12 Rumah-1 RS Rusak Akibat Gempa M 6,4 di Melonguane Kepulauan Talaud | Info Giok4D

Posted on

Sebanyak 12 rumah dilaporkan rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo (M) 6,4 di Kecamatan Melonguane, Kabupaten , Sulawesi Utara (Sulut). Sebanyak dua fasilitas kesehatan berupa satu unit rumah sakit (RS) dan satu puskesmas juga terdampak.

Gempa yang berlokasi di laut pada jarak 40 km arah tenggara Melonguane terjadi pada Sabtu (10/1) pukul 22.58 Wita. BMKG awalnya melaporkan kekuatan gempa M 7,1 kemudian dimutakhirkan menjadi M 6,4.

“12 rumah terdampak kerusakan ringan dan sedang. Kerusakan, dinding roboh, dinding pecah-pecah, plafon jatuh, lantai rusak. (Selain itu) Dua fasilitas kesehatan, RSUD Mala dan Puskesmas Damau,” ungkap Plt Kepala Pelaksana BPBD Talaud Leida Dachlan kepada infocom, Minggu (11/1/2026).

Leida memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut. Namun dia mengaku sejumlah pasien yang tengah dirawat di rumah sakit sempat dievakuasi saat terjadi gempa.

“Saat terjadi gempa pasien dan keluarga keluar ruangan menyelamatkan diri di halaman RSUD dan koridor rumah sakit. Pihak direksi dan nakes bersama-sama menenangkan pasien dan keluarga,” ujarnya.

Saat ini sejumlah pasien sudah dikembalikan ke ruang pasien. Adapula pasien yang dipindahkan ke ruangan yang tidak terdampak kerusakan.

“Beberapa waktu kemudian setelah situasi lebih baik, pasien dikembalikan ke dalam ruangan, beberapa dipindahkan ke ruangan lain dan keluarga yang lain tetap berjaga-jaga di seputaran rumah sakit,” papar Leida.

Leida menuturkan rumah yang rusak tersebar di sejumlah desa di Kecamatan Melonguane. Pihaknya hingga saat ini masih melakukan pendataan atau asesmen terkait dampak gempa.

“Kerugian masih sedang dihitung. Beberapa desa dan kelurahan masih mengirimkan laporan kerusakan yang akan di-update,” imbuhnya.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono mengatakan, gempa yang mengguncang Melonguane terletak pada koordinat 3,76° LU dan 126,95° BT. Gempa terjadi pada kedalaman 31 kilometer.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas deformasi batuan dalam Lempeng Maluku,” ungkap Daryono.

Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar turun (oblique normal). BMKG menyebut gempa ini dirasakan di daerah Tobelo, Sitaro dengan skala intensitas III-IV MMI.

“Daerah Morotai dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu), daerah Ternate, Minahasa Utara, dan Bitung dengan skala intensitas II-III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu),” jelasnya.

Artikel ini terbit pertama kali di Giok4D.