makna bagi umat Islam. Peristiwa bersejarah ini menyimpan banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran berharga dalam memperkuat iman dan ketakwaan setiap muslim.
Dilansir dari buku Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW karya Syofyan Hadi, Isra Miraj merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam perjalanan risalah Rasulullah SAW. Pada peristiwa itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu melanjutkan perjalanan hingga mencapai batas tertinggi yang dapat dijangkau oleh makhluk Allah SWT.
Lantas, apa saja hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan agung Nabi Muhammad SAW?
Yuk, simak penjelasan selengkapnya berikut ini!
Sedikitnya ada 10 hikmah Isra Miraj yang perlu diketahui oleh umat Islam, yakni:
Peristiwa Isra dan Miraj dikisahkan oleh Allah SWT dalam ayat-ayat yang terpisah di dalam Al-Qur’an. Perjalanan Isra dijelaskan dalam surat Al-Isra ayat 1, sementara peristiwa Miraj disebutkan dalam surat An-Najm ayat 13-18.
Meski perjalanan Isra dan Miraj ini berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni memperlihatkan sebagian tanda kebesaran Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Seluruh rangkaian perjalanan tersebut terjadi semata-mata atas kehendak dan panggilan Allah SWT.
Isra Miraj merupakan salah satu mukjizat terbesar yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW selain Al-Qur’an. Peristiwa ini disebutkan dalam dua surat yang berbeda, yang menegaskan bahwa Isra dan Miraj adalah dua perjalanan yang memiliki keistimewaan masing-masing.
Isra merupakan perjalanan yang tidak ada satu pun penduduk Bumi yang mampu melakukannya. Sementara itu, Miraj adalah perjalanan luar biasa yang tidak akan mampu ditempuh oleh penduduk langit, menandakan keagungan mukjizat yang Allah kehendaki kepada Rasul-Nya.
Bahkan dalam riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril hanya mampu menemani Rasulullah hingga ke Sidratul Muntaha. Setelah itu, perjalanan untuk bertemu Allah SWT dilanjutkan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW.
Dikisahkan bahwa pada malam terjadinya Isra Miraj, Malaikat Jibril dan Mikail mendatangi Nabi Muhammad SAW yang sedang tertidur. Malaikat Jibril kemudian membelah dada Rasulullah dan mengeluarkan hatinya.
Hati Nabi Muhammad SAW lalu dibersihkan dengan air zam-zam hingga seluruh kotoran di dalamnya disucikan, termasuk kantong hitam yang digambarkan sebagai tempat bersemayamnya godaan setan dalam diri manusia. Proses penyucian ini menjadi bagian penting sebelum Rasulullah SAW menjalani perjalanan agung tersebut.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa sebelum menghadap kepada Allah SWT, setiap muslim hendaknya membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin. Kesucian hati dan keikhlasan jiwa menjadi bekal utama dalam mendekatkan diri kepada-Nya.
Nabi Muhammad merupakan pribadi yang terbuka dan mau mendengarkan nasihat dari para nabi sebelumnya, khususnya Nabi Musa AS. Nabi Musa menyampaikan bagaimana umatnya terkait beratnya pelaksanaan ibadah, yang kemudian menjadi bahan pertimbangan bagi Rasulullah SAW.
Pada awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 waktu dalam sehari. Namun setelah mendengar nasihat dari Nabi Musa, Rasulullah beberapa kali kembali menemui Allah SWT dan memohon agar jumlah shalat dikurangi, hingga akhirnya menjadi 5 waktu.
Hal ini mengajarkan pentingnya sikap terbuka dalam menerima saran dan nasihat. Bagi umat Islam, mendengarkan masukan dari orang lain dapat memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman dalam menyikapi berbagai persoalan.[1]
Perjalanan Isra Nabi Muhammad dari Mekkah ke Baitul Maqdis menjadi penguat hujjah atau argumen di hadapan orang-orang musyrik. Jika Rasulullah langsung melakukan perjalanan Miraj ke langit, peristiwa tersebut akan sulit dibuktikan ketika dipertanyakan oleh mereka.
Karena itu, ketika orang-orang musyrik mendatanginya dan bertanya, Nabi Muhammad SAW menceritakan pertemuannya dengan kafilah yang dijumpainya selama perjalanan Isra. Ketika kafilah tersebut kembali dan memberikan kesaksian, orang-orang musyrik pun mengetahui bahwa apa yang disampaikan oleh Nabi SAW adalah benar.
Peristiwa Isra Miraj menggambarkan hubungan antara Mekkah dan Baitul Maqdis sebagai kiblat dalam sejarah Islam. Para pengikut nabi terdahulu menghadapkan wajah mereka ke Baitul Maqdis ketika beribadah, sementara kaum Nabi SAW menghadap ke Mekkah Al-Mukarramah.
Hal ini sekaligus menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW yang menyaksikan kedua kiblat tersebut dalam satu malam.
Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.
Melalui peristiwa Isra Miraj, Allah SWT menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad SAW dibandingkan nabi-nabi lainnya. Pada peristiwa tersebut, Rasulullah SAW bertemu dengan para nabi di Baitul Maqdis dan menjadi imam sholat bagi mereka.[2]
Perjalanan Isra dan Miraj Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa bersejarah saat Rasulullah menerima perintah sholat wajib lima waktu dari Allah SWT. Istimewanya, perintah tersebut diterima secara langsung oleh Rasulullah tanpa melalui perantara.
Melalui peristiwa tersebut, umat Islam dapat memetik hikmah berharga tentang betapa pentingnya kedudukan sholat dalam ajaran Islam. Sholat menjadi ibadah utama yang mendekatkan seorang muslim kepada Allah SWT.
Peristiwa Isra Miraj terjadi setelah Nabi Muhammad SAW mengalami masa yang sangat berat dalam hidupnya. Rasulullah SAW kehilangan istri tercinta, Sayyidah Khadijah RA, yang selama ini setia mendampingi dan mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, serta hartanya demi perjuangan dakwah Rasulullah. Kemudian disusul wafatnya sang paman, Abu Thalib, yang selalu melindungi beliau dari kekejaman kaum Quraisy.
Dalam kondisi tersebut, Allah SWT berkehendak menguatkan hati Nabi Muhammad SAW dengan memperlihatkan secara langsung tanda-tanda kebesaran-Nya. Melalui peristiwa Isra Miraj, Allah SWT membuat hati Rasulullah SAW semakin mantap dan teguh dalam melanjutkan misi menyebarkan agama Islam.
Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah dan menegakkan agama-Nya akan memperoleh kebahagiaan dan keistimewaan dari Allah SWT.
Dalam sejarah Islam, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha dapat dipahami sebagai perjalanan manusia pertama yang melampaui batas Bumi dan kembali dengan selamat. Peristiwa luar biasa yang terjadi lebih dari 1.400 tahun lalu ini menunjukkan bahwa Islam sejak awal mendorong keterbukaan terhadap ilmu dan pengetahuan.
Hikmah dari peristiwa tersebut mengajarkan umat Islam untuk bersikap mandiri, terus belajar, dan bangkit meningkatkan kemampuan diri. Kemajuan tidak hanya penting dalam bidang agama, sosial, politik, dan ekonomi, tetapi juga dalam penguasaan sains dan teknologi, yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan suatu umat dan bangsa.[3]
Demikianlah penjelasan mengenai hikmah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW bagi umat Islam. Semoga bermanfaat!
Referensi:
1. Buku berjudul “Kisah Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad SAW” karya Syofyan Hadi
2. Laman Muslim.or.id
3. Laman resmi Kementerian Agama RI







