Renungan Harian Katolik menjadi sarana penting bagi umat untuk mendalami Sabda Tuhan dan menuntun langkah hidup sehari-hari. Dengan membaca renungan setiap hari, umat Katolik diajak untuk menenangkan hati, merefleksikan iman, serta menemukan makna firman Allah dalam situasi konkret kehidupan.
Renungan harian Katolik Minggu, 11 Januari 2026 mengangkat tema “Panggilan Menjadi Murid Yesus” yang dikutip dari buku Inspirasi Pagi (LBI) oleh Agus Kami CS. Melalui renungan ini, umat Katolik diajak untuk menyadari bahwa menjadi murid Yesus berarti membuka hati untuk dibimbing oleh-Nya, berani menanggapi panggilan Tuhan, serta mewujudkan iman dalam sikap hidup yang setia, rendah hati, dan penuh kasih.
Nah, artikel di bawah ini infoSulsel menghadirkan renungan hari ini yang meliputi:
Sebelum membaca renungan harian hari ini baca terlebih dahulu sabda-sabda Tuhan lewat bacaan hari ini, antara lain:
“Hana sedih karena tidak mempunyai anak.”
ADA seorang laki-laki dari Ramataim-Zofim, dari pegunungan Efraim, namanya Elkana bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim. Orang ini mempunyai dua isteri: yang seorang bernama Hana dan yang lain bernama Penina; Penina mempunyai anak, tetapi Hana tidak.
Orang itu dari tahun ke tahun pergi meninggalkan kotanya untuk sujud menyembah dan mempersembahkan korban kepada Tuhan semesta alam di Silo. Di sana yang menjadi imam Tuhan ialah kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas. Pada hari Elkana mempersembahkan korban, diberikannyalah kepada Penina, isterinya, dan kepada semua anaknya yang laki-laki dan perempuan masing-masing sebagian. Meskipun ia mengasihi Hana, ia memberikan kepada Hana hanya satu bagian, sebab Tuhan telah menutup kandungannya.
Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya. Demikianlah terjadi dari tahun ke tahun; setiap kali Hana pergi ke rumah Tuhan, Penina menyakiti hati Hana, sehingga ia menangis dan tidak mau makan. Lalu Elkana, suaminya, berkata kepadanya: “Hana, mengapa engkau menangis dan mengapa engkau tidak mau makan? Mengapa hatimu sedih? Bukankah aku lebih berharga bagimu dari pada sepuluh anak laki-laki?”
Ref. Aku mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu, ya Tuhan.
“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”
SESUDAH Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat Simon dan Andreas, saudara Simon.
Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia.
Dan setelah Yesus meneruskan perjalanan-Nya sedikit lagi, dilihat-Nya Yakobus, anak Zebedeus, dan Yohanes, saudaranya, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus segera memanggil mereka dan mereka meninggalkan ayahnya, Zebedeus, di dalam perahu bersama orang-orang upahannya lalu mengikuti Dia.
Ketika membaca dan merenungkan bacaan Injil hari ini tentang panggilan empat nelayan yang meninggalkan segalanya dan mau mengikut Yesus, saya mengingat kembali masa-masa awal ketika ingin menjadi imam biarawan dan misionaris. Saya menjalani proses dan melewati beberapa tahap seperti meminta restu orang tua, meminta rekomendasi dari pastor paroki, membuat surat lamaran, mengikuti tes dan wawancara, dan lain sebagainya.
Ketika diterima, selama beberapa tahun saya menjalani pembinaan intensif di seminari yang meliputi masa novisiat dan penerimaan kaul kebiaraan, studi filsafat selama empat tahun, studi teologi selama empat tahun, serta menjalani tugas pastoral selama satu tahun. Selama proses tersebut, saya dihadapkan pada begitu banyak tantangan yang cukup berat, salah satunya ialah kepergian kedua orang tua saya.
Semua tahap pembinaan itu dan pelbagai tantangan yang saya alami menempa dan menguji saya agar secara fisik, mental, psikologis, dan moral mampu untuk memeluk panggilan hidup menjadi imam biarawan dan misionaris. Setelah berhasil melewati proses itu, saya mengajukan surat lamaran kepada pemimpin kongregasi untuk mengikrarkan kaul kekal dan ditahbiskan menjadi imam.
Yesus memanggil Simon dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes ketika mereka sedang menjalankan pekerjaan mereka sebagai nelayan di Danau Galilea. Ia berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Tanpa basa-basi, mereka segera meninggalkan segala sesuatu, termasuk orang-orang yang mereka cintai, untuk mengikut Yesus. Pada saat itu juga, mereka rela dan siap! Mereka hidup bersama dan “menjalani proses pembinaan” bersama Yesus selama kurang lebih tiga tahun.
Kisah tentang panggilan para murid pertama ini mengajak kita untuk merenungkan panggilan kita sendiri sebagai orang Kristen. Pertama, seperti pengalaman para murid tersebut, Yesus memanggil kita dalam rutinitas nyata sehari-hari. Simon dan Andreas, serta Yakobus dan Yohanes sedang bekerja dan menjalankan rutinitas harian mereka ketika Yesus masuk ke dalam hidup mereka secara tiba-tiba dan memanggil mereka untuk menjadi murid-Nya.
Yesus tidak menunggu mereka menjadi sempurna dan sungguh-sungguh siap. Ia memanggil mereka apa adanya dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Hal ini mengingatkan kita bahwa Yesus juga mengundang kita untuk mengikuti-Nya melalui tugas dan rutinitas kita setiap hari.
Kedua, ajakan Yesus bersifat sederhana, tetapi sangat radikal: “Ikutlah Aku.” Ajakan sederhana ini mengubah arah hidup mereka selanjutnya. Mereka meninggalkan jala, perahu, dan keluarga untuk mengikut Yesus.
Penginjil Markus menekankan kata “segera”, yakni tanpa menunda dan banyak alasan. Panggilan Yesus datang dalam kesederhanaan, tetapi menuntut jawaban yang cepat. Panggilan ini datang tidak melalui pengalaman yang spektakuler, tetapi melalui suara hati.
Yesus ingin agar kita secara pribadi mengalami undangan kasih-Nya, dan tantangannya adalah keberanian untuk menjawab. Yesus memanggil kita untuk meninggalkan kebiasaan, cara berpikir, dan cara hidup kita yang lama agar dapat sepenuhnya percaya dan hidup sesuai dengan firman-Nya.
Jika kita ingin benar-benar hidup sesuai dengan firman Allah, kita harus terbuka dan bersedia meninggalkan masa lalu kita dan hidup sebagai pribadi yang baru dalam Kristus. Ketiga, Yesus tidak menghapus identitas mereka sebagai nelayan, sebab mereka akan dijadikan “penjala manusia”. Yesus menggunakan pekerjaan dan rutinitas mereka untuk sebuah misi baru, yakni menjala manusia, yang berarti membawa sesama kepada kasih Allah.
Proses panggilan para murid ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus memakai apa yang kita miliki. Talenta, profesi, dan pengalaman hidup kita dapat menjadi sarana, sehingga orang-orang yang kita jumpai setiap hari dapat mengalami kasih Allah.
Panggilan menjadi murid Yesus tidak hanya ditujukan kepada para imam dan biarawan-biarawati, tetapi juga kepada setiap orang yang dibaptis. Sebagai orang Kristen, kita semua dipanggil untuk menyebarkan Kabar Baik, untuk hidup dalam kasih, persekutuan, dan kesetiaan.
Perlu digarisbawahi bahwa panggilan kepada kekudusan bukan milik segelintir orang saja, melainkan undangan bagi semua sesuai dengan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Mengikuti Yesus menuntut kita untuk melayani tanpa pamrih, terutama terhadap mereka yang lemah dan tersingkir.
Mari kita merenungkan perjalanan kita sebagai murid Yesus: Apakah kita sudah peka terhadap panggilan Tuhan dalam hidup kita sehari-hari? Apa kira-kira yang menghalangi kita untuk mengikuti panggilan Yesus? Bagaimana kita bisa menjadi “penjala manusia” di lingkungan, di dalam keluarga, dan di tempat kerja kita?
Demikianlah renungan harian Katolik Senin, 12 Januari 2026. Damai Tuhan beserta kita!







