7 Contoh Ceramah Isra Miraj Lengkap Singkat-Panjang Berbagai Tema

Posted on

Isra Miraj merupakan peristiwa penting dalam sejarah Islam yang menjadi tonggak diterimanya perintah salat lima waktu bagi umat Islam. Setiap bagian dari kisah ini memiliki hikmah yang dapat dijadikan materi dakwah melalui ceramah Isra Miraj sebagai pelajaran berharga untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan.

Ada berbagai contoh ceramah Isra Miraj yang bisa dijadikan referensi untuk menyampaikan dakwah kepada umat. Termasuk dengan menyampaikan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha sebagai bukti kekuasaan Allah SWT.

Tak hanya itu, ceramah Isra Miraj juga dapat berisikan pesan tentang pelajaran akidah, ibadah, dan akhlak yang dipetik dari kisah agung tersebut.

Nah, agar pesan dan hikmah dapat tersampaikan dengan baik, maka ceramah perlu disusun dengan baik dan menyesuaikan audiens. Sebagai referensi bagi infoers, di bawah ini infoSulsel telah merangkum contoh ceramah Isra Miraj lengkap versi singkat hingga panjang dalam berbagai tema menarik.

Yuk simak selengkapnya di bawah ini!

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah.

Para jamaah yang hadir di tempat ini, semoga dipertemukan bukan hanya di dunia, tapi dipertemukan sampai di Surga Firdaus. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ternyata peristiwa Isra Miraj ini tidak pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan pernah terjadi sesudahnya. Berarti ini adalah perjalanan terbesar sepanjang sejarah. Simpan baik-baik. Perjalanan terbesar sepanjang sejarah. Maka cukuplah kita memahami rambu-rambu Isra Miraj, maka kita akan menyelesaikan semua masalah yang ada di dunia. Maka para ulama mengatakan, andai kita paham dan mengerti tentang kejadian Isra Miraj, penyebabnya, saat terjadinya, dan setelah terjadinya, maka cukuplah itu untuk memahami kehidupan kita. Gambarannya hanya satu. Sangat disayangkan, kita tentang Isra Mi’raj hanya tahu bungkusnya saja. Itu yang harus kita pahami. Padahal ternyata, jika mengerti sampai ke dalam, indah dan nikmat, apa pun yang terjadi di depan kita, kita bisa menatapnya dengan keindahan yang luar biasa.

Ushikum wa nafsi bi taqwallah.

Punten, contoh. Tidak ada di dalam Al-Qur’an yang diawali dengan kata “Subhana”, kecuali kata-kata yang ada dalam Surat Al-Isra.

Jamaah sekalian, andai kita melihat apa sebenarnya rahasia ketika mengatakan Subhana atau yang pendeknya Subhanallah. Ini adalah apabila kita melihat sesuatu yang dahsyat, sesuatu yang agung, yang manusia tidak akan pernah mampu melakukannya, maka kita katakan:

Subhanallah.

Itu gambaran ketika melihat pemandangan yang indah: gunung-gunung yang indah, bintang-bintang yang indah, matahari yang indah, rembulan yang indah. Apakah ada dari makhluk Allah yang sanggup melakukan itu? Maka kita katakan kalimatnya:

Subhanallah.

“Mereka berpikir tentang penciptaan langit dan bumi yang begitu indah, maka dikatakan, Subhanaka, Mahasuci Engkau ya Allah. Subhanaka, Maha Suci Engkau.” Jadi ketika melihat sesuatu keindahan, keagungan, yang manusia tidak ikut-ikut di dalamnya,

kita katakan apa, Ibu Bapak?

Subhanallah.

Apa peristiwa dahsyatnya? Bukan hanya Isra Mi’raj saja. Bukankah diperlihatkan neraka? Siapa para nabi yang diperlihatkan tentang neraka dan para penghuninya? Bukankah diperlihatkan surga? Siapa para nabi yang diperlihatkan surga dan para penghuninya? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Siapa yang sampai ke Sidratul Muntaha? Tidak ada dari makhluk yang sampai ke Sidratul Muntaha kecuali baginda kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jibril sampai tidak? Jibril hanya sampai di Baitul Ma’mur. Naik ke atas, kata Jibril, “Ya Rasulullah, taqaddam li wahdika ya Rasulullah. Rasulullah, maju sendiri saja.” Kenapa Jibril? Jibril mengatakan, “Wallahi, demi Allah, jika aku maju sedikit saja, maka tubuhku akan terbakar.”

Terbakar karena apa? Malu rasanya. Saking malunya lepas kontrol. Saking malunya, enggak tahu harus ngapain lagi. Maka, taqaddam anta wahdaka ya Rasulullah.

Maka peristiwa ini diawali dengan Subhanallah. Kenapa? Karena peristiwa ini hanya Allah yang menggerakkannya. Mana buktinya? Coba lanjutkan:

Subhanalladzi asra bi ‘abdihi…

Memperjalankan hamba-Nya. Berarti, punten, peristiwa Isra Mi’raj ini keinginan Rasulullah atau keinginan Allah? Waktunya Allah yang tentukan. Kendaraannya Allah yang tentukan. Penjaganya Allah yang tentukan. Waktunya setelah berbagai macam kesulitan dihadapi oleh Baginda Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Sampai para ulama mengatakan ‘Amul Huzni, tahun kesedihan. Wafat Abu Thalib, wafat Siti Khadijah. Datang ke Thaif, dilempari.

Ibu Bapak tahu, saat di Kota Madinah, Rasulullah ditanya oleh Umar bin Khattab, “Ya Rasulullah, peristiwa apa yang paling sedih yang engkau rasakan? Apakah peristiwa pamanmu yang wafat, Siti Khadijah yang wafat, atau Hamzah yang wafat, atau apa?” Rasulullah sambil merenung, sambil menunjukkan tangan ke atas, mengatakan, “Yang menyakitkan hatiku adalah Thaif.”

Peristiwa itu. Saat menggebu-gebu untuk dakwah tapi tidak diterima. Itulah yang paling menyakitkan. Saat dakwah ditolak, saat dakwah dihentikan, saat tidak bisa menyampaikan syariat. Itu yang paling menyakitkan, kata Rasulullah. Hadiahnya apa? Isra Mi’raj.

Asra. Allah yang memperjalankannya. Rasulullah tidak tahu mau naik apa. Siapa penjaganya? Jibril ‘alaihis salam. Nah, kita lihat kehidupan sehari-hari. Siapa yang mengantar Rasulullah dalam perjalanan? Jawabannya siapa, Jibril.

Punten, simpan baik-baik. Rasulullah katakan, “Wallahi, lau wuni, demi Allah, aku tidak pernah kehilangan Jibril, dan Jibril pun tidak pernah kehilangan aku.” Maknanya selalu bareng, berdua.

Apa hikmahnya?. Hikmahnya adalah, Ibu Bapak, sunnah kalau dalam perjalanan jangan sendiri. Karena Rasulullah tidak pernah safar sendiri, selalu ditemani. Kapan Rasulullah safar sendiri? Isra Mi’raj saja Rasulullah bersama Jibril. Maka, Ibu Bapak, sebaiknya kalau safar jangan sendiri, karena Rasulullah tidak pernah safar dalam kesendirian.

Subhanalladzi asra bi ‘abdihi.

Dikatakan bi ‘abdihi. Subhanallah. Lihat-lihat, bi ‘abdihi. Maksudnya dengan hamba-Nya. Hambanya ini siapa? Nabi Muhammad. Allah katakan bi ‘abdihi karena Rasulullah diakui oleh Allah pantas menyandang gelar hamba Allah.

Sementara kita, baru mengaku-ngaku hamba Allah, tapi belum pantas mendapatkan predikat hamba Allah. Karena kata-kata hamba Allah, semuanya diutamakan Allah dalam kehidupannya. Kalau Allah memanggil dengan kata “hamba” dalam Al-Qur’an, itu menunjukkan panggilan mesra. Kalau Allah mengatakan, memanggil dengan kata “ibadi” atau “hambaku”, itu panggilan apa? Mesra. Contoh, di Ka’bah, di dalam kiswah Ka’bah, ada kata-kata:

Qul ya ‘ibadi alladzina asrafu ‘ala anfusihim…

Sampaikanlah kepada hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku Maha Pengampun, Maha Penyayang. Kata-kata ibadi, kalau keluar dari Al-Qur’an, itu panggilan sayang/panggilan mesra. Suami-istri, kalau lagi sayang-sayangnya, manggilnya apa? Nah, Allah memanggil dengan kata ibadi.

Maka jadikan kita seorang hamba yang benar-benar memperlakukan diri sebagai hamba, bukan hanya mengaku-ngaku saja. Inilah peristiwa Isra Mi’raj. Ingin menjadi seorang hamba yang sesungguhnya.

Sumber: Akun Youtube Ustaz Abi Makkih

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Isra’ Miraj merupakan peristiwa luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Kejadian istimewa yang berlangsung hanya dalam satu malam ini sarat akan makna dan pelajaran berharga. Salah satu momen penting dalam Isra’ Miraj adalah ketika Rasulullah menerima langsung perintah shalat lima waktu dari Allah SWT.

Dalam perjalanan lintas dimensi yang penuh keajaiban tersebut, Nabi Muhammad SAW juga diperlihatkan berbagai hal gaib. Di antaranya, beliau bertemu dengan para nabi terdahulu dan bahkan memimpin mereka dalam shalat sebagai imam. Peristiwa bersejarah ini diabadikan dalam firman Allah SWT:

Peristiwa bersejarah ini diabadikan dalam firman Allah SWT:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Isra [17]: 1)

Tentu, peristiwa seagung itu memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang bisa menjadi bahan renungan dan mengambil pelajaran. Berikut adalah beberapa hikmah dan pelajaran penting di balik peristiwa Isra’ Miraj:

1. Tingginya derajat kehambaan Penyebutan Nabi Muhammad SAW dalam ayat Isra’ (QS Al-Irsa [17]:

1) menggunakan kata ‘Abdun’ yang memiliki arti hamba. Padahal, bukan hal yang tidak mungkin jika misalnya menggunakan kata ‘nabi’, ‘rasul’ atau pun ‘khalil’ (kekasih).

Hal demikian menunjukkan bahwa derajat kehambaan di sisi Allah memiliki nilai yang sangat tinggi. Oleh karena itu, ketika Al-Qur’an berbicara tentang orang-orang ikhlas menggunakan kata ‘Abdun’. Allah berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمۡشُونَ عَلَى ٱلۡأَرۡضِ هَوۡنٗا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلۡجَٰهِلُونَ قَالُواْ سَلَٰمٗا

Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan [25]: 63)

Melalui Jibril, Allah pernah memberikan pilihan kepada Nabi Muhammad SAW untuk memilih ingin ‘menjadi nabi sekaligus raja’, ‘atau menjadi nabi sekaligus hamba’. Kemudian Nabi lebih memilih menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa status kehambaan merupakan derajat paling agung di sisi Allah. Penyebutan Nabi Muhammad SAW menggunakan kata “Abdun” tidak hanya dalam surat al-Isra. Dalam beberapa ayat lain juga sama. Seperti QS Al-Baqarah [2]: 23, QS Al-Hadid [57]: 9 dan QS Al-Jin [72]: 19.

2. Pembekalan dakwah untuk Rasulullah

Diketahui bahwa sebelum peristiwa Isra’ Miraj, Rasulullah SAW berdakwah di Kota Makkah. Di sana ia merasakan betapa berat cobaan dan ujian dirasakan. Orang-orang tercinta dan orang-orang tempat beliau bersandar silih berganti wafat, saat orang-orang Quraisy tengah begitu ganas menindas.

Sampai kemudian para sejarawan menamai duka Rasulullah atas kewafatan orang-orang tercinta dengan nama ‘amul huzni (tahun kesedihan). Setelah itu Allah mengisra’kan Nabi-Nya. Ini semua sudah skenario Allah agar Nabi Muhammad menjadi sosok yang tangguh. Tantangan dakwah beliau ke depan akan sangat berat dan berliku.

Menyebarkan agama Islam dengan perlawanan dari pemuka-pemuka Quraisy, dari pasukan perang bersenjata lengkap, dan musuh-musuh Islam kelas jenderal lainnya. Allah telah membekali Nabi Muhammad SAW sejak ia lahir dengan kehidupan pedih yang mengasah ketangguhannya.

Bahkan kita tahu, setelah Isra’ Miraj, tepatnya setelah hijrah ke Madinah, hambatan dakwah Rasulullah SAW lebih berat. Peristiwa perang badar, perang uhud, perang mu’tah, dan perang-perang lainnya adalah fakta sejarah bahwa perjuangan dakwah Nabi periode Madinah penuh tantangan dan berliku.

3. Sampaikan kebenaran walau pahit Sepulang Nabi Muhammad SAW dari Isra’ Miraj, beliau sampaikan perjalanannya itu pada sekalian penduduk Mekah. Tapi apa respons mereka? Banyak diantara mereka tidak percaya.

Bahkan ada yang semula beriman, tapi setelah mendengar ‘cerita tidak masuk akal’ ini, mereka keluar dari Islam. Sampai Nabi SAW harus menceritakan bukti-bukti untuk memperkuat argumennya; seperti soal bangunan masjid Aqsha dan kafilah dagang yang beliau lihat saat Isra.

Nabi tetap menyampaikan kabar peristiwa Isra’ Miraj yang dialaminya dengan terus terang. Meski harus dibalas dengan cacian dan ejekan dari orang-orang musyrik. Bukankah beliau pernah bersabda, “Katakanlah kebenaran, walau pahit kenyataan.”

4. Syariat Nabi Muhammad SAW menghapus syariat nabi-nabi terdahulu Saat peristiwa Isra’ Miraj, Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi nabi-nabi terdahulu. Ini bukti bahwa mereka tunduk dan mengikuti risalah Nabi Muhammad SAW. Sekaligus menjadi isyarat bahwa syariat Nabi Muhammad SAW telah menghapus syariat nabi-nabi sebelumnya.

5. Keistimewaan Masjid al-Aqsha bagi umat Muslim Sebelum peristiwa Isra Miraj, Masjid al-Aqsha dinamakan Baitul Maqdis. Perjalanan Isra dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis dan Miraj dari Baitul Maqdis menuju langit dunia sampai bertemu Rabb-nya, merupakan isyarat bahwa Masjid al-Aqsha memiliki keistimewaan bagi umat Islam.

Bahkan masjid ini pernah menjadi kiblat shalat sebelum akhirnya berganti Ka’bah. Pahala shalat Baitul Maqdis (Masjid al-Aqsha) juga 500 kali lipat dibanding masjid biasa.

6. Islam adalah agama yang suci Saat Nabi Muhammad diberi pilihan antara air susu dan khamr, Nabi memilih susu. Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Engkau telah diberi hadiah kesucian.” Ini sebagai isyarat bahwa Islam adalah agama suci (fitrah). Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

فَأَقِمۡ وَجۡهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفٗاۚ فِطۡرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِي

فَطَرَ ٱلنَّاسَ عَلَيۡهَاۚ لَا تَبۡدِيلَ لِخَلۡقِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلۡقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)

7. Pentingnya persoalan shalat Peristiwa Isra’ Miraj juga menjadi hari ulang tahun bagi shalat lima waktu. Dalam hadits Nabi dijelaskan bahwa kewajiban shalat bagi umat Muslim terjadi pada malam Nabi Muhammad SAW Miraj ke langit.

Hanya syariat shalat yang beliau terima langsung, bukan dengan wahyu melalui perantara malaikat Jibril sebagaimana kewajiban-kewajiban lainnya. Tidak heran, dalam agama Islam, shalat merupakan tiang agama (Imad ad-Din).

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Laman: Nu Online

Isra’ dan Miraj adalah peristiwa agung, yaitu Allah Subhanahu Wa Taala (SWT) memberikan keistimewaan pada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) untuk melakukan perjalanan mulia bersama malaikat Jibril mulai dari Masjidil Haram Makkah menuju Masjidil Aqsha Palestina. Kemudian dilanjutkan dari Masjidil Aqsha menuju Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT sang pencipta alam semesta. Penegasan ini sebagaimana firman Allah dalam surat Isra’ ayat 1:

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Imam Bukhari mengisahkan perjalanan Isra’ Miraj Nabi Muhammad SAW dalam Shahih Bukhari, juz 5 halaman 52. Intisarinya adalah: Suatu ketika Nabi berada di dalam suatu kamar dalam keadaan tidur, kemudian datang malaikat mengeluarkan hati Nabi dan menyucinya, kemudian memberikannya emas yang dipenuhi dengan iman. Kemudian hati Nabi dikembalikan sebagaimana semula.

Setelah itu Nabi melakukan perjalanan Isra’ Miraj dengan mengendarai buraq dengan diantar oleh Malaikat Jibril hingga langit dunia, kemudian terdapat pertanyaan: Siapa ini? Jibril menjawab: Jibril. Siapa yang bersamamu? Jibril menjawab: Muhammad. Selamat datang, sungguh sebaik-baiknya orang yang berkunjung adalah engkau, wahai Nabi.

Di langit dunia ini, Nabi bertemu dengan Nabi Adam Alaihis Salam (AS), Jibril menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah bapak dari para nabi. Jibril memohon kepada Nabi Muhammad untuk mengucapkan salam kepada Nabi Adam, Nabi Muhammad mengucapkan salam kepada Nabi Adam, berikutnya Nabi Adam juga membalas salam kepada Nabi Muhammad.

Perjalanan dilanjutkan menuju langit kedua, di sini Nabi bertemu dengan Nabi Yahya dan Nabi Isa. Di langit ketiga, Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, di langit keempat dengan Nabi Idris, di langit kelima bertemu Nabi Harun, di langit keenam dengan Nabi Musa. Nabi Musa menangis karena Nabi Muhammad memiliki umat yang paling banyak masuk surga, melampaui dari umat Nabi Musa sendiri. Dan terakhir di langit ketujuh, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Ibrahim.

Setelah itu, Nabi Muhammad menuju Sidratul Muntaha, tempat Nabi bermunajat dan berdoa kepada Allah. Kemudian Nabi naik menuju Baitul Makmur, yaitu baitullah di langit ketujuh yang arahnya lurus dengan Ka’bah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya. Selanjutnya Nabi disuguhi dengan arak, susu, dan madu. Nabi kemudian mengambil susu, Jibril mengatakan: Susu adalah lambang dari kemurnian dan fitrah yang menjadi ciri khas Nabi Muhammad dan umatnya.

Di Baitul Makmur, Nabi Muhammad bertemu dengan Allah SWT dan mewajibkan melaksanakan shalat fardhu sebanyak lima puluh rakaat setiap hari. Nabi menerima dan dalam perjalanan bertemu Nabi Musa. Ia mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah shalat lima puluh kali sehari, Nabi Musa mengatakan: Umatku telah membuktikannya. Lalu meminta kepada Nabi Muhammad untuk kembali kepada Allah SWT, mohonlah keringanan untuk umatnya. Kemudian Nabi menghadap kepada Allah dan diringankan menjadi shalat sepuluh kali.

Kemudian Nabi Muhammad kembali , dan Nabi Musa mengingatkan sebagaimana yang pertama. Kembali Nabi menghadap Allah hingga dua kali, dan akhirnya Allah mewajibkan shalat lima waktu. Nabi Musa tetap mengatakan bahwa umat Muhammad tidak akan kuat. Nabi Muhammad menjawab: Saya malu untuk kembali menghadap pada Allah dan ridha serta pasrah kepada Allah.

Imam Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa Nihayah, Sirah Nabawiyah, juz 2 halaman 94 menceritakan, keesokan harinya Nabi menyampaikan peristiwa tentang Isra’ Miraj terhadap kaum Quraisy. Mayoritas mereka ingkar terhadap kisah yang disampaikan Nabi Muhammad, bahkan sebagian kaum muslimin ada yang kembali murtad karena tidak percaya terhadap kisah yang disampaikan Nabi

Melihat hal tersebut, Abu Bakar bergegas untuk membenarkan kisah Isra’ Miraj Nabi: Sungguh aku percaya terhadap berita dari langit, apakah yang hanya tentang berita Baitul Maqdis aku tidak percaya? Sejak saat itu sahabat Abu Bakar dijuluki dengan sebutan Abu Bakar as-Shiddiq, Abu Bakar yang sangat jujur.

Pelajaran Penting Ali Muhammad Shalabi dalam Sirah Nabawiyah: ‘Irdlu Waqâi’ wa Tahlîl Ihdats, juz 1 halaman 209 menjelaskan setidaknya ada makna penting dari peristiwa ini.

1. Kemuliaan dan Keistimewaan Nabi Muhammad Nabi Muhammad SAW baru saja mengalami hal yang amat menyedihkan, yaitu wafatnya Sayyidah Khodijah sebagai istri tercinta, yang selalu mengorbankan jiwa, tenaga, pikiran, dan hartanya demi perjuangan Nabi. Juga wafatnya sang paman, Abu Thalib yang selalu melindungi Nabi dari kekejaman kaum Quraisy. Allah ingin menguatkan hati Nabi dengan melihat secara langsung kebesaran Allah SWT. Sehingga hati Nabi semakin mantap dan teguh dalam menyebarkan agama Islam.

Ini memberikan pelajaran, bahwa siapa pun yang berjuang di jalan Allah, dan menegakkan agama, seperti dengan memakmurkan masjid, memakmurkan majlis ilmu, dzikir dan tahlil, Allah akan memberikan kebahagiaan dan keistimewaan.

2. Kewajiban Shalat Lima Waktu Musthofa As Siba’i dalam kitab Sirah Nabawiyah, Durus wa Ibar, jilid 1 halaman 54 menjelaskan bahwa jika Nabi melakukan Isra’ Miraj dengan ruh dan jasadnya sebagai mukjizat. Karenanya, sebuah keharusan bagi tiap muslim menghadap (Miraj) kepada Allah SWT lima kali sehari dengan jiwa dan hati yang khusyu’.

Dengan shalat yang khusyu’, seseorang akan merasa diawasi oleh Allah SWT, sehingga malu untuk menuruti syahwat dan hawa nafsu, berkata kotor, mencaci orang lain, berbuat bohong. Justru sebaliknya lebih senang dan mudah untuk melakukan banyak kebaikan. Hal tersebut demi mengagungkan keesaan dan kebesaran Allah, sehingga dapat menjadi makhluk terbaik di bumi.

3. Perjalanan Pertama Luar Angkasa Dalam sejarah, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga Sidratul Muntaha adalah perjalanan pertama manusia di dunia menuju luar angkasa, dan kembali menuju bumi dengan selamat. Jika hal ini telah terjadi di zaman Nabi, 1400 tahun yang lalu, hal tersebut memberikan pelajaran bagi umat Islam agar mandiri, belajar, bangkit dan meningkatkan kemampuan, tidak hanya dalam masalah agama, sosial, politik, dan ekonomi, namun juga harus melek terhadap sains dan teknologi. Perjalanan menuju ke luar angkasa adalah sains dan teknologi tingkat tinggi yang menjadi salah satu tolak ukur kemajuan sebuah umat dan bangsa.

4. Membela Perjuangan Agama Pada Isra Miraj ada penyebutan dua masjid, yaitu Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Hal tersebut memberikan pelajaran bahwa Masjidil Aqsha adalah bagian dari tempat suci umat Islam. Membela masjid tersebut dan sekelilingnya sama saja dengan membela agama Islam. Wajib bagi tiap muslim sesuai dengan kemampuan masing-masing untuk selalu berjuang dan berkorban untuk kemerdekaan dan keselamatan Masjidil Aqhsa Palestina. Baik dengan diplomasi politik, bantuan sandang pangan, maupun dengan harta.

Sumber: Laman NU Online

اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَا حُدُوْدَ لِقُدْرَتِهِ، اَلَّذِيْ رَفَعَ نَبِيَّهُ إِلٰى أَعْلٰى دَرَجَةٍ، وَقَدَّمَهُ أَمَامَ عَرْشِهِ، لِيَبْلُغَ رِسَالَةً كَرِيْمَةً إِلٰى قَوْمِهِ، وَجَعَلَهُ دَلِيْلًا عَلٰى عَظَمَةِ رَسُوْلِهِ.

اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهِ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى أَفْضَلِ الْقُدْوَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّابعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوا اللّٰهَ تَعَالٰى بِاِكْثَارِ أَعْمَالِكُمُ الصَّالِحَةِ وَدَوَامِ عِبَادَتِهِ، فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالٰى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ : سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِمِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

صَدَقَ اللّٰهُ الْعَظِيْمُ

Jamaah yang berbahagia

Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata’ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.

Hadirin rahimakumullah

Tahun ini, peristiwa Isra dan Miraj Nabi besar kita, Muhammad SAW, kembali kita peringati. Peringatan ini tentu saja memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai muslim, tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa itu, tetapi juga guna mengambil hikmah atau pelajaran agar berguna bagi perjalanan hidup kita. Sekurang-kurangnya ada lima hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj itu.

Pertama, perjalanan Isra dan Miraj ini merupakan perjalanan yang berlangsung dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa terus naik ke langit hingga ke Arasy Allah dan kembali lagi ke Masjidil haram. Yang Namanya perjalanan tentu maju, ini berarti bisa kita simpulkan bahwa bila kita ingin umat ini mengalami dan mencapai kemajuan serta agar kemajuaannya tetap terarah, maka sumber daya manusia muslim harus mendapatkan pembinaan di masjid.

Oleh karena itu, setiap muslim harus cinta kepada masjid, gemar ke masjid dan mau memakmurkan masjid. Keharusan kita memakmurkan masjid ini karena memang hanya orang-orang yang berimanlah yang pantas melakukannya, Allah SWT berfirman di dalam surat At Taubah ayat 18 :

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

“Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Hadirin Yang kami Hormati

Hikmah kedua, Isra Miraj juga membuktikan luas dan banyaknya ilmu Allah yang dimiliki sehingga apa yang mustahil bila dilihat dari ilmu manusia menjadi mungkin bagi ilmu Allah SWT., ini menggambarkan bahwa ilmu Allah itu amat luas dan amat banyak, sementara ilmu yang dimiliki manusia sangat sedikit, ini sekaligus membenarkan firman Allah:

…….وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

” … Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit.” (QS Al Isra’ : 85)

Masyiral Muslimin rahimakumullah…

Hikmah ketiga dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh loyalitas atau kesetiaan Nabi Muhammad SAW, kepada Allah SWT. Hal ini karena Isra dan Miraj itu terjadi ketika Nabi berada dalam kondisi yang berduka dengan wafatnya Sayyidah Khodijah dan wafatnya pamannya Abu Thalib. Dengan Isra dan Miraj itulah Allah SWT sebenarnya ingin menegaskan kepada Nabi bahwa boleh saja bahwa ada manusia membantu perjuangan nabi, tetapi seorang nabi tidak pantas terlalu tergantung kepada manusia, ketergantungan dan mengharapkan perlindungan ini hanya pantas kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Allah berfirman:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ ……

” Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) … ” (QS. Al Baqarah : 257)

Keempat, hikmah dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh semangat dakwah. Hal ini karena sekembalinya Rasul SAW, dari Isra dan Miraj, beliau semakin menunjukkan semangatnya dalam dakwah meskipun orang-orang kafir semakin berani dan biadab dalam menghalang-halangi laju dakwah Rasulullah SAW, hinga puncaknya adalah harus dihindarinya pertumpahan darah, maka Nabi dan para sahabat diperintah oleh Allah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.

Keharusan kita untuk menunaikan tugas dakwah secara serius memang dikemukakan oleh Allah SWT, dalam Alquran:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Dan Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali Imran: 104)

Sidang Jumat yang dimuliakan Allah

Terakhir atau yang kelima dari hikmah Isra dan Miraj adalah semakin menumbuhkan Izzah atau harga diri sebagai muslim. Itulah sebagaimana yang ditunjukkan Nabi SAW, setelah Isra dan Miraj dan memang begitulah seharusnya seorang muslim, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman.” (QS Ali Imran: 139)

Semoga kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Rasulullah SAW.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْههِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّييْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْممُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَااسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Sumber: Laman MUI Digital
Oleh: KH Misbahul Munir SAg MM, Sekretaris 1 MUI kota Tangerang dan Ketua Umum MUI Kecamatan Priuk

Dalam ayat pertama surat Al-Isra’, Allah -subhanahu wa ta’ala- berfirman, “Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad -shallallahu ‘alayhi wa sallam-) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Kata isra’ merupakan kata asal (mashdar) dari kata kerja asraa-yusrii yang berakar dari kata saara-yasiiru yang berarti berjalan. Dari kata ini pula berasal kata siirah yang berarti biografi, karena memuat tentang riwayat perjalanan hidup seseorang, dan juga kata sayyaarah yang bermakna sekelompok orang yang sedang berjalan, seperti dalam surat Yusuf atau di era modern diartikan sebagai mobil, alat untuk berjalan.

Adapun kata mi’raaj, dari kata ‘araja-ya’ruju yang bermakna naik. Selain bermakna naik, ‘araja juga bermakna singgah, bentuk lainnya adalah kata a’raaj yang bermakna pincang. Kata lain serupa yang ditemukan dalam Al-Quran adalah ‘urjuun yang bermakna tandan, atau ma’arij yang bermakna tempat-tempat yang tinggi.

Jika memperhatikan dalam konteks kisah Isra’ Miraj, yaitu ketika Nabi Muhammad -shallallahu ‘alayhi wa sallam- sedang mengalami masa-masa berat ketika ‘Amul Huzni, atau tahun kesedihan dimana paman Sang Nabi, Abu Thalib dan istri Sang Nabi, Khadijah telah wafat. Kedua orang ini adalah sosok yang berperan dalam melindungi dan mendukung dakwah di masa-masa awal turunnya risalah pencerahan itu. Peristiwa ini terjadi sekira tahun kesepuluh setelah wahyu pertama turun.

Ditambah lagi sebelum kejadian itu terjadi pemboikotan secara sosial-ekonomi oleh kaum Quraisy di Makkah kepada para sahabat yang memilih jalan hidup sebagai umat Islam generasi pertama. Kejadian ini terjadi pada tahun ketujuh setelah kenabian, dan berlanjut selama tiga tahun hingga ‘Amul Huzni.

Sehingga kondisi masa-masa itu bukanlah kondisi yang tenang dan tentram serta serba berkecukupan. Sebaliknya, masa-masa itu adalah kondisi sulit yang mencekik. Kesedihan dan kesedihan, derita dan nestapa menggelayut di kalangan umat Islam masa itu.

Maka untuk menghibur Sang Rasul, Allah memperjalankannya untuk “piknik” dalam satu malam pada dua destinasi yang tidak biasa. Dari al-Masjid al-Haram tanah suci Makkah al-Mukarramah dimana Sang Rasul lahir, tumbuh dan tinggal ke al-Masjid al-Aqsha di Yerussalem, lalu naik menuju langit ketujuh atau Sidratul Muntaha. Pada masa dimana pesawat dan alat transportasi masih begitu sederhana dan memang dianggap diluar nalar oleh kebanyakan orang masa itu.

Maka isra’ adalah kondisi dan proses dimana Sang Rasul diperjalankan di bumi secara horizontal, dan Miraj adalah ketika Sang Rasul diangkat menuju langit ketujuh secara vertikal.

Di langit ketujuh, Sang Rasul Yang Mulia diberikan “oleh-oleh” yang juga istimewa. Perintah Shalat menjadi satu-satunya perintah ibadah dimana Sang Rasul mendapatkannya langsung di langit ketujuh. Tidak seperti ibadah lain dimana Sang Rasul tetap berada di bumi, lalu turunlah firman Allah dari atas langit ketujuh.

Sehingga dari peristiwa ini, shalat-lah obat kesedihan, kesempitan, kesulitan, dan nestapa yang menggelayut dalam tahun-tahun duka. Sebagai wujud kasih sayang Allah, umat Islam hanya diwajibkan untuk menghadap-Nya sebanyak lima kali dalam satu hari. Selain lima waktu itu, umat Islam diberikan perintah untuk shalat di beberapa waktu lain yang ditentukan, tetapi tidak se-wajib lima waktu ini.

Maka dalam lima waktu ini umat Islam menghadapkan diri di hadapan Tuhan. Mengadukan semua cita dan cerita yang didapatkannya dalam kehidupan. Melepaskan ikatan penatnya kehidupan dalam lima waktu, sehingga mereka yang shalat menjalani hidup dengan ketenangan hati dan pikiran, yang kemudian akan melahirkan sikap yang rapi dan tertata. Karena hati dan pikiran yang tidak tenang menjadikan semua perkara hidup menjadi seolah tak berbentuk.

Dalam rangkaian shalat, tersimpan banyak makna dan memuat banyak sikap penghambaan yang tinggi dan meninggikan. Dimulai dengan takbiratul ihram, dimana mengecilkan semua perkara kehidupan yang dihadapi walau sejenak, dan ditutup dengan menebar nilai positif berupa salam kedamaian pada siapapun di sekitar.

Pada hakikatnya manusia lebih memilih ketenangan daripada keramaian. Itu manusiawi, dan menjadi sebab mengapa surga yang menjadi dambaan semua insan itu selalu digambarkan sebagai kebun dan sungai. Bukan digambarkan seperti kesenangan duniawi yang diinginkan semua orang.

Sehingga bagi sebagian ulama, ketika shalat mereka selalu berusaha menghidupkan hati dengan menghadirkan kenyamanan atau bahkan sedikit ketakutan ketika sedang shalat. Sebagian menghadirkan diri seolah di hadapan Ka’bah, sebagian menghadirkan diri seolah berada di hadapan liang lahat, sebagian lainnya membayangkan sedang berada di tengah kebun yang indah.

Peristiwa Isra’ Miraj menjadi momentum sejarah yang membentuk kepribadian diri seorang muslim yang taat. Dimana nilai disiplin, kerapian dan kebersihan lahir batin, ketenangan, kesabaran, berserah diri di hadapan Tuhan, menebar nilai positif berada dalam satu rangkaian ibadah yang terulang lima kali sehari. Sehingga shalat menjadi sebuah energi untuk membentuk insan yang berkemajuan, ketika shalat dipahami dan dijalankan dengan benar.

Maka seorang muslim juga perlu meng-isra’-kan dan me-Miraj-kan dirinya, hidupnya, potensi diri dan orang lain di sekitarnya. Dengan memperjalankan diri (isra’) untuk memperjalankan diri untuk bergerak menambah wawasan hingga memperjalankan diri untuk peduli dengan mereka yang membutuhkan lalu barulah kemudian berupaya untuk meningkatkan (Miraj) potensi diri agar lebih baik setiap harinya.

Sehingga isra’ dan Miraj tidak sebatas menjadi peristiwa sejarah yang diulang-ulang setiap momen bulan Rajab. Melainkan menjadi semangat diri dan bernilai sosial agar menjadi sosok yang dinamis dan optimis berlandaskan prasangka baik kepada Tuhan. Seorang muslim tidak bersikap statis yang berhenti dalam kenyamanan dan tenggelam untuk tidak berusaha berubah menjadi lebih unggul setiap harinya. Rasa nyaman itu indah, tetapi tidak ada perkembangan di dalamnya.

Seorang muslim juga tidak perlu terburu-buru untuk ber-Miraj atau “naik” baik dalam jabatan, pangkat, kekuasaan, popularitas dan semisalnya di hadapan sesama manusia. Karena seorang muslim perlu lebih dahulu untuk ber-isra’, berjalan memperhatikan realitas dan berusaha mengambil pelajaran yang bermakna, sekaligus beraksi untuk kebaikan bagi sesama manusia. Sehingga ketika sudah berada di tingkat lebih tinggi diantara manusia lain, selayaknya mampu memelihara sikap tawadhu’ dan sederhana menyikapi Miraj-nya posisi dirinya.

Tentang kapan dirinya akan ber-Miraj, naik, secara umum bukanlah hal yang perlu diperhatikan dengan terlalu ambisius, lantas mengabaikan batasan nilai, norma dan etika. Karena pada hakikatnya, hanya takwa setiap diri-lah yang menjadi poin Miraj atau naiknya derajat dan tingkatan diri manusia yang membedakannya dari orang lain. Allah-lah yang berhak untuk menghendaki siapapun dari para hamba-Nya yang pantas untuk di-Miraj-kan, begitu juga kapan dan bagaimana Miraj-nya.

Seorang muslim selayaknya mampu meng-isra’-kan orang lain, dengan mengajaknya untuk bersama berbuat dalam kebaikan, atau me-Miraj-kan derajat diri orang lain dengan cara-cara yang baik dan produktif.

Sumber: Laman Muhammadiya.or.id

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.
Umuriddunya waddin.
Washolatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiya’i wal mursalin, Sayyidina wa Maulana Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in.

Subhanaka la ‘ilmalana illa ma ‘allamtana, innaka antal ‘alimul hakim.
Rabbisyrahli shodri, wa yassirli amri, wahlul ‘uqdatam millisani yafqohu qouli.

Amma ba’du.

Alhamdulillah, teman-teman sekalian.
Seperti biasa, saya harus sampaikan juga berulang kali bahwa tidak diperkenankan untuk foto atau video. Mungkin ada teman-teman yang baru hadir, jadi belum tahu. Yang terlanjur, mohon dihapus. Kalau mau merekam, silakan suara saja.

Hari ini, kita akan belajar mengenai pesan dan kesan dari Isra Mikraj-nya Baginda kita Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kisah dan hikmah dari Isra Miraj-nya Baginda kita Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena ini memang sedang berada dalam bulannya, bulan Rajab, maka kalau kita dengar saja yang selalu terbayang adalah peristiwa Isra dan Mikraj.

Teman-teman sekalian, Isra dan Miraj terjadi pada tahun ke-11 dari kenabian Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tepatnya pada malam 27 Rajab. Pada saat itu, usia Nabi sekitar 51 tahun. Pada usia Nabi sekitar 50 tahun itulah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan dua peristiwa paling menyedihkan dalam hidup beliau, yang terjadi di tahun yang sama, yaitu: Wafatnya istri beliau tercinta, Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha dan Wafatnya paman beliau tercinta, Abu Thalib.

Keduanya meninggal di tahun yang sama, sehingga tahun itu dinamakan oleh Nabi sebagai ‘Amul Huzn, tahun kesedihan. Setelah wafatnya Sayyidah Khadijah, terutama gangguan dari kaum Quraisy semakin luar biasa dahsyatnya. Pada tahun itu pula Nabi Muhammad memutuskan untuk berangkat hijrah ke Thaif. Namun di Thaif, bukannya mendapatkan perlindungan, bukannya mendapatkan maqwa atau tempat berlindung, Nabi justru diperlakukan dengan sangat buruk. Nabi dilempari oleh anak-anak kecil dan budak-budak dengan batu, sampai membuat Nabi harus lari tunggang-langgang.

Pada waktu itu pula, betis-betis Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam terluka cukup parah. Nabi kemudian memutuskan untuk kembali ke Kota Mekah, di atas kesedihan beruntun yang terjadi dalam kehidupan beliau. Sayyidah ‘Aisyah menceritakan Buraq itu, katanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, adalah tunggangan yang lebih kecil daripada kuda dan lebih besar daripada keledai. Kita sudah bisa memperkirakan kira-kira sebesar apa Buraq ini.

Kemudian diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad ‘alaihis salam menjelaskan, warnanya kekuningan, memiliki sayap, dan tertulis di antara kedua matanya, di dahinya, “La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”. Ketika ia berkeringat, keringatnya lebih wangi daripada bau kasturi.

Karena kita bukan buraq jadi harus mandi setiap hari biar nggak bau keringetan. Kalau kamu Buraq, nggak usah mandi nggak apa-apa. Tapi kalau kamu bukan Buraq, mandilah, kalau bisa sehari dua kali. Deal? Akhirnya Nabi mau naik. Ayo, Rasulullah mulai berangkat. Nabi mau naik Buraq, tapi Buraq ini nggak mau merunduk. Jadi agak susah juga tuh. Buraq-nya kayak nggak mau dinaiki.

Akhirnya Malaikat Jibril berkata, “Wahai Buraq, tunduklah engkau. Fa innahu lam yarkabka ahadun asyrafu minhu. Kamu tidak akan pernah dinaiki oleh seseorang yang lebih mulia daripada dia. Tahukah kamu, dia adalah makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang paling mulia.” Buraq langsung malu. Dia sadar, itulah Muhammad, yang namanya tertulis di antara kedua matanya. Kabarnya, saat itulah Buraq malu sampai berkeringat.

Kalau urusan malu, kayaknya kita mirip juga ya. Kalau malu, keringetan juga. Bedanya, kita baunya beda. Akhirnya Buraq merunduk. Nabi pun naik. Nabi membaca doa bepergian:

“Subhanalladzi sakhkharalana hadza wa ma kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun.”

Lalu berangkat ke mana? Ke Masjidil Aqsa. Tapi serius, teman-teman sekalian, perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa itu bukan tanpa transit. Ada banyak transit di perjalanan. Ketika Nabi Muhammad dinaikkan ke atas langit, Nabi melihat bumi bukan dengan pandangan manusia biasa. Sebagaimana yang tadi saya sampaikan, dengan adanya pembelahan dada Nabi Muhammad, Nabi dipersiapkan. Ruh dan organ tubuh Nabi tidak lagi seperti manusia pada umumnya. Cara pandang Nabi sudah seperti cara pandang malaikat.

Kalau kita melihat terang karena ada lampu, karena ada cahaya, malaikat tidak begitu. Malaikat melihat dengan cahaya ketaatan. Makanya Nabi Muhammad bersabda, rumah yang di dalamnya dibaca Al-Qur’an, rumah itu terlihat terang bagi para malaikat penghuni langit seperti terlihatnya bintang gemintang di malam hari bagi penghuni bumi. Bagi malaikat, siang dan malam tidak ada bedanya. Tidak ada cerita malaikat pencatat amal kebingungan karena gelap. Tidak ada cerita malaikat bilang, “Nyala dulu lampunya, gelap.”

Pancaindra malaikat itu bisa: melihat ketaatan, melihat kemaksiatan, mencium ketaatan, mencium kemaksiatan, mendengar ketaatan, mendengar kemaksiatan. Jadi jangan khawatir. Selama kamu dalam ketaatan, yang menemanimu adalah malaikat. Tapi ketika kamu lupa kepada Allah, bahkan berbuat dosa, yang ada di sekelilingmu adalah setan-setan. Malaikat menjauh, karena yang mendekat saat itu adalah setan. Jangan salahkan siapa-siapa kalau saat itu kamu tidak terjaga dari kejahatan, karena malaikat penjagamu menjauh ketika kamu mengerjakan maksiat tersebut.

Nabi Muhammad ‘alaihis salam bersabda, “Apabila seseorang berbohong, malaikat Raqib dan ‘Atid menjauh sejauh satu mil karena busuknya bau dusta yang keluar dari mulutnya.”

Untungnya orang-orang di sekitar kita tidak bisa mencium itu. Kalau bisa, habis kita bohong langsung diusir semua orang. Bau dusta itu dicium oleh malaikat. Bau ghibah, ngomongin orang, itu seperti bau bangkai manusia. Makanya Allah berfirman: “A yuhibbu ahadukum an ya’kula lahma akhihi maytan.” Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan bangkai saudaranya sendiri?

Kalau kita bisa mencium bau dosa, kita nggak akan berani ngomongin orang. Malaikat Rahmat kabur. Malaikat Raqib dan ‘Atid ingin menjauh, tapi tetap harus mencatat. Ketika Nabi Isra Miraj, pancaindra Nabi disamakan dengan pancaindra malaikat. Maka ketika di atas langit Nabi melihat ada tempat terang di bumi, Malaikat Jibril membawa Nabi turun.

Nabi diperintahkan, “Sholatlah di sini, wahai Muhammad.” Nabi sholat dua rakaat. Setelah selesai sholat, baru Nabi bertanya, “Wahai Jibril, tempat apa ini?” Jibril menjawab, “Ini adalah tanah thayyibah, tanah yang wangi. Ini akan menjadi tempat hijrahmu nanti.” Padahal Nabi belum hijrah ke sana, tapi tanahnya sudah bercahaya dan wangi. Kemudian Nabi dibawa lagi. Turun lagi. Sholat lagi. Bertanya lagi. “Itu Bukit Sinai, tempat Allah berbicara dengan Nabi Musa.” Turun lagi. Sholat lagi.
“Itu Betlehem, tempat lahirnya Nabi ‘Isa ‘alaihis salam.”

Akhirnya sampailah di Baitul Maqdis. Buraq diikat di satu tempat. Tempat itu sekarang dikenal dengan Masjid Buraq. Nabi masuk ke masjid. Masjid itu penuh dengan para nabi. Bukan hanya 25. Yang wajib kita ketahui namanya memang 25, tapi jumlah nabi ribuan. Semua berkumpul. Shaf pertama penuh. Malaikat Jibril memegang tangan Nabi dan membawa Nabi ke depan.

“Wahai Rasulullah, sholatlah dan imami mereka.” Karena sesungguhnya engkau adalah Imamul Anbiya wal Mursalin, imam bagi seluruh nabi dan rasul.

Kalau kamu bermakmum kepada Nabi Muhammad, kamu bermakmum bersama seluruh orang baik di dunia. Kalau kamu tidak bermakmum kepada Nabi Muhammad, kamu tidak akan bisa bermakmum kepada orang baik, karena semua orang baik bermakmum kepada Nabi Muhammad. Jadikan Nabi Muhammad imam dalam hidupmu.

Setelah itu Nabi dibawa ke tempat Miraj. Dari batu itulah Nabi naik ke langit. Batu itu masih ada sampai sekarang. Nabi melewati tujuh lapis langit, sampai ke Sidratul Muntaha. Tempat yang bahkan Malaikat Jibril tidak mampu melangkah lebih jauh. “Di sinilah batas aku, wahai Rasulullah. Jika aku melangkah, aku akan terbakar.”

Nabi melanjutkan sendirian. Nabi sampai di Sidratul Muntaha. Nabi sujud. Nabi duduk tawarruk. Nabi mengucapkan: “At-tahiyyatul mubarakatus shalawatut thayyibatulillah.” Allah menjawab: “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh.” Itulah kebahagiaan tertinggi seorang manusia.

Dan Nabi tidak lupa membawa umatnya. “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahish shalihin.” Maka setiap kali kita sholat, kita mengulang kisah Isra Miraj itu. Mengulang dialog cinta antara Allah, Nabi Muhammad, dan umatnya. Inilah rahasia sholat.

Ya Allah, sambungkan kami dengan-Mu. Sambungkan kami dengan Nabi Muhammad-Mu. Jadikan kami makmum beliau. Jangan Engkau jauhkan kami dari Nabi Muhammad.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzabannar.Walhamdulillahi rabbil ‘alamin. Wa ila hadratin Nabi Muhammad, Al-Fatihah.

Sumber: YouTube Ustadzah Halimah Alaydrus
Oleh: Ustadzah Halimah Alaydrus

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillahil karim, Nabiina Muhammadinil amin, wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in.

Wa ba’du, jemaah sekalian.
Alhamdulillah, mengawali jumpa kita saat ini, kita memanjatkan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala atas seluruh limpahan karunia dan nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita sampai info ini.

Adab dalam bersyukur diajarkan oleh Al-Qur’an secara total. Minimal 17 kali sehari kita diajari bersyukur kepada Allah. Totalitas itu digambarkan hanya dengan dua huruf saja, yaitu “al” dalam kalimat Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Huruf “al” ini dalam rumus bahasa Arab disebut istighraq, yaitu sesuatu yang bersifat komprehensif, menyeluruh, total.

Artinya, Allah mengajarkan kepada kita bahwa kalau mau bersyukur, harus total, jangan setengah-setengah. Saat dapat jabatan, syukur. Saat dimutasi, hilang syukurnya. Padahal di balik hikmah mutasi itu boleh jadi ada pesan-pesan kebaikan dan maslahat yang belum kita ketahui.

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216, “Asa an takrahu syai’an wa huwa khairullakum.” Boleh jadi ada sesuatu yang tidak kita sukai, tetapi di balik itu Allah telah siapkan kebaikan. Saat dapat proyek, syukur. Saat gagal tender, hilang syukurnya. Padahal boleh jadi Allah palingkan dari sesuatu yang belum kita lihat mudaratnya kepada sesuatu yang lebih baik yang belum tampak kebaikannya.

Jadi menghadirkan syukur itu gambaran Al-Qur’annya total, dari ujung kepala sampai ujung kaki. Banyak nikmat yang belum kita rasakan, bahkan yang sudah terasa pun sering tidak kita syukuri karena belum kita sadari.

Inilah yang kemudian ditegaskan Allah dalam ayat lain yang sangat tegas: “La in syakartum la-azidannakum.”
Jika kalian bersyukur, Aku pasti akan tambahkan nikmat-Ku.

Bulan Rajab dan Evaluasi Diri

Sekarang kita sudah masuk tanggal 28 bulan Rajab 1445 Hijriah. Rajab dikenal sebagai bulan takzim, bulan kehormatan, bulan keagungan, bulan evaluasi diri. Jika di bulan ini kita mampu mengevaluasi diri dan mengembalikan keadaan kita agar terhormat di hadapan Allah, maka derajat kita akan diangkat oleh Allah.

Salah satu cara mengangkat derajat itu adalah evaluasi diri, dan puncaknya ditemukan dalam fikih salat. Itulah sebabnya esensi peristiwa Isra Mikraj terletak pada salatnya.

Isra Mikraj dan Salat

Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa menunjukkan mukjizat. Perjalanan itu tidak mungkin dilakukan manusia biasa dengan teknologi pada masa itu. Kemudian Nabi diperjalankan ke langit dan diperlihatkan kekuasaan Allah sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 1: “Linuriyahu min ayatina.”

Namun inti Isra Mikraj bukan pada perjalanannya, melainkan pada hasil yang dibawa pulang, yaitu salat.
Salat bukan hanya untuk Nabi, tetapi untuk seluruh umat. Dari waktu, penamaan, hingga gerakannya, semua mengandung makna dan solusi kehidupan.

Makna Ujian dan Masalah Hidup

Tidak ada orang hidup yang tidak diuji. Allah berfirman:
“La yukallifullahu nafsan illa wus’aha.” Ujian hadir sesuai kemampuan kita dan sesuai maslahat kita. Masalah adalah jalan menuju kualitas hidup yang lebih baik dan pengabulan doa-doa kita.

Kesuksesan tidak pernah datang tanpa ujian. Jannah tidak selalu berarti surga akhirat, tetapi juga kesuksesan yang belum tampak.

Salat sebagai Penyelesai Masalah

Allah berfirman:
“Wasta’inu bish-shabri was-shalah.”

Jika ada masalah, terima dulu dengan sabar, lalu kerjakan salat. Salat tidak pernah gugur: berdiri, duduk, berbaring, isyarat, bahkan kedipan mata. Karena Allah tidak menginginkan ada satu pun hamba-Nya yang memiliki masalah tanpa solusi.

Keutamaan Salat di Masjidil Haram

Salat di Masjidil Haram dilipatgandakan 100.000 kali.
Bukan membaca Al-Qur’an, bukan infak, bukan umrah-tetapi salat. Karena Allah ingin menegaskan bahwa yang paling utama adalah salat.

Isra Mikraj bukan hanya seremonial, tetapi momentum untuk mengingat, mengevaluasi, dan mengamalkan. Mengingat agar sadar, melaksanakan perintah, meninggalkan larangan, dan mensyukuri nikmat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang istiqamah dalam kebaikan, dimudahkan dalam ibadah, dan diselesaikan semua persoalan hidup kita melalui salat.

Sumber: Youtube Adi Hidayat Official
Oleh: Ustadz Adi Hidayat

Itulah beberapa kumpulan contoh ceramah tentang Isra Miraj yang bisa menjadi referensi. Semoga bermanfaat ya, infoers!

Ceramah Isra Miraj Singkat

1. Hikmah Isra Miraj untuk Kita dalam Kehidupan Sehari-hari

Ceramah Isra Miraj Panjang

1. Perjalanan Nabi Muhammad SAW dan Perintah Salat Lima Waktu

2. Isra’ Miraj dan Pelajaran Penting dalam Hidup

3. Empat Pelajaran Mulia dari Peristiwa Isra Miraj yang Agung

4. Refleksi Isra’ Miraj Untuk Hidup Berkemajuan

5. Kisah dan Hikmah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW

6. Hikmah Isra Miraj dal Al-Quran an Sunnah