Warung Bugis dan Motor Thunder Butut Penghias Jalan Makassar

Posted on

Tumpukan bungkus rokok berbagai merek menghiasi etalase dengan berbagai macam stiker di kaca. Deretan sampo, detergen, hingga camilan juga tersusun rapi menggantung tepat di atasnya.

Wilda tampak sibuk tatkala melayani pembeli yang datang silih berganti. Sesekali ia duduk santai saat pembeli sedang lowong. Ponsel di tangannya menjadi pengisi waktu.

Di sudut Jalan Raya Pendidikan, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, tepatnya di perempatan Jalan Mapala Raya-Pendidikan I, toko kelontong itu berdiri. Orang-orang kerap menyebutnya sebagai ‘Warung Bugis’. Julukan ini muncul karena mereka yang berjualan di Makassar banyak berasal dari suku Bugis.

Suasana Warung Bugis yang dijaga Wilda cukup padat. Hampir tak ada ruang kosong. Tumpukan dos air mineral dan minuman gelas dalam kemasan lain ikut menghias warungnya.

Wilda mengaku sudah delapan tahun membuka Warung Bugis ini bersama keluarganya. Di warung ini pula, mereka bermukim. Dia tinggal bersama ibu, ayah, dan saudaranya.

Modal awal Rp 50 juta dari hasil menjual mobil menjadi taruhan bagi keluarga Wilda. Perantau asal Wajo itu berharap warung Bugis bisa menjadi jalan keluar bagi keluarganya yang saat itu terhimpit keadaan.

“Itu juga kepepet tidak punya duit kan, (Bapak kerja sebagai driver di) tambang kan dulu sebentarji (cuma) satu tahun. Jadi setelah itu, mobil dijual, terus uangnya buat modal,” kata Wilda di sela-sela kesibukannya melayani pembeli, Selasa (13/1/2026).

Cerita serupa datang dari Nasar. Warung Bugis miliknya berdiri menghadap tepat ke badan Jalan AP Pettarani. Terlihat galon-galon isi ulang berjajar rapi di depan warung. Keramik putih yang mulai retak jadi saksi lalu-lalang sepatu pembeli.

Siang itu, warung Bugis milik Nasar tampak riuh. Nasar pontang-panting melayani pembeli sembari menenangkan dua putrinya yang menangis. Suara klakson dan deru kendaraan yang memadati jalan AP Pettarani menambah keriuhan di warung itu.

Nasar juga mengaku telah delapan tahun menautkan hidup keluarganya pada warung kecil ini. Pria asal Sengkang itu merasa kampung halamannya tak bisa memberi banyak.

“Karena kalau di kampung kan penghasilannya tidak ada,” ujar Nasar sambil tersenyum tipis.

Nasar mulai berjualan sejak akhir 2017, berpindah dari Minasaupa ke Jalan AP Pettarani. Ia dan keluarganya berusaha mencari kontrakan yang masih bisa dijangkau kantong.

Untuk memulai usaha Warung Bugis miliknya, Nasar mengaku merogoh modal sekitar Rp 70 juta. Sejak itu, Warung Bugis sederhana miliknya tumbuh pelan-pelan menjadi corong ekonomi keluarga.

Di tepi jalan, sebelum etalase dan gantungan camilan benar-benar tertangkap mata, satu benda lebih dulu menarik perhatian, yakni sebuah pom bensin mini. Saat antrean di SPBU mengular, Warung Bugis dengan pom bensin mini ini jadi magnet.

Persegi bercorak merah yang menampung bahan bakar itu hampir selalu ada di Warung Bugis, lengkap dengan motor Thunder klasik. Dua benda itu hampir selalu berpasangan, menjadi penanda tak resmi Warung Bugis di sepanjang jalanan kota.

Bensin dijual dengan harga Rp 11 ribu per liter. Tak jarang, pelanggan yang mampir untuk mengisi bensin ikut membawa pulang rokok atau minuman. Kata Nasar, dari situlah perputaran uang bergerak.

Untuk mengisi stok bensin, baik Nasar maupun Wilda mengandalkan motor Suzuki Thunder butut. Bagi keduanya, motor Thunder bukan sekadar kendaraan, motor bertangki besar itu adalah tulang punggung pemasok bensin.

“Pakai itu Thunder,” imbuh Nasar menunjuk pada motor Thunder berwarna hitam yang terparkir di depan warungnya.

Setiap hari, Nasar dan Wilda atau anggota keluarganya yang lain bolak-balik ke SPBU, dua hingga empat kali, mengisi penuh tangki motor Thunder berkapasitas 20 liter itu.

Di balik etalase kaca dan rak-rak yang tampak sesak, pundi-pundi rupiah terus bergerak di warung Bugis. Di warung milik Wilda, putaran uangnya terbilang besar. Dalam sehari, omzet bisa menembus Rp 8 juta.

“Bukan bersih, diputar lagi. Kalau dapatnya Rp 8 juta, simpannya Rp 500 ribu tiap hari, jadi Rp 500 ribu dikali 30,” jelas Wilda sembari memasukkan lembaran rupiah yang baru diterima dari pembeli ke dalam laci meja kayunya.

Dari omzet tersebut, Wilda menyisihkan sekitar Rp 500 ribu per hari yang jika dikalkulasikan menghasilkan Rp 15 juta untuk pendapatan bersih bulanan.

Sisanya, kemudian dijadikan putaran modal untuk belanja stok barang dagangan. Uang itu kembali dibelanjakan untuk stok rokok, minuman, sembako kecil, dan segala kebutuhan yang dirasa sudah mulai berkurang di warung.

Lebih sedikit, Nasar mengaku bahwa omzet hariannya berada di rentang Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Saat ditanyai terkait perbandingan omzet dengan warung milik Wilda, Nasar menjawab lokasi warung dan kehadiran minimarket menjadi faktor.

“Kalau di sini tidak terlalu (ramai), karena orang cuma lewat, apalagi jalan poros. Itu (ada) Indomaret baru (dekat sini), belumpi satu tahun,” ungkap Nasar.

Meski berbeda angka omzet, Nasar dan Wilda sepakat menyebut rokok masih menjadi primadona. Rokok di warung Bugis menjadi laku sebab warung menyediakan rokok dalam bentuk ketengan.

Saat hampir seisi Kota Makassar mulai terlelap, Warung Bugis masih menyalakan lampu menunggu pembeli. Denyut warung itu semakin terasa saat dini hari.

Warung Bugis milik Nasar adalah salah satunya. Warung itu nyaris tak pernah tidur. Dua puluh empat jam penuh, Nasar membiarkan pintu warung bercat putih itu tetap terbuka.

Namun membuka warung hingga dini hari bukan tanpa risiko. Nasar masih mengingat jelas sebuah kejadian mencekam pada tahun pertamanya membuka warung di Jalan AP Pettarani.

“Kejadiannya tahun 2021. Kejadiannya ya begitu, kejar-kejaran orang, baku busur… Kan itu hari ada ini lemari, seandainya tidak ada lemari mungkin saya jadi korban,” ujar Nasar mereka ulang kejadian kala itu di ingatannya.

Sejak peristiwa tersebut, Nasar mengatakan situasi perlahan membaik. Ia menyebut patroli kepolisian yang semakin rutin membuat jalan poros yang dulu rawan mulai terkendali.

Berbeda dengan Nasar, Wilda memilih membatasi jam operasional warungnya hanya hingga jam 12 malam. Wilda sendiri mengaku tidak pernah mengalami gangguan keamanan selama berjualan.

Dengan etalase sederhana dan pom bensin mini, Warung Bugis menjadi penopang hidup para perantau Bugis seperti Nasar dan Wilda di ibu kota. Di tengah hiruk pikuk kota, warung-warung ini terus menghiasi jalanan Kota Makassar.

Pom Bensin Mini dan Motor Thunder

Omzet Jutaan Per Hari

Warung Bugis Menembus Malam Makassar

Gambar ilustrasi
Gambar ilustrasi

Nasar juga mengaku telah delapan tahun menautkan hidup keluarganya pada warung kecil ini. Pria asal Sengkang itu merasa kampung halamannya tak bisa memberi banyak.

“Karena kalau di kampung kan penghasilannya tidak ada,” ujar Nasar sambil tersenyum tipis.

Nasar mulai berjualan sejak akhir 2017, berpindah dari Minasaupa ke Jalan AP Pettarani. Ia dan keluarganya berusaha mencari kontrakan yang masih bisa dijangkau kantong.

Untuk memulai usaha Warung Bugis miliknya, Nasar mengaku merogoh modal sekitar Rp 70 juta. Sejak itu, Warung Bugis sederhana miliknya tumbuh pelan-pelan menjadi corong ekonomi keluarga.

Di tepi jalan, sebelum etalase dan gantungan camilan benar-benar tertangkap mata, satu benda lebih dulu menarik perhatian, yakni sebuah pom bensin mini. Saat antrean di SPBU mengular, Warung Bugis dengan pom bensin mini ini jadi magnet.

Persegi bercorak merah yang menampung bahan bakar itu hampir selalu ada di Warung Bugis, lengkap dengan motor Thunder klasik. Dua benda itu hampir selalu berpasangan, menjadi penanda tak resmi Warung Bugis di sepanjang jalanan kota.

Pom Bensin Mini dan Motor Thunder

Bensin dijual dengan harga Rp 11 ribu per liter. Tak jarang, pelanggan yang mampir untuk mengisi bensin ikut membawa pulang rokok atau minuman. Kata Nasar, dari situlah perputaran uang bergerak.

Untuk mengisi stok bensin, baik Nasar maupun Wilda mengandalkan motor Suzuki Thunder butut. Bagi keduanya, motor Thunder bukan sekadar kendaraan, motor bertangki besar itu adalah tulang punggung pemasok bensin.

“Pakai itu Thunder,” imbuh Nasar menunjuk pada motor Thunder berwarna hitam yang terparkir di depan warungnya.

Setiap hari, Nasar dan Wilda atau anggota keluarganya yang lain bolak-balik ke SPBU, dua hingga empat kali, mengisi penuh tangki motor Thunder berkapasitas 20 liter itu.

Di balik etalase kaca dan rak-rak yang tampak sesak, pundi-pundi rupiah terus bergerak di warung Bugis. Di warung milik Wilda, putaran uangnya terbilang besar. Dalam sehari, omzet bisa menembus Rp 8 juta.

“Bukan bersih, diputar lagi. Kalau dapatnya Rp 8 juta, simpannya Rp 500 ribu tiap hari, jadi Rp 500 ribu dikali 30,” jelas Wilda sembari memasukkan lembaran rupiah yang baru diterima dari pembeli ke dalam laci meja kayunya.

Dari omzet tersebut, Wilda menyisihkan sekitar Rp 500 ribu per hari yang jika dikalkulasikan menghasilkan Rp 15 juta untuk pendapatan bersih bulanan.

Omzet Jutaan Per Hari

Gambar ilustrasi

Sisanya, kemudian dijadikan putaran modal untuk belanja stok barang dagangan. Uang itu kembali dibelanjakan untuk stok rokok, minuman, sembako kecil, dan segala kebutuhan yang dirasa sudah mulai berkurang di warung.

Lebih sedikit, Nasar mengaku bahwa omzet hariannya berada di rentang Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Saat ditanyai terkait perbandingan omzet dengan warung milik Wilda, Nasar menjawab lokasi warung dan kehadiran minimarket menjadi faktor.

“Kalau di sini tidak terlalu (ramai), karena orang cuma lewat, apalagi jalan poros. Itu (ada) Indomaret baru (dekat sini), belumpi satu tahun,” ungkap Nasar.

Meski berbeda angka omzet, Nasar dan Wilda sepakat menyebut rokok masih menjadi primadona. Rokok di warung Bugis menjadi laku sebab warung menyediakan rokok dalam bentuk ketengan.

Saat hampir seisi Kota Makassar mulai terlelap, Warung Bugis masih menyalakan lampu menunggu pembeli. Denyut warung itu semakin terasa saat dini hari.

Warung Bugis milik Nasar adalah salah satunya. Warung itu nyaris tak pernah tidur. Dua puluh empat jam penuh, Nasar membiarkan pintu warung bercat putih itu tetap terbuka.

Warung Bugis Menembus Malam Makassar

Namun membuka warung hingga dini hari bukan tanpa risiko. Nasar masih mengingat jelas sebuah kejadian mencekam pada tahun pertamanya membuka warung di Jalan AP Pettarani.

“Kejadiannya tahun 2021. Kejadiannya ya begitu, kejar-kejaran orang, baku busur… Kan itu hari ada ini lemari, seandainya tidak ada lemari mungkin saya jadi korban,” ujar Nasar mereka ulang kejadian kala itu di ingatannya.

Sejak peristiwa tersebut, Nasar mengatakan situasi perlahan membaik. Ia menyebut patroli kepolisian yang semakin rutin membuat jalan poros yang dulu rawan mulai terkendali.

Berbeda dengan Nasar, Wilda memilih membatasi jam operasional warungnya hanya hingga jam 12 malam. Wilda sendiri mengaku tidak pernah mengalami gangguan keamanan selama berjualan.

Dengan etalase sederhana dan pom bensin mini, Warung Bugis menjadi penopang hidup para perantau Bugis seperti Nasar dan Wilda di ibu kota. Di tengah hiruk pikuk kota, warung-warung ini terus menghiasi jalanan Kota Makassar.