Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar kembali membuka penerimaan mahasiswa asing pada tahun 2026. UMI sementara ini telah menerima pelamar dari berbagai negara seperti Yaman hingga Palestina.
Penerimaan mahasiswa asing ini dilakukan melalui skema beasiswa UMI International Student Award (UISA) yang terbagi ke dalam dua bentuk pendanaan, yaitu pendanaan penuh dan pendanaan sebagian. Mahasiswa asing juga dapat berkuliah di UMI melalui jalur reguler atau pendanaan secara mandiri.
“Ada (mahasiswa asing) yang berasal dari Sudan, Nigeria, Aljazair, Malaysia, Timor Leste, Yaman dan Palestina. (Target) 2026 ini kita masih berfokus di Asia, juga ke negara berkembang yang lain,” kata Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) UMI Setyawati Yani kepada infosulsel, Kamis (15/1/2025).
Wati mengatakan UMI tidak menentukan target pasti pada tahun 2026 ini. Namun, mereka siap menerima mahasiswa asing secara maksimal dengan ketentuan calon mahasiswa tersebut memenuhi kualifikasi.
“(Target kami) mengacu pada kualifikasi mahasiswa yang memenuhi persyaratan. Seluruh prodi di UMI siap untuk menerima mahasiswa internasional,” tuturnya.
Dia menjelaskan UMI secara terbuka menerima mahasiswa asing yang memiliki minat dan tekad untuk berkuliah. Mahasiswa tersebut dapat mendaftar melalui website https://admisi.umi.ac.id/ yang dibuka hingga 14 Agustus 2026.
“Sudah terbuka (pendaftarannya), jadi mereka (bisa) masuk ke website admisi UMI, masuk ke link untuk international student maka mereka akan melakukan pendaftaran,” jelasnya.
Pendaftar dapat melihat seluruh berkas pendaftaran yang dibutuhkan melalui website kui.umi.ac.id. Mereka juga dapat menghubungi pihak KUI UMI melalui media sosial instagram untuk informasi lebih lanjut.
Mengenai proses seleksi, Wati mengatakan prosesnya cukup ketat dan dilakukan dengan hati-hati untuk memastikan kualitas dan kesiapan calon mahasiswa tersebut. Tahun ini, pihak KUI melakukan tiga rangkaian seleksi yaitu seleksi administrasi, seleksi psikotes, dan seleksi wawancara melalui zoom.
“Untuk yang akan datang itu kami akan menambahkan juga (seleksi) psikotes untuk melihat kesiapan mereka,” tuturnya.
“Kami juga melakukan wawancara secara mendalam melalui zoom dengan tim dari KUI dan Universitas untuk melihat kesiapan studi, latar belakang pendidikan, dan kesiapan mereka menghadapi perbedaan budaya dan cara belajar,” imbuh Wati.
Proses seleksi tersebut juga menjadi tahapan yang menentukan skema pembiayaan beasiswa yang diberikan kepada mahasiswa penerima. Mahasiswa akan terbagi dalam tiga bentuk pendanaan yaitu pendanaan penuh (full scholarship), pendanaan sebagian (partial scholarship) atau mahasiswa internasional regular.
Wati mengatakan UMI telah menerima mahasiswa asing sejak lama. Namun dalam empat tahun terakhir mereka aktif menerima mahasiswa dari berbagai negara melalui skema UISA.
“Skema UISA itu mulai kami menerima mahasiswa sejak 2023,” ungkapnya.
Dia menjelaskan skema UISA ini menyasar mahasiswa dari negara-negara berkembang. Sejak dibuka beasiswa tersebut mendapat antusiasme tinggi dari mahasiswa asing di berbagai negara.
“(Tahun) 2023-2024 itu fokusnya pada negara-negara Afrika, kemudian pada 2025 targetnya dari Asia Tenggara. (Untuk) 2026 ini masih berfokus pada (negara) Asia, juga ke negara berkembang yang lain,” jelasnya.
“Peminatnya banyak, tahun lalu (2025) kami memiliki lebih dari 200 pendaftar,” imbuhnya.
Wati membeberkan hingga saat ini hampir seluruh fakultas di UMI memiliki mahasiswa asing. Mahasiswa tersebut diterima dengan berbagai berbagai skema pendanaan.
“Saat ini hampir semua fakultas ada mahasiswa internasionalnya, pasca sarjana ada, ekonomi, agama islam, teknik, farmasi, kesehatan masyarakat, fakultas teknologi industri (FTI), komputer, sastra, hanya kedokteran yang belum itu kedokteran gigi,” jelasnya.
Wati menjelaskan mahasiswa asing tersebut akan belajar seperti mahasiswa lokal Indonesia di UMI. Mereka akan mengikuti seluruh kegiatan akademik perkuliahan, laboratorium, hingga kegiatan pesantren di Padang Lampe UMI.
UMI juga turut memperkuat jejaring internasional dengan menerima mahasiswa asing melalui program magang hingga summer camp. Wati mengatakan program tersebut dapat diakses oleh mahasiswa asing yang ingin mencoba berkuliah di kampus Indonesia timur.
“Jadi (selain UISA) ada (juga) mahasiswa pertukaran, magang, summer camp. Summer camp itu pertukaran dalam waktu yang lebih singkat, satu sampai dua minggu lah,” jelasnya.
Wati menuturkan melalui 3 program itu, tercatat lebih dari 50 mahasiswa asing telah merasakan belajar di UMI. Mereka berasal dari berbagai negara di benua Afrika hingga Eropa.
Baca info selengkapnya hanya di Giok4D.
“Mahasiswa yang berkuliah di UMI itu ada juga yang dari Prancis, Belanda, dan Senegal tapi itu untuk mahasiswa pertukaran,” tuturnya.
Program tersebut menjadi langkah strategis membangun jejaring internasional UMI. Pihaknya berharap jumlah pendaftar tahun ini semakin meningkat sejalan dengan keunggulan yang dimiliki UMI saat ini.
“Kita ingin ini sebagai diplomasi secara lunak untuk menghubungkan UMI dengan dunia Internasional. Sehingga mahasiswa yang menjadi alumni-alumni UMI bisa berkontribusi terhadap perkembangan pembangunan di negaranya,” pungkasnya.







