Peristiwa Isra Miraj mengandung banyak hikmah yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari. Salah satu cara menyampaikan pesan dan hikmah Isra Miraj adalah melalui kultum.
Momen berbagi ilmu ini dapat dilakukan di berbagai tempat, mulai dari lingkungan masjid hingga sekolah. Melalui kultum, kaum muslim diajak untuk merefleksikan kembali perjalanan agung Rasulullah SAW sekaligus meneladani kemuliaan akhlaknya dalam kehidupan masing-masing.
Kultum tentang Isra Miraj umumnya berfokus pada pengisahan kembali perjalanan luar biasa Rasulullah SAW menembus lapisan langit. Selain itu, pesan utama yang sering ditekankan adalah pentingnya ibadah shalat lima waktu sebagai amanah langsung dari Allah SWT yang menjadi inti peristiwa Isra Miraj.
Bagi infoers yang sedang mencari referensi kultum Isra Miraj, infoSulsel telah merangkum contoh kultum Isra Miraj singkat dan panjang dengan beragam tema dari berbagai sumber. Yuk, simak selengkapnya!
“Isra Miraj: Antara Iman dan Logika”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hadirin yang dimuliakan Allah, Isra Miraj bukan sekadar perjalanan sejarah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa lalu menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini adalah ujian besar bagi akal dan keimanan.
Secara logika manusia, menempuh jarak ribuan kilometer dan menembus tujuh lapis langit hanya dalam waktu semalam adalah hal yang mustahil. Namun, di sinilah letak titik temu antara keterbatasan logika manusia dan kemahakuasaan Allah yang tidak terbatas.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan peristiwa ini, kaum kafir Quraisy tertawa mengejek karena mereka menggunakan logika yang terbatas pada hukum alam fisik. Namun, lihatlah Abu Bakar Ash-Siddiq; beliau langsung membenarkannya tanpa ragu.
Abu Bakar mengajarkan kita bahwa ketika “berita” datang dari sumber yang mutlak kebenarannya, yaitu Allah dan Rasul-Nya, maka logika harus tunduk di bawah kendali iman. Logika bertugas memahami cara kerja dunia, namun iman bertugas meyakini siapa yang menciptakan hukum dunia tersebut.
Di era modern ini, sains mulai sedikit demi sedikit menyingkap rahasia kecepatan cahaya dan dimensi ruang-waktu yang membuat peristiwa Isra Miraj terasa lebih masuk akal bagi para ilmuwan. Namun, kita tidak boleh menunggu sains membuktikannya baru kita percaya.
Isra Miraj adalah pengingat bahwa di atas langit ada langit, dan di atas akal ada wahyu. Mukjizat ini mengajak kita untuk sadar bahwa kemampuan berpikir manusia memiliki tepi, sementara kekuasaan Allah tidak memiliki tepi.
Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai momentum untuk memperbaiki shalat kita. Shalat adalah “Miraj”-nya orang mukmin, sebuah sarana bagi kita untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta.
Jika logika kita seringkali buntu menghadapi persoalan hidup, maka gunakanlah iman melalui sujud kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa menjaga keseimbangan antara cerdasnya akal dan teguhnya iman.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Isra dan Miraj Sebagai Sumber Inspirasi dan Hikmah”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah menganugerahkan mukjizat luar biasa kepada Nabi Muhammad SAW melalui perjalanan malam yang penuh berkah. Shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda Rasulullah, sosok yang menjadi teladan abadi bagi umat manusia dalam keteguhan hati dan kemuliaan akhlak.
Hadirin yang dirahmati Allah, isra dan miraj adalah perjalanan malam yang dilalui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam isra’, Rasulullah dibawa dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa oleh malaikat Jibril.
Ini menunjukkan betapa istimewanya Rasulullah, sebagai utusan Allah yang mendapatkan penghormatan untuk mengalami perjalanan semacam itu. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah bertemu dengan para nabi yang datang sebelumnya dan bersama-sama melaksanakan shalat, menunjukkan keesaan risalah dan kelanjutan petunjuk Allah dari satu generasi nabi ke generasi berikutnya.
Setelah isra’, Rasulullah mengalami miraj, perjalanan ke langit yang melibatkan tujuh lapis langit. Di setiap langit, Rasulullah bertemu dengan para nabi dan mendapatkan petunjuk dari Allah. Puncaknya adalah saat beliau berada di hadapan Allah, yang menetapkan shalat lima waktu sebagai kewajiban bagi umat Islam.
Dari kisah ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran. Pertama, kita diajak untuk lebih menghargai kedudukan shalat sebagai media utama dalam membangun kedekatan dengan Allah SWT. Kedua, peristiwa luar biasa ini menjadi sarana untuk merenungi bukti nyata kemahakuasaan Allah yang melampaui batas nalar manusia. Ketiga, kita didorong untuk meneladani keteguhan iman serta kesabaran luar biasa yang ditunjukkan Rasulullah SAW saat melewati berbagai ujian berat dan perjalanan yang penuh tantangan tersebut.
Semoga kita dapat memperdalam makna dan hikmah isra dan miraj dalam kehidupan sehari-hari kita. Mari kita tingkatkan kualitas shalat dan berusaha menjadi hamba yang lebih dekat dengan Allah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Meneladani Keteguhan Hati dan Akhlak Rasulullah SAW di Balik Peristiwa Isra Miraj”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Pada kesempatan kali ini, saya akan membawakan kultum yang mengulas tentang peristiwa Isra Miraj. Perjalanan agung ini dialami oleh Rasulullah SAW justru di saat beliau tengah didera kesedihan yang sangat hebat, yakni setelah wafatnya paman beliau, Abu Thalib, serta istri tercinta, Khadijah RA.
Tahun yang penuh duka tersebut juga menjadi masa-masa sulit dalam perjuangan dakwah Nabi. Bukannya mendapat dukungan, beliau justru menghadapi penolakan keras hingga tindakan fisik berupa lemparan batu dari orang-orang yang ditujunya.
Sebagai umatnya, kita sangat dianjurkan untuk meneladani kemuliaan akhlak Nabi Muhammad SAW. Beliau memperlihatkan keteguhan sikap yang mengagumkan, bahkan di saat nyawanya terancam dan keluarganya dibuat menderita oleh musuh-musuhnya.
Bukannya membalas dengan kekerasan, beliau malah mendoakan mereka beserta anak cucunya. Isra Miraj merupakan sebuah bukti dari kekuasaan-Nya.
Melalui perjalanan tersebut, Rasulullah disiapkan untuk bergerak ke babak kenabian berikutnya. Setelah memenuhi misinya, beliau pun sudah pulang dengan hati yang lega dan tenang.
Pelajaran berharga lainnya yang dapat kita ambil adalah bahwa perjalanan ini bukan sekadar perpindahan lokasi. Di dalamnya, Nabi Muhammad SAW menerima anugerah yang sangat istimewa, yakni perintah kewajiban shalat lima waktu setiap hari bagi seluruh umatnya.
Semoga dengan mencontoh kisah Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, kita dapat memperkuat keteguhan iman dan mengarahkan ibadah hanya kepada Allah SWT.
Demikian yang dapat saya sampaikan. Semoga apa yang saya sampaikan dapat bermanfaat bagi bapak, ibu, dan teman-teman semua. Kurang lebihnya mohon maaf dan sekali lagi terima kasih atas kesempatannya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Penyucian Hati sebagai Landasan Integritas dan Kesiapan Mengemban Amanah”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan kita kesempatan untuk kembali merenungi perjalanan agung Isra Miraj. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang jiwanya telah dipersiapkan Allah untuk menembus batas langit.
Hadirin yang dirahmati Allah, sebelum Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra Miraj, terdapat satu peristiwa krusial yang seringkali kita lewatkan maknanya. Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad SAW dan membersihkan hatinya dengan air zam-zam sebelum mengajaknya naik ke langit untuk Miraj.
Mengapa proses ini harus terjadi pada sosok semulia Rasulullah? Peristiwa pembelahan dada ini memberikan pelajaran besar tentang integritas dan penyucian hati.
Allah ingin mengajarkan kepada kita bahwa sebelum seseorang mengemban amanah besar-dalam hal ini perjalanan menghadap Sang Pencipta-maka wadahnya, yaitu hati, harus dibersihkan terlebih dahulu. Tidak boleh ada sisa kotoran duniawi, rasa benci, atau penyakit hati yang tersisa jika ingin mencapai kedudukan yang tinggi di sisi-Nya.
Dalam kehidupan kita sehari-hari, peristiwa ini adalah simbol bahwa integritas bermula dari dalam. Sebelum kita memimpin orang lain, sebelum kita memikul tanggung jawab pekerjaan, atau sebelum kita membangun rumah tangga, kita perlu melakukan “pembelahan dada” secara spiritual.
Kita harus membersihkan niat dari sifat riya, sombong, dan ketidakjujuran. Tanpa hati yang bersih, amanah sesederhana apa pun akan terasa berat dan berpotensi menjadi fitnah. Hikmah dari penyucian ini adalah bahwa kesuksesan lahiriah tidak akan bertahan lama tanpa kekuatan batiniah.
Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum Isra Miraj ini untuk mengevaluasi diri. Mari kita “basuh” hati kita dengan istighfar dan kejujuran.
Ingatlah bahwa setiap amanah yang kita pegang saat ini membutuhkan hati yang lapang dan bersih agar dapat dijalankan dengan penuh keberkahan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk menjadi pribadi yang berintegritas dan memiliki hati yang bening.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Dari Al-Haram ke Al-Aqsha: Masjid sebagai Pusat Kehidupan dan Simbol Persatuan Umat”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, pada kesempatan ini, mari kita bersama-sama merenung dan mengingat salah satu peristiwa paling luar biasa dalam sejarah Islam, yaitu isra dan miraj.
Hadirin yang dimuliakan Allah, jika kita merenungkan peristiwa Isra Miraj, ada satu detail yang sangat menarik untuk dianalisis: mengapa Allah memilih masjid sebagai titik berangkat dan titik tiba? Rasulullah tidak berangkat dari rumahnya, dan tidak pula tiba di sebuah istana atau puncak gunung, melainkan berangkat dari Masjidil Haram di Mekkah dan tiba di Masjidil Aqsha di Palestina.
Hal ini merupakan isyarat tegas bahwa masjid adalah titik pusat kehidupan seorang mukmin dan fondasi utama dari peradaban Islam. Pilihan dua masjid ini mengajarkan kita tentang pentingnya mencintai dan memakmurkan masjid. Masjid bukan sekadar tempat untuk sujud secara fisik, melainkan pusat energi untuk memperbaiki akhlak dan memperkuat iman.
Ketika Allah mengaitkan perjalanan suci ini dengan masjid, Dia seolah berpesan bahwa setiap langkah besar dalam hidup kita, setiap kesuksesan yang ingin kita raih, dan setiap masalah yang ingin kita selesaikan, seharusnya dimulai dari masjid dan kembali ke masjid. Selain itu, perjalanan dari satu masjid ke masjid lain melambangkan ukhuwah islamiyah atau persaudaraan Islam yang tanpa batas geografis.
Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha adalah simbol kesatuan umat manusia di bawah panji tauhid. Memakmurkan masjid berarti kita juga sedang merajut kembali tali persaudaraan antar sesama jamaah. Di masjid derajat manusia menjadi sama, berdiri berdampingan dalam shaf yang lurus, tanpa memandang status sosial maupun harta.
Sebagai penutup, mari kita tanyakan pada diri sendiri, seberapa besar keterikatan hati kita dengan masjid? Mari kita hidupkan kembali masjid-masjid di sekitar kita, bukan hanya bangunannya yang megah, tapi juga aktivitas ibadah dan sosial di dalamnya.
Semoga dengan kembali mencintai masjid, Allah memberikan keberkahan dalam hidup kita sebagaimana Ia memberkati sekeliling Masjidil Aqsha dalam perjalanan Isra Miraj.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Isra Miraj sebagai Inspirasi Kebangkitan Sains dan Teknologi Umat Islam”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam yang kekuasaan-Nya meliputi tujuh lapis langit dan segala isinya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, manusia pertama dalam sejarah peradaban yang melakukan perjalanan luar angkasa hingga menembus batas terjauh alam semesta, Sidratul Muntaha, dan kembali ke bumi dengan selamat.
Hadirin yang dimuliakan Allah, jika kita merenungkan peristiwa Isra Miraj, kita sedang membicarakan sebuah pencapaian luar biasa yang terjadi 1400 tahun yang lalu. Jauh sebelum manusia modern memimpikan pendaratan di bulan atau eksplorasi Mars, Rasulullah SAW telah terlebih dahulu membuktikan bahwa ruang angkasa dapat ditembus.
Ini adalah isyarat besar bagi umat Islam bahwa agama kita tidak hanya berbicara tentang ritual ibadah di atas sajadah, tetapi juga memberikan inspirasi tentang penaklukan sains dan teknologi tingkat tinggi. Peristiwa ini adalah “tantangan” bagi kita semua. Jika di zaman Nabi hal ini sudah terjadi melalui mukjizat, maka di era sekarang, ini merupakan pelajaran agar umat Islam tidak boleh tertinggal.
Kita dituntut untuk mandiri, belajar, dan bangkit. Kemajuan sebuah umat tidak hanya diukur dari kekuatan ekonomi, sosial, atau politiknya saja, tetapi juga dari sejauh mana umat tersebut menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan.
Penguasaan teknologi luar angkasa adalah simbol kecerdasan dan tolak ukur kemajuan sebuah bangsa. Isra Miraj seharusnya memicu semangat para pemuda Muslim untuk menjadi ilmuwan, insinyur, dan penemu masa depan.
Kita harus melek terhadap sains, karena alam semesta ini adalah laboratorium raksasa yang diciptakan Allah untuk kita pelajari. Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan zaman.
Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Isra Miraj kali ini sebagai momentum untuk memperkuat tekad dalam menuntut ilmu. Mari kita buktikan bahwa keimanan yang kuat dapat berdampingan dengan kecerdasan logika yang tajam. Semoga umat Islam kembali menjadi pionir dalam kemajuan peradaban dan teknologi demi kemaslahatan seluruh alam.
Simak berita ini dan topik lainnya di Giok4D.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Jihad Melawan Kemalasan Melalui Kedisiplinan Shalat Lima Waktu”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan ibadah. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW, teladan sejati yang membawa kita dari kegelapan menuju cahaya iman.
Hadirin yang dirahmati Allah, salah satu bagian paling berharga dari peristiwa Isra Miraj adalah sejarah turunnya perintah shalat. Mungkin kita ingat bagaimana Rasulullah SAW berulang kali memohon keringanan, dari awalnya lima puluh waktu hingga akhirnya hanya menjadi lima waktu dalam sehari semalam. Meski jumlahnya berkurang drastis, Allah menjanjikan bahwa nilai pahala lima waktu tersebut tetap setara dengan lima puluh waktu bagi mereka yang ikhlas menjalankannya.
Di balik cerita negosiasi itu, ada pesan besar bagi kita: shalat adalah bentuk jihad melawan kemalasan. Lima waktu sebenarnya adalah batas minimal yang sangat manusiawi agar kita tetap terhubung dengan Allah.
Namun, kenyataannya, menjalankan yang lima waktu ini pun seringkali terasa berat jika hati kita sudah terjangkit penyakit malas. Padahal, shalat adalah benteng pertahanan utama agar kita tidak mudah terjerumus dalam perbuatan buruk dan maksiat.
Dalam kehidupan sehari-hari, shalat mengajarkan kita tentang disiplin dan integritas. Ketika adzan berkumandang, kita diminta untuk menjeda sejenak semua urusan dunia demi menghadap Sang Pencipta.
Jika kita mampu mengalahkan rasa malas untuk berwudhu dan sujud, artinya kita sedang melatih mental untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah pada keadaan. Sebaliknya, saat seseorang mulai menyepelekan shalat, sebenarnya ia sedang memutus aliran energi positif dalam jiwanya.
Tanpa shalat, kita akan mudah merasa hampa, stres, dan kehilangan arah di tengah godaan dunia yang begitu besar. Shalat bukan sekadar rutinitas, tapi adalah kebutuhan bagi jiwa kita agar tetap tenang dan terjaga.
Sebagai penutup, mari kita jadikan peringatan Isra Miraj ini sebagai pengingat untuk tidak lagi menunda-nunda shalat. Mari kita lawan rasa malas itu demi menjaga hubungan baik kita dengan Allah. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang istiqomah dan dijauhkan dari segala keburukan.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Isra Miraj dalam Tinjauan Keimanan dan Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulillah, pada hari ini kita bisa bersama sama hadir dalam majlis yang mulia ini untuk memperingati suatu peristiwa yang sangat bersejarah, yaitu Isra dan Miraj Nabi Besar Muhammad SAW. Pada kesempatan ini, saya akan mengulas sebuah tema penting, yakni: Isra dan Miraj dalam tinjauan keimanan dan sudut pandang ilmu pengetahuan.
Peristiwa Isra dan Miraj adalah kisah yang tidak pernah lekang oleh waktu dan terus menjadi sumber inspirasi sejak masa Rasulullah SAW hingga hari ini. Di samping sisi inspiratifnya, peristiwa ini juga menghadirkan “tantangan” intelektual bagi para ahli tafsir dan kalangan ilmuwan, khususnya dalam upaya memahami serta menyingkap berbagai fakta ilmiah yang tersembunyi di balik fenomena luar biasa tersebut.
Peristiwa Isra terekam di dalam Kitab Suci AI-Qur’an, yaitu pada surat Al-Isra ayat 1:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya: “Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
Sedangkan peristiwa Miraj terekam dalam surah An-Najm ayat 13-18:
وَلَقَدْ رَآهُ نزلَةً أُخْرَى (13) عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى (14) عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى (15) إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى (16) مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى (17) لَقَدْ رَأَى مِنْ آيَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى (18
Artinya: “Dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat fibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat fibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”
Peristiwa Isra dan Miraj yang dialami oleh junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW sekitar 15 abad silam, telah menjadi penguat iman bagi Rasulullah SAW maupun seluruh umat Islam akan kemahakuasaan Allah SWT.
Segala sesuatu yang menjadi kehendak-Nya sangat mungkin untuk terwujud, sebab keluasan ilmu Allah jauh melampaui keterbatasan nalar manusia dalam memahaminya. Jika dibandingkan, seluruh ilmu pengetahuan yang dikuasai peradaban manusia hingga info ini hanyalah ibarat setetes air di ujung jari dibandingkan dengan luasnya samudera ilmu Allah.
Meski demikian, kisah Isra dan Miraj ini menyuguhkan tantangan sekaligus motivasi bagi para ilmuwan untuk mencoba menelaah dan memahami peristiwa tersebut melalui jalur logika. Dengan kekayaan khazanah sains yang telah terkumpul, sangatlah baik bagi para ilmuwan untuk memperkokoh keyakinan mereka dengan mencoba menjelaskan secara ilmiah berbagai fenomena alam ciptaan Allah SWT, termasuk rahasia yang tersimpan di balik peristiwa Isra dan Miraj ini.
Akhir kata mohon maaf jika ada kesalahan dan tutur kata yang salah dan tidak menjadi perkenan hadirin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Mengambil Hikmah dari Peringatan Isra Miraj”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Yang saya muliakan seluruh hadirin majelis istimewa ini. Mari kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT atas segala kebesaran-Nya, kita diberi kesempatan untuk berkumpul di hari yang cerah ini.
Sholawat dan salam juga kita berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Atas tuntunannya, kita bisa mengetahui kehidupan yang penuh dengan keimanan dan ketakwaan.
Hadirin yang dimuliakan Allah, saat ini kita berkumpul dalam rangka memperingati Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Sebuah peristiwa langka yang berada di luar nalar manusia.
Kita bisa mengetahui tentang kisah yang dijalani Rasulullah SAW pada tanggal 27 Rajab atau tahun 621 Masehi silam dari kandungan surah Al-Isra ayat 1 dan An-Najm ayat 13 sampai dengan 18. Meskipun sudah berlalu selama berabad-abad kemudian, peristiwa ini menjadi tonggak penting bagi Islam hingga melahirkan perintah sholat 5 waktu yang turun langsung dari Allah SWT.
Diceritakan, Isra Miraj diawali ketika Nabi didatangi Jibril, Mikail, dan malaikat lain. Mereka membawa air zamzam ke kediaman Rasul. Peristiwa berikutnya adalah proses penyucian hati Nabi dengan menggunakan air zamzam.
Selama perjalanan, Rasul menaiki Buraq yang berwarna putih. Dengan didampingi Jibril, Nabi memulai perjalanan mulai dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan menuju Sidratul Muntaha hanya dalam tempo semalam saja. Nabi Muhammad SAW sebenarnya mendapatkan perintah sholat 50 kali hingga dipotong menjadi 5 kali saja setiap hari.
Jamaah sekalian yang dipenuhi kebahagiaan, sebagai umat Islam, selayaknya kita memperingati peristiwa Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya berupa acara, namun juga senantiasa dapat mengambil segala hikmah dari kejadian langka tersebut.
Isra Miraj telah memberikan ketentuan terkait sholat wajib 5 waktu. Oleh karena itu, mari kita jalankan perintah Allah SWT ini dengan sebaik-baiknya.
Langkah yang bisa dilakukan ialah dengan tetap menjaga sholat setiap hari dan tepat waktu sampai kelak meninggal dunia. Selain itu, Isra Miraj juga memberikan pesan keimanan.
Melalui sebuah peristiwa yang berada di luar akal manusia, kita diuji untuk mempercayai kejadian langka tersebut. Setiap muslim wajib meyakini perjalanan yang hanya terjadi semalam hingga semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.
Peristiwa Isra Miraj tidak hanya sekedar dirayakan melalui pesta di mana pun kita berada. Lebih dari pada itu, hendaknya Isra Miraj menjadi motivasi untuk semakin meningkatkan ibadah dan amal perbuatan positif lainnya.
Sebagai seorang Muslim, mari kita selalu mengingatkan kepada diri sendiri dan saudara-saudara seiman untuk tetap berdiri di jalan kebenaran.
Demikian kultum singkat yang bisa saya sampaikan. Apabila ada salah tutur kata, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarokatuh.
“Refleksi Isra Miraj”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kita haturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga kita bisa berkumpul untuk mengambil hikmah dari peristiwa besar yang pernah terjadi di muka bumi ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad SAW, yang perjalanannya menuju langit menjadi pintu gerbang cahaya bagi seluruh umat manusia.
Hadirin yang dirahmati Allah, setiap tahun kita memperingati Isra Miraj, namun seringkali kita terjebak pada pengulangan kisah sejarahnya saja. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadikan peristiwa ini sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki kualitas diri kita?
Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik ke Sidratul Muntaha, bukan sekadar “wisata langit” bagi Rasulullah. Peristiwa ini adalah sebuah proses penguatan jiwa setelah beliau melewati tahun-tahun yang tidak mudah dan penolakan.
Refleksi pertama yang harus kita ambil adalah tentang kesabaran dalam menghadapi ujian. Kita tahu bahwa Isra Miraj terjadi pada Amul Huzni atau Tahun Kesedihan.
Rasulullah sedang berada di titik terendah dalam hidupnya secara manusiawi karena kehilangan pelindung dan pendamping hidupnya. Hikmahnya bagi kita adalah ketika dunia terasa sempit dan pintu-pintu di bumi seakan tertutup, maka pintu langit selalu terbuka lebar.
Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang berjuang sendirian. Isra Miraj adalah pesan bahwa kemuliaan akan datang tepat setelah kesabaran yang paling indah.
Refleksi kedua menyentuh aspek hubungan kita dengan Allah melalui shalat. Shalat adalah “Miraj” nya orang beriman. Jika Rasulullah harus menembus langit untuk bertemu dengan Allah, kita cukup berdiri tegak, bersedekap, dan bersujud untuk berkomunikasi dengan-Nya.
Namun, mari kita jujur pada diri sendiri: bagaimana kualitas shalat kita selama ini? Apakah shalat kita sudah menjadi sarana istirahat dari hiruk-pikuk dunia, atau justru shalat kita terasa seperti beban yang ingin cepat-cepat kita selesaikan?
Refleksi Isra Miraj mengajak kita untuk memulihkan kembali makna shalat sebagai waktu “pertemuan” yang paling kita rindukan, bukan sekadar kewajiban yang menggugurkan beban.
Refleksi ketiga adalah mengenai integritas di tengah keraguan. Saat Rasulullah kembali dan menceritakan pengalamannya, banyak orang yang menghina dan menganggapnya gila.
Namun, beliau tetap berdiri tegak menyuarakan kebenaran. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tetap teguh memegang prinsip iman dan kejujuran, meskipun lingkungan di sekitar kita mungkin tidak mendukung atau bahkan mencemooh. Menjadi pribadi yang benar memang tidak selalu mudah, namun itulah jalan yang ditempuh oleh para nabi.
Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum ini bukan hanya sebagai seremonial tahunan. Mari kita bawa semangat “naik ke atas” (Miraj) dalam setiap sisi kehidupan kita.
Naik dalam kualitas ibadah, naik dalam kemuliaan akhlak, dan naik dalam semangat menuntut ilmu. Semoga Allah senantiasa membimbing hati kita agar selalu terhubung dengan-Nya, sebagaimana hati Rasulullah yang selalu terpaut pada Rabb-nya dalam setiap hembusan napas.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Makna Spiritual Safar (Perjalanan): Transformasi dan Kedekatan kepada Allah Melalui Isra Miraj”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, pada kesempatan yang penuh berkah ini, kita akan mengulas tentang peristiwa Isra Miraj, suatu mukjizat besar yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa Isra Miraj terjadi pada malam yang penuh berkah, di mana Rasulullah melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan kemudian naik ke langit ketujuh. Ini adalah hadiah dari Allah untuk menghibur hati Rasul-Nya yang sedang dilanda kesedihan setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib.
Isra Miraj terbagi menjadi dua peristiwa utama, yaitu Isra (perjalanan malam) dan Miraj (kenaikan). Isra melibatkan perjalanan fisik Rasulullah dari Makkah ke Yerusalem, sementara Miraj adalah kenaikan beliau melewati langit-langit menuju Sidratul Muntaha. Peristiwa ini menjadi dasar dari kewajiban sholat lima waktu bagi umat Islam.
Hadirin yang dimuliakan Allah, peristiwa Isra Miraj adalah sebuah narasi tentang perjalanan atau safar. Jika kita bedah lebih dalam, Islam adalah agama yang sangat menghargai safar.
Banyak ibadah besar dalam agama kita yang menuntut perjalanan fisik, seperti Haji, Jihad, hingga menuntut ilmu. Melalui peristiwa Isra Miraj, Allah SWT ingin menunjukkan kepada kita bahwa ada hikmah-hikmah besar yang hanya bisa ditemukan ketika seseorang bergerak, berpindah, dan melakukan perjalanan.
Selain itu, kita bisa mengambil hikmah bahwa dalam menghadapi kesulitan hidup, melakukan “safar” atau jalan-jalan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad dapat membantu menemukan ide-ide luar biasa. Safar yang dimaksud di sini adalah perjalanan kepada hal-hal yang baik.
Selanjutnya, safar dalam Isra Miraj mengajarkan kita tentang pentingnya “meninggalkan zona nyaman” untuk mencapai kedudukan yang tinggi. Rasulullah SAW berangkat dari rumahnya menuju Masjidil Aqsa dan terus naik hingga ke Sidratul Muntaha.
Hal ini mencerminkan bahwa untuk mendapatkan ilmu, mendapatkan ketenangan, atau mencapai derajat kemuliaan di sisi Allah, kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan. Kita harus berani melangkah, berani menghadapi lelahnya perjalanan, dan berani meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang menghambat kemajuan spiritual kita.
Terakhir, mari kita ingat bahwa sejatinya kita semua di dunia ini adalah para musafir. Dunia ini bukanlah tempat tinggal, melainkan tempat meninggal.
Perjalanan hidup kita dari alam rahim menuju alam barzakh kelak adalah “safar” yang paling nyata. Isra Miraj memberikan harapan bahwa meskipun perjalanan itu berat, melelahkan, dan penuh tantangan, jika kita menjalaninya dengan iman, maka ujung dari perjalanan itu adalah pertemuan yang indah dengan Allah SWT di surga-Nya.
Sebagai penutup, mari kita jadikan momentum Isra Miraj ini sebagai motivasi untuk terus bergerak maju. Jangan biarkan diri kita berhenti belajar dan berhenti melakukan perjalanan menuju kebaikan.
Mari kita maknai setiap langkah kaki kita sebagai ibadah, dan setiap tempat yang kita singgahi sebagai saksi bahwa kita pernah sujud kepada-Nya. Semoga Allah memberkahi setiap perjalanan hidup kita dan mempertemukan kita kelak dalam perjalanan pulang menuju keridhaan-Nya.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
“Menyucikan Hati dan Memperbaiki Shalat Melalui Momentum Isra Miraj”
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saudara-saudari yang dirahmati Allah, pada kesempatan yang mulia ini, kita telah memasuki bulan Rajab, sebuah awal yang istimewa untuk menyambut keberkahan bulan-bulan berikutnya. Dalam menghargai bulan Rajab, mari kita bersama-sama merangkai amal saleh, istighfar, sedekah, puasa, dan berbagai ibadah lainnya.
Berdasarkan pandangan sejumlah ulama, bulan Rajab mempunyai arti yang istimewa: “Rajab merupakan masa untuk menanam, Syakban merupakan masa untuk menyiram, dan Ramadhan merupakan masa untuk memetik hasilnya.” Dengan demikian, hendaknya kita mempergunakan bulan ini secara optimal guna menyemai kebajikan dan ketaatan.
Selain itu, bulan Rajab memiliki keistimewaan dengan peristiwa Isra dan Miraj Nabi Muhammad. Perjalanan luar biasa ini mengajarkan kita tentang kesucian hati dan persiapan menjalani tugas-tugas agama, seperti yang dialami oleh Rasulullah sebelum menerima tugas sholat lima waktu.
Hati yang suci merupakan faktor utama dalam mencapai kekhusyukan saat beribadah shalat. Selaku umat Nabi Muhammad, sadarilah betapa krusialnya menyucikan batin sebelum datang menghadap Allah. Di samping itu, kita harus memikirkan betapa berartinya menunaikan shalat dengan sepenuh kekhusyukan, baik melalui gerakan lahiriah maupun kesadaran batiniah.
Sebagai bahan renungan, peristiwa Isra dan Miraj menjelaskan bahwa penyucian batin tersebut dilakukan bukan lantaran adanya noda, melainkan guna mempertinggi level kesucian jiwa yang sesungguhnya telah bersih. Kita wajib memelihara kemurnian batin dan mencapai kekhusyukan pada tiap-tiap shalat yang kita kerjakan.
Jika Rasulullah SAW saja, yang sudah dijamin kesuciannya, masih melalui proses pembersihan dada, maka apalagi kita manusia biasa yang setiap harinya tidak luput dari khilaf dan dosa. Pembersihan hati di bulan Rajab ini adalah modal utama agar kita tidak merasa “berat” saat memasuki Ramadhan nanti.
Bayangkan jika kita mencoba memanen di bulan Ramadhan, namun kita tidak pernah menanam bibit ketaatan di bulan Rajab dan tidak pernah menyiraminya di bulan Sya’ban. Tentu hasilnya tidak akan maksimal.
Oleh karena itu, mari kita jadikan setiap sujud dalam shalat kita sebagai sarana untuk terus “membasuh” hati. Mari kita jadikan shalat bukan hanya sebagai penggugur kewajiban, melainkan sebagai media untuk meningkatkan derajat kemuliaan kita di hadapan Allah SWT, sebagaimana Miraj telah mengangkat derajat Rasulullah ke tempat yang paling tinggi.
Semoga kita dapat mengambil pelajaran berharga dari bulan Rajab ini, membiasakan diri membersihkan hati sebelum menghadap Allah, dan menjalani sholat dengan khusyuk. Semoga kita semua diberi kemudahan dalam beribadah dan mendapatkan ridho-Nya. Amin.
Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nah, itulah 10+ contoh kultum Isra Miraj yang singkat dan panjang dalam berbagai tema. Semoga bermanfaat ya, infoers!







